Doc Foto Dr. Anderias Henukh, M.Pd., putra Kampung Mundek, Kabupaten Rote Ndao.2026
ROTE NDAO | KOMPAS.SBS — Perjalanan pendidikan Dr. Anderias Henukh, M.Pd., dari Kampung Mundek, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), menjadi kisah tentang perjuangan, kesempatan, dan ketekunan.
Semasa kecil, Anderias harus berjalan kaki sekitar tujuh kilometer melewati hutan tanpa alas kaki untuk bersekolah. Kini, anak Kampung Mundek itu berhasil meraih gelar doktor dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung dengan predikat cumlaude pada 20 Agustus 2026.
Kisah perjuangan tersebut dibagikan Anderias dalam acara syukuran bersama keluarga dan masyarakat yang digelar di Kampung Mundek, Kabupaten Rote Ndao, pada Jumat (04/09/2026).
Dalam acara tersebut, Anderias berdiri di hadapan keluarga, para guru, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan masyarakat setempat. Ia mengenang masa kecil ketika keterbatasan ekonomi membuat perjalanan pendidikan harus dilalui dengan penuh perjuangan.
Doc Foto syukuran.2026
Saat bersekolah di SD Inpres Balaoli, Anderias harus berjalan kaki dari Oelufa menuju sekolah. Jarak sekitar tujuh kilometer ditempuh dengan berjalan kaki melewati kawasan hutan, bahkan tanpa alas kaki.
Meski menghadapi keterbatasan, semangat belajarnya terus tumbuh. Ia bahkan mengenang masa sekolahnya dengan penuh canda ketika bercerita tentang pengalaman bersama teman-temannya yang pernah bolos sekolah.
“Teman-teman saya tidak naik kelas, tetapi karena saya punya kesempatan belajar, sambil makan buah kusambi, saya bisa naik kelas,” kenangnya.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar, Anderias melanjutkan pendidikan di SMP ITA ESA dan SMA Negeri 1 Kupang. Ia kemudian menempuh pendidikan sarjana di UNIKA Kupang, magister di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), hingga pendidikan doktoral di UPI Bandung.
Perjalanan pendidikan itu tidak selalu berjalan mudah. Saat berada di perantauan, Anderias pernah menjadi guru honorer dengan penghasilan yang sangat terbatas.
Untuk mengikuti perkuliahan, ia harus bangun sekitar pukul 04.00 dan menggunakan transportasi umum menuju kampus.
Berbagai keterbatasan tersebut tidak membuatnya menyerah. Sebaliknya, pengalaman sebagai anak kampung menjadi dorongan untuk membuktikan bahwa latar belakang dan tempat asal bukanlah penghalang untuk meraih pendidikan tinggi.
Saat menempuh Program Studi Pendidikan IPA, Anderias juga menghadapi tantangan karena program studi tersebut tidak banyak mahasiswa yang bisa selesai tepat waktu
“Saya harus berusaha kera membuktikan kepada guru-guru besar bahwa walaupun kami dari kampung, kami mampu,” ucapnya.
Bukan Kesombongan, Melainkan Motivasi
Anderias mengatakan keberhasilannya meraih gelar doktor bukan untuk menyombongkan diri. Ia ingin pencapaian tersebut menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya anak-anak di kampung, agar berani memanfaatkan kesempatan pendidikan.
“Ini bukan kesombongan diri dan bukan pula kebanggaan diri. Ini adalah semangat dan motivasi bagi adik-adik semua. Tunjukkan bahwa di mana pun dan kapan pun, ketika kita memiliki kesempatan, kita siap dan kita mampu,” katanya.
Ia mengingatkan generasi muda agar tidak minder karena berasal dari kampung. Menurutnya, kesempatan harus dimanfaatkan dengan sungguh-sungguh melalui kemauan belajar dan kerja keras.
Kenang Jasa Para Guru
Dalam acara syukuran tersebut, Anderias juga memberikan penghargaan kepada para guru yang dinilainya memiliki peran penting dalam perjalanan pendidikannya.
Ia menyampaikan terima kasih kepada guru-guru yang telah mendidik sekaligus membuka jalan bagi dirinya hingga dapat mencapai pendidikan tertinggi.
“Saya sangat merasakan jasa dan peran penting guru-guru dalam kehidupan dan pendidikan kita. Tanpa jasa para guru, mungkin saja saya tidak akan berdiri di sini,” tuturnya.
Anderias juga menyampaikan terima kasih kepada keluarga dan masyarakat yang selama ini memberikan dukungan. Ia berharap hubungan kekeluargaan dan semangat saling menopang terus dipertahankan untuk mendukung generasi muda.
Menurutnya, sejumlah anak muda dari kampung tersebut juga telah mengikuti jejak menjadi guru. Kondisi itu dinilainya sebagai modal penting bagi pembangunan pendidikan di daerah.
Harapan untuk Kampung Halaman
Anderias berharap keberhasilannya dapat menjadi bagian dari semangat bersama untuk membangun Kampung Mundek dan Kabupaten Rote Ndao.
Ia mengajak masyarakat, terutama generasi muda, untuk terus belajar, bekerja keras, dan saling mendukung.
Dalam pesannya, Anderias mengutip Kitab Amsal 23:18 sebagai pengingat bahwa setiap orang memiliki masa depan dan harapan.
“Karena masa depan sungguh ada dan harapanmu tidak akan hilang.”
Bagi Anderias, gelar doktor yang diraihnya bukanlah akhir dari perjalanan. Pencapaian itu justru menjadi dorongan untuk terus memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, dan daerah asalnya.
Kisahnya dari seorang anak kampung yang dahulu berjalan kaki sekitar tujuh kilometer melewati hutan tanpa alas kaki untuk bersekolah hingga meraih gelar doktor dengan predikat cumlaude menjadi gambaran bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti mengejar cita-cita.

