Top 5 This Week

Related Posts

Pemkab Rote Ndao Siapkan 18 Hektare Lahan untuk Pengembangan Integrated Farming

Doc Foto Lokasi Mbule lima desa Oeleka. 2026

ROTE NDAO | KOMPAS.SBS – Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, mulai menyiapkan pengembangan Integrated Farming atau pertanian terpadu sebagai salah satu model pengembangan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Rencana itu dibahas saat Pemerintah Kabupaten Rote Ndao (Sekda) Dani W. Nalle, S.Pt  bersama tiga kepala dinas terkait meninjau lokasi yang direncanakan menjadi kawasan percontohan Integrated Farming di Desa Oeleka, Kamis (13/08/2026).

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Rote Ndao, Nixon Molelanik Balukh, SP, M.Si, mengatakan, pengembangan pertanian terpadu merupakan salah satu prioritas dalam agenda perubahan pemerintah daerah melalui program Rote Ndao Bertani.

“Hari ini kita hadir bertiga, yaitu Kepala Dinas Pertanian, Kepala Dinas Perikanan, dan Kepala Dinas Peternakan. Kita datang untuk melihat lokasi yang direncanakan menjadi tempat pelaksanaan Integrated Farming,” kata Nixon.

Menurut dia, Integrated Farming akan dikembangkan melalui dua pola.

Pertama, pertanian terpadu berbasis kawasan dengan skala ekonomi. Lokasi yang ditinjau tersebut memiliki luas sekitar 18 hektare.

Kedua, pertanian terpadu berbasis rumah tangga dengan memanfaatkan lahan atau pekarangan masyarakat.

“Integrated Farming akan dikembangkan melalui dua pola. Pertama, berbasis kawasan dengan luasan yang berskala ekonomi. Lokasi yang sekarang kita tinjau kurang lebih 18 hektare. Kemudian, pola kedua memanfaatkan lahan atau pekarangan rumah tangga,” ujarnya.

Tidak Hanya Pertanian Kepala Dinas Perikanan Yeanes Riwu, S.Pi mengatakan, konsep Integrated Farming tidak hanya berorientasi pada sektor pertanian.

Menurut dia, pertanian terpadu juga harus mengintegrasikan sektor peternakan dan perikanan serta memiliki aspek edukasi dan pariwisata.

“Konsep Integrated Farming bukan hanya aspek pertanian. Ada aspek pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, dan edukasi. Semua harus kita kemas sedemikian rupa sehingga dapat dilakukan secara terpadu,” katanya.

Untuk sektor perikanan, pemerintah daerah berencana mengembangkan sejumlah komoditas yang dinilai memiliki nilai ekonomi dan pasar yang jelas.

Beberapa komoditas yang dipertimbangkan antara lain ikan lele, ikan nila, dan udang galah.

“Komoditas yang kita pilih harus memiliki nilai ekonomis penting dan pasar yang jelas. Artinya, komoditas tersebut harus diterima oleh pasar,” ujarnya.

Ia mengatakan, kawasan tersebut nantinya diharapkan menjadi model percontohan yang dapat dikembangkan di wilayah lain.

Jika model tersebut berhasil, pemerintah daerah dapat menjadikannya sebagai standar untuk diterapkan di kecamatan, desa, maupun masyarakat.

“Kalau berhasil, nanti kita memiliki satu standar untuk dapat diduplikasi ke daerah lain atau kepada masyarakat. Kita ingin menunjukkan bahwa dengan kondisi budidaya seperti ini, pendapatan dapat meningkat dan masyarakat bisa lebih sejahtera,” katanya.

Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Rote Ndao, Hermanus Haning, S.Pt., M.M mengatakan, konsep pertanian terpadu memungkinkan sektor pertanian, peternakan, dan perikanan saling mendukung.

Menurut dia, komoditas yang dapat dikembangkan antara lain sapi, ikan, dan ayam petelur.

“Pertanian terpadu merupakan konsep yang menggabungkan sektor pertanian, perikanan, dan peternakan,” kata Hermanus.

Ia mencontohkan pengembangan ayam petelur yang dapat dikombinasikan dengan budi daya ikan. Namun, penerapannya masih membutuhkan kajian dan pembahasan teknis lebih lanjut.

Hermanus berharap kawasan tersebut dapat menjadi pusat percontohan yang melahirkan aktivitas ekonomi baru bagi masyarakat.

“Jadi, kita harapkan dari tempat ini lahir ekonomi baru bagi masyarakat. Paling tidak, sektor pertanian, peternakan, dan perikanan di Rote dapat berubah pola menuju pertanian terpadu,” ujarnya.

Sementara itu, tokoh masyarakat sekaligus pelaku usaha, Mekris Nalle, menilai pengembangan Integrated Farming di Rote Ndao perlu dimulai dari komoditas yang memiliki potensi besar dan mudah diintegrasikan.

Mekris yang mengaku memiliki latar belakang ekonomi serta pernah mengikuti pendidikan vokasi di IPB itu mengusulkan integrasi antara peternakan sapi dan tanaman jagung.

Menurut dia, limbah tanaman jagung dapat dimanfaatkan sebagai salah satu sumber pakan sapi. Sebaliknya, kotoran sapi dapat diolah menjadi pupuk organik untuk mendukung kegiatan pertanian.

“Integrated Farming System sudah tepat. Untuk tahap pertama, kita fokus pada kegiatan hulu. Misalnya, integrasi antara sapi dan jagung. Limbah jagung dapat dimanfaatkan untuk pakan sapi, sedangkan kotoran sapi dapat digunakan kembali untuk pertanian,” kata Mekris.

Ia juga mengusulkan agar pengembangan peternakan tidak hanya berfokus pada penggemukan sapi, tetapi juga mencakup pembibitan.

Dengan demikian, kebutuhan sapi untuk pengembangan peternakan dapat dipenuhi secara berkelanjutan dan tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari luar daerah.

Mekris juga mendorong pemanfaatan limbah peternakan sebagai bahan baku biogas.

Menurut dia, pengolahan limbah tersebut dapat mendukung pengembangan energi baru terbarukan sekaligus memberikan manfaat tambahan bagi masyarakat di sekitar kawasan.

Guru Besar UNSTAR, Prof. Yusup L. Henuk, Ph.D., mengatakan pengembangan Integrated Farming perlu didukung kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dan tenaga ahli.
Menurut dia, pemerintah daerah perlu memanfaatkan peluang kerja sama dengan UNSTAR dan Institut Pertanian Bogor (IPB) untuk membangun kawasan percontohan yang sesuai dengan kondisi Rote Ndao.

Dalam pembahasan tersebut, nama Prof. Asnath M. Fuah dari IPB disebut sebagai salah satu tenaga ahli yang memiliki kompetensi di bidang pembibitan dan pengembangan sistem pertanian terpadu.
Prof. Yusup mengatakan konsep Integrated Farming sebaiknya tidak berhenti pada kegiatan produksi, tetapi harus dikembangkan dengan orientasi pasar.”Ke depan, kita jangan hanya berorientasi pada produksi, tetapi harus berorientasi pada pasar,” kata Prof. Yusup.

Ia juga menilai kawasan Integrated Farming dapat dikembangkan sebagai lokasi edukasi dan pariwisata.
Masyarakat dapat datang untuk melihat secara langsung proses pertanian, peternakan, dan perikanan yang dilakukan secara terpadu.

“Jadi, kawasan ini bukan hanya menghasilkan produk pertanian, peternakan, dan perikanan, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kawasan edukasi dan pariwisata,” ujarnya.

Selain rencana pengembangan Integrated Farming, dalam pembahasan tersebut juga disinggung rencana pembangunan Sekolah Rakyat di kawasan yang sama.

Menurut Soni Otta Staf Aset, Pemerintah Kabupaten Rote Ndao disebut telah menyiapkan perencanaan dan mengajukan proposal pembangunan Sekolah Rakyat kepada Kementerian Sosial.

Apabila rencana tersebut disetujui, lahan yang tersedia akan disesuaikan peruntukannya. Sebagian lahan dapat digunakan untuk pengembangan Integrated Farming, sedangkan sebagian lainnya diperuntukkan bagi Sekolah Rakyat.

Karena lahan tersebut merupakan aset pemerintah daerah, status dan peruntukannya perlu dipastikan melalui koordinasi dengan perangkat daerah yang menangani bidang aset.

Pemerintah Kabupaten Rote Ndao selanjutnya diharapkan dapat mengintegrasikan perencanaan antara sektor pertanian, peternakan, perikanan, pendidikan, serta potensi wisata agar kawasan tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

Pengembangan kawasan Integrated Farming di Desa Oeleka diharapkan menjadi langkah awal untuk membangun model pertanian terpadu yang dapat direplikasi di wilayah lain di Kabupaten Rote Ndao.

Popular Articles