Top 5 This Week

Related Posts

Fandy Ashari Wael, Anak Raja M. Fuad Wael: Saya Meneruskan Amanah Leluhur

 

Fandy Ashari Wael menegaskan dirinya sebagai anak kandung Raja M. Fuad Wael dan cucu dari Ishak Wael. Penegasan itu disampaikan Fandy di Namlea ketika berbicara mengenai amanah dan keberlanjutan kepemimpinan adat di Petuanan Kaiely, Senin, (28/9/2026)

Bagi Fandy, garis keturunan bukan sekadar identitas keluarga. Di dalamnya terdapat amanah yang menurutnya harus diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

“Saya Fandy Ashari Wael, Raja Petuanan Kaiely, anak kandung Raja M. Fuad Wael, cucu dari Ishak Wael,” ujar Fandy di Namlea.

Ia mengatakan, almarhum M. Fuad Wael memang telah meninggal dunia. Namun, bagi dirinya, kepergian sang ayah tidak berarti berakhirnya amanah yang telah diwariskan.

“Almarhum M. Fuad Wael sudah mangkat, tetapi sesungguhnya tidak, karena M. Fuad Wael telah ada di diri saya,” katanya.

Sebagai anak pertama Raja M. Fuad Wael, Fandy menyatakan dirinya berkewajiban melanjutkan amanah kepemimpinan yang menurutnya telah diwariskan secara turun-temurun di Petuanan Kaiely.

“Perintah kepemimpinan di Petuanan Kaiely secara turun-temurun, dari zaman ke zaman sampai dengan sekarang, saya sebagai anak pertama dari Raja M. Fuad Wael meneruskan atau melanjutkan amanah itu sebagai Raja,” tegasnya.

Menurut Fandy, apa yang diterimanya bukan sekadar sebuah gelar, melainkan tanggung jawab yang harus dijaga.

“Segala amanah itu akan saya pegang dan saya jalankan,” ujarnya.

Darah Keturunan dan Amanah Leluhur

Dalam pernyataannya, Fandy juga menghimbau Bobator, Hinolong, Kaksodin, Matatemun, serta seluruh pemangku adat Petuanan Kaiely, baik dari dataran pesisir, dataran rendah maupun dataran tinggi, agar memegang pesan yang telah diwariskan para leluhur.

Ia mengingatkan bahwa sejarah adat tidak seharusnya diubah hanya karena kepentingan tertentu.

Fandy juga menegaskan bahwa persoalan yang dibicarakannya tidak hanya berkaitan dengan Gunung Botak.

“Ini bukan saja masalah tentang Gunung Botak atau hal-hal yang kemudian orang lain membuat kita seperti tanah yang kepala kita diinjak-injak. Tapi ini tentang harga diri,” katanya.

Bagi Fandy, harga diri anak adat melekat pada kemampuan menjaga warisan leluhur.

Karena itu, ia kembali mengingatkan nilai ifutin atau lestari sebagai bagian dari identitas dan harga diri masyarakat adat.

“Saya ingatkan lagi bahwa ifutin atau lestari yang ada di kepala itu adalah harga diri kita sebagai anak adat di negeri ini,” tegasnya.

Dengan membawa nama M. Fuad Wael sebagai ayah dan Ishak Wael sebagai kakek, Fandy menyatakan dirinya berdiri untuk meneruskan amanah yang menurutnya telah diwariskan dalam garis keluarganya.

Bagi Fandy, sang ayah boleh telah tiada, tetapi amanahnya tetap hidup—dan ia menyatakan dirinya sebagai anak yang meneruskan amanah tersebut.

Popular Articles