BANTAENG – KOMPAS. Suasana di pusat pemerintahan Kabupaten Bantaeng mendadak memanas Aliansi Sipakatau bersama Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB) Raya kembali turun ke jalan menggelar aksi unjuk rasa besar-besaran.
Aksi yang sedari awal diantisipasi ketat oleh Kesbangpol, Satpol PP, dan aparat kepolisian ini sempat diwarnai ketegangan tinggi dan aksi nekat para demonstran.
Pemicu Ketegangan : Rebutan Papan Atribut Kantor Bupati Tensi mulai meninggi saat massa aksi merangsek masuk ke area Kantor Bupati Bantaeng. Selasa 02/06/2016
Situasi nyaris lepas kendali ketika sejumlah mahasiswa mencoba memasang baliho tuntutan mereka langsung di atas papan atribut resmi Kantor Bupati.
Melihat tindakan tersebut, Kasat Pol PP Bantaeng, Mursalim, S.Sos., M.Si., langsung mengambil tindakan tegas menghalau salah seorang pendemo.
Perseteruan fisik dan adu mulut antara mahasiswa dan personel Satpol PP pun tak terhindarkan di lapangan.
“Kami ini menjalankan tugas mengamankan, bukan cari ribut. Silakan demo, asal tertib!” tegas Mursalim saat dikonfirmasi di lokasi kejadian.

Jeritan Warga Babangin : “Perbaiki Jalan Kami!” Di tengah riuhnya kepungan mahasiswa, hadir pula perwakilan masyarakat yang menyuarakan penderitaan warga pelosok.
Salah seorang warga Dusun Babangin, Desa Pa’bumbungan, Kecamatan Eremerasa, mengungkapkan kekecewaannya terhadap infrastruktur jalan menuju desanya yang rusak parah.
Mereka menuntut keadilan akses jalan yang layak dari pemerintah daerah massa aksi kemudian bergeser mengepung Kantor DPRD Bantaeng untuk membawa aspirasi tersebut ke meja legislatif.
Tanggapan PUPR Soal Jalan dan Isu “Efisiensi Dana”
Di ruang sidang aspirasi DPRD, massa diterima oleh sejumlah anggota dewan serta Kabid Jalan dan Jembatan Dinas PUPR Bantaeng, Minarni, ST. Menanggapi tuntutan jalan dari warga Babangin, Minarni memberikan klarifikasi mengenai status kewenangan anggaran.
“Aspirasi yang ditujukan adalah jalan rintisan atau jalan tani, sedangkan kami di kabupaten hanya menyelenggarakan akses jalan kabupaten.
Jadi sebaiknya akses jalan Babangin yang dimaksud diusulkan terlebih dahulu oleh kepala desanya ke tingkat kabupaten,” jelas Minarni.
Lebih lanjut, Minarni membeberkan kondisi keuangan daerah yang saat ini tengah mengalami penyusutan ekstrem. “Baru sekarang ini masa efisiensi, dan bukan saja Bantaeng yang merasakan, tetapi semua daerah mengalami pemotongan anggaran (refocusing).
Jadi semua aspirasi kami terima dan akan kami sampaikan ke pimpinan, sebab kami ini hanya bawahan,” tambahnya.
Yang disayangkan: Mahasiswa Nekat Panjat Tembok Parlemen
Meskipun jalannya penyampaian aspirasi sempat diapresiasi oleh Kakan Kesbangpol Bantaeng, A. Irvandi Langgara, S.S.T.P., M.Si., karena korlap aksi, Akbar, dinilai kooperatif tidak menutup jalan protokol ataupun membakar ban, namun akhir dari aksi ini justru menyisakan catatan merah.
Sejumlah pihak menyayangkan sikap para pendemo yang setelah keluar dari ruang sidang aspirasi, justru kembali menggelar orasi provokatif bahkan nekat memanjat tembok Kantor DPRD Bantaeng.
Tindakan anarkis minor tersebut dinilai tidak mencerminkan sikap kaum intelektual.
Sebagai mahasiswa dan calon sarjana yang kelak akan menjadi pejabat publik, mereka dinilai harus tetap profesional, menjaga etika, serta menghormati lembaga legislatif sebagai simbol perwakilan rakyat.
Laporan. : Suarni Kabiro Bantaeng Sulsel

