Kompas.sbs | Rote Ndao – Kolaborasi Ibadah Minggu yang berlangsung di Jemaat GMIT Petra Oederas, Minggu (12/7/2026), menghadirkan pelayan firman, Pdt. Yetti P. V. Henukh, S.Th., M.Pd, dari GKKI Paulus Lomba, Kalimantan Barat. Dalam khotbah bertema “Bertekun dan Mengandalkan Tuhan”, ia mengajak jemaat membangun kehidupan yang berpusat pada iman serta memperkuat pendidikan rohani di lingkungan keluarga.
Mengusung fokus bulan pendidikan gereja, Pdt. Yetti menegaskan bahwa keluarga merupakan sekolah pertama bagi setiap anak, sedangkan ayah dan ibu adalah guru pertama yang bertanggung jawab membentuk karakter, iman, dan masa depan anak-anak.
“Keluarga adalah tempat pertama anak belajar. Apa yang dilakukan orang tua setiap hari akan dilihat, ditiru, dan menjadi kebiasaan anak-anak mereka,” ujarnya di hadapan jemaat.
Menurutnya, keteladanan orang tua jauh lebih berpengaruh daripada sekadar nasihat. Karena itu, orang tua diminta meninggalkan kebiasaan buruk seperti mabuk, berjudi, melakukan kekerasan dalam rumah tangga, maupun perselingkuhan agar tidak diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Kalau hari ini ada yang masih hidup dalam kebiasaan yang tidak baik, berhentilah sampai pada kita. Jangan biarkan anak-anak mewarisi pola hidup yang salah,” katanya.
Dalam khotbahnya, Pdt. Yetti mengutip ajaran Alkitab bahwa orang tua harus mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak secara berulang-ulang. Ia menilai pendidikan iman tidak cukup dilakukan sesekali, tetapi harus menjadi kebiasaan yang terus dibangun melalui doa keluarga dan pembacaan firman Tuhan setiap hari.
Ia juga mengajak setiap keluarga membangun mezbah doa sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari agar anak-anak sejak dini mengenal Tuhan dan bertumbuh dalam hikmat.
Mengacu pada Surat Yakobus, Pdt. Yetti menjelaskan bahwa setiap orang percaya harus meminta kepada Tuhan dengan iman, bukan dengan hati yang bimbang. Menurutnya, iman bukan berarti memaksa Tuhan memenuhi semua keinginan manusia, melainkan percaya bahwa Tuhan mengetahui yang terbaik bagi setiap orang.
“Tuhan kadang menjawab doa dengan segera, kadang meminta kita menunggu, bahkan menutup satu jalan karena sedang mempersiapkan jalan yang lebih baik,” tuturnya.
Ia mengingatkan bahwa hati yang bimbang akan mudah berpaling kepada berbagai sandaran lain ketika menghadapi persoalan hidup. Karena itu, umat diajak tetap mengandalkan Tuhan dalam setiap keadaan.
Sebagai ilustrasi, Pdt. Yetti menggambarkan seorang anak kecil yang berani menyeberangi jembatan di atas sungai deras karena tangannya dipegang oleh sang ayah. Menurutnya, demikian pula kehidupan orang percaya yang tetap berjalan dengan tenang karena percaya kepada Tuhan yang memegang hidup mereka.
Dalam kesempatan itu, Pdt. Yetti juga membagikan pengalaman pribadinya sebagai seorang ibu. Ia mengaku selalu mendoakan kedua anaknya sejak masih berada dalam kandungan dengan menumpangkan tangan dan memberkati mereka setiap hari.
Ia mengatakan kebiasaan tersebut terus dilakukan setiap pagi sebelum anak-anak berangkat ke sekolah sebagai bentuk penyerahan hidup mereka kepada Tuhan.
“Saya percaya doa orang tua tidak pernah sia-sia. Warisan terbaik yang dapat diberikan kepada anak bukanlah harta, melainkan iman yang akan menuntun mereka sepanjang hidup,” ungkapnya.
Menurutnya, harta benda dapat habis, tetapi iman akan tetap menjadi bekal yang menolong anak menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Menutup khotbahnya, Pdt. Yetti mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan keluarga sebagai tempat utama pembentukan karakter dan kehidupan rohani anak-anak melalui keteladanan, doa, pengajaran firman Tuhan, dan kehidupan yang takut akan Tuhan.
Ia berharap setiap orang tua mampu membangun generasi yang kuat dalam iman sehingga dapat menjadi berkat bagi gereja, masyarakat, dan bangsa.
Ibadah kolaborasi tersebut berlangsung dengan khidmat dan diakhiri dengan doa syafaat bersama agar setiap keluarga diberikan hikmat, ketekunan, serta kekuatan untuk terus mengandalkan Tuhan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

