MAKASSAR – KOMPAS. Bom waktu masalah sampah di Kota Makassar kembali meledak! Kali ini, tumpukan sampah yang membusuk dan telantar di area pedagang ayam musiman di Jalan Kumala Raya, Kelurahan Bungaya, Kecamatan Tamalate, sukses memicu amarah warga.
Kinerja bertele-tele petugas kebersihan di wilayah tersebut kini menjadi sorotan tajam dan menuai kecaman keras.
Kondisi di lapangan dilaporkan sudah mencapai tahap yang sangat memprihatinkan.
Tumpukan karung berisi limbah pasar dibiarkan menggunung selama berhari-hari tanpa ada tindakan nyata dari pihak kecamatan.
Alhasil, area berdagang kini berubah menjadi ladang bau busuk yang menyengat hidung dan mengancam kesehatan.
Seorang pedagang yang menjadi korban, Hengky, meluapkan kekesalannya yang mendalam.
Ia mengaku benar-benar buntu dan telantar akibat ketidak jelasan sistem pengangkutan sampah ini.
“Kalau sampah tidak diambil, saya mau buang ke mana.? Saya juga bingung!” cetus Hengky dengan nada frustrasi, Rabu (27/5/2026).
Ironisnya, pembiaran ini terjadi justru di saat para pedagang tengah mengais rezeki musiman menjelang Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah—momen krusial yang hanya terjadi sekali dalam setahun.
Hengky bahkan sudah mencoba mencari solusi mandiri dengan menyewa bentor, namun berakhir zonk karena ketiadaan kepastian regulasi dari pemerintah setempat.
“Saya sudah minta bantu bentor, tapi dia juga tidak tahu mau dibuang ke mana Takutnya malah bermasalah,” keluhnya mendesak.
Evaluasi Total atau Copot!
Pantauan mengerikan di lokasi memperlihatkan pemandangan kumuh dengan belasan karung sampah yang berjejer rapi bak monumen kegagalan pelayanan publik.
Menanggapi diskriminasi dan carut-marut ini, Hengky meminta Wali Kota Makassar segera turun tangan tanpa kompromi untuk mengevaluasi total, bahkan mencopot petugas kebersihan Kecamatan Tamalate yang dinilai makan gaji buta.
“Kami ini cuma cari rezeki musiman, jangan sampai urusan sampah justru jadi beban yang tidak jelas!” tegasnya membakar situasi.
Camat Tamalate Malah Pertanyakan Retribusi
Di sisi lain, respons dingin justru datang dari Camat Tamalate, Aril Syahbani.
Bukannya langsung mengerahkan pasukan oranye untuk membersihkan ancaman penyakit tersebut, ia justru melempar tanya mengenai status pembayaran para pedagang.
“Dia bayar retribusi atau tidak? Nanti saya coba cek apa alasannya sehingga sampahnya tidak diangkut,” kilah Aril saat dikonfirmasi.
Sikap birokrasi yang dinilai kaku dan lamban ini diprediksi akan terus memicu gelombang protes dari masyarakat jika tumpukan sampah yang mengancam kesehatan warga tersebut tidak segera dievakuasi. (*)

