ROTE NDAO | KOMPAS.SBS – Di tengah kesibukan menggembalakan jemaat dan menghadapi beragam persoalan pelayanan, para pendeta membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak, saling mendengar, dan kembali menguatkan satu sama lain.
Ruang itu hadir melalui Temu Akrab Sahabat Gembala Tahun 2026 Teritori Rote–Sabu yang digelar di Oehandi dan Oeseli, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, 28 September hingga 2 Oktober 2026.
Mengusung tema “Dipanggil untuk Menggembalakan, Diutus untuk Bersahabat”, kegiatan tersebut mempertemukan ratusan pendeta GMIT dari Rote Ndao dan Sabu Raijua dalam satu ruang persekutuan, refleksi, pembinaan, dan kebersamaan.
Sebanyak 257 peserta inti mengikuti kegiatan tersebut. Mereka terdiri atas 240 pendeta GMIT se-Teritori Rote–Sabu serta 17 orang dari Majelis Sinode Harian, Sekbid Sinode, dan narasumber. Dari 240 pendeta, sebanyak 47 orang berasal dari Sabu Raijua dan 193 orang dari Rote Ndao.
Wakil Ketua Sinode GMIT, Pdt. Saneb Yohanis Ena Blegur, S.Th., mengatakan Temu Akrab Sahabat Gembala digelar sebagai ruang untuk memperkuat persekutuan dan membangun kembali relasi antarpelayan.
Menurutnya, kesibukan pelayanan dan berbagai persoalan yang dihadapi jemaat terkadang membuat para pendeta memiliki keterbatasan waktu untuk membangun kebersamaan dengan sesama pelayan.
Karena itu, kegiatan tersebut mempertemukan para pendeta dari berbagai klasis dalam satu teritori pelayanan.
Pertemuan itu diharapkan menjadi kesempatan bagi para pendeta untuk saling menyapa, berbagi pengalaman, mendengarkan pergumulan, dan memberikan dukungan satu sama lain.
“Dipanggil untuk menggembalakan, diutus untuk bersahabat” menjadi pesan utama agar pelayanan tidak dijalani seorang diri.
Temu Akrab Sahabat Gembala tidak hanya berisi kegiatan ibadah dan pertemuan. Panitia juga menghadirkan psikolog untuk membantu para pendeta mengenali dan memulihkan kondisi batin mereka.
Pdt. Saneb menjelaskan, pendampingan tersebut penting karena para pendeta menghadapi berbagai tekanan, baik dalam pelayanan maupun kehidupan keluarga.
Ruang refleksi dan pendampingan diharapkan membantu para pelayan melihat kembali kondisi diri, memperbarui semangat, serta meneguhkan komitmen terhadap panggilan pelayanan.
Secara teologis, kegiatan tersebut mengambil inspirasi dari teladan Yesus Kristus yang di tengah kesibukan pelayanan tetap menyediakan waktu untuk berdoa, mengasingkan diri, dan membangun kembali komitmen terhadap panggilan-Nya.
Sementara itu, sambutan Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H., yang dibacakan Pj. Sekretaris Daerah Kabupaten Rote Ndao Daniel Welhelmus Nalle, S.Pt., menyampaikan apresiasi terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menilai Temu Akrab Sahabat Gembala menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan, memperkuat kebersamaan, dan membangun jejaring pelayanan antarpedeta GMIT.
Dalam sambutan tersebut, Bupati juga menekankan pentingnya peran gereja dan para pelayan Tuhan dalam membangun kerukunan, memperkuat kepedulian sosial, serta mendukung pembangunan daerah melalui sinergi dengan pemerintah dan masyarakat.
Ia berharap persahabatan yang terbangun selama kegiatan tidak berhenti setelah peserta kembali ke tempat pelayanan masing-masing.
Ketua Klasis GMIT Rote Barat Daya, Pdt. Esry Epiana Pono, S.Th., mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Majelis Sinode GMIT Tahun Pelayanan 2026.
Sebagai tuan rumah, Klasis Rote Barat Daya berkomitmen mempererat persekutuan, memperkenalkan wilayah pelayanan Rote Barat Daya, serta memperkuat para pendeta melalui pembinaan dan berbagi pengalaman pelayanan.
Ia berharap para pelayan dapat saling mengenal, mendukung, dan menguatkan dalam menghadapi berbagai pergumulan pelayanan.
Dengan begitu, para pendeta dapat kembali ke jemaat masing-masing dengan semangat baru untuk memulihkan dan menguatkan kehidupan jemaat.
Ketua Panitia Pelaksana, Joni A. Adu, mengatakan kegiatan berlangsung selama lima hari, yakni 28 September hingga 2 Oktober 2026, di Oehandi dan Oeseli.
Rangkaian kegiatan meliputi ibadah dan refleksi bersama, penyampaian materi, peer counseling, sharing bersama Majelis Sinode Harian GMIT, malam kesenian dari 10 klasis, rekreasi, ibadah penyegaran iman, serta api unggun dan komitmen bersama.
Selain penguatan spiritualitas dan persaudaraan, para peserta juga dijadwalkan melakukan penanaman mangrove di Desa Oeseli.
Kegiatan tersebut menjadi bentuk kepedulian gereja terhadap lingkungan sekaligus menghubungkan panggilan pelayanan dengan tanggung jawab menjaga ciptaan.
Sejumlah narasumber yang terlibat dalam kegiatan tersebut antara lain Dita Manafe, M.Psi., Pdt. Dr. Nursini Sihombing, Majelis Sinode Harian GMIT, dan Pdt. Semuel Pandie, M.Th.
Kebutuhan anggaran kegiatan mencapai Rp195.850.000. Dana tersebut bersumber dari Majelis Sinode, sumbangan wajib peserta Sahabat Gembala, sumbangan wajib Timpel, sumbangan sukarela 34 mata jemaat Klasis Rote Barat Daya, dukungan Bupati Rote Ndao, dan para donatur.
Panitia menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, Majelis Sinode GMIT, Pengurus Teritori Rote–Sabu, para ketua majelis klasis, jemaat-jemaat di Klasis Rote Barat Daya, narasumber, serta seluruh pihak yang mendukung kegiatan tersebut.
Di Oehandi, para gembala tidak hanya dipertemukan dalam sebuah agenda gerejawi. Mereka juga diberi kesempatan untuk sejenak keluar dari rutinitas pelayanan, mendengar cerita sesama, merefleksikan kembali panggilan, dan menemukan kekuatan dalam persahabatan.
Harapannya, ketika kembali ke jemaat masing-masing, para pendeta tidak hanya membawa kenangan tentang sebuah pertemuan, tetapi juga semangat baru untuk menggembalakan, kekuatan untuk menghadapi pergumulan, dan komitmen untuk terus berjalan bersama dalam pelayanan.
Tuhan memberkati Gereja, Teritori Rote–Sabu, serta masyarakat Rote Ndao dan Sabu Raijua.
