Kompas, Kota Bitung |Suasana keakraban dan kebanggaan menyelimuti Jalan Yos Sudarso Nomor 85, Kelurahan Bitung Tengah, Kecamatan Maesa, Kota Bitung, pada Jumat pagi (24/07/2026).
Dalam acara peresmian revitalisasi Monumen Pahlawan Samudera yang kini bertransformasi menjadi Taman Angkatan Laut Bitung, terlihat sosok gagah Letkol Inf Ade Rohmat Wahyudin, S.I.P., M.H.I., M.Sc.,
Komandan Sekolah Calon Tamtama (Secata) Rindam XIII/Merdeka. Mengenakan Seragam PDL TNI yang prima, kehadiran perwira TNI Angkatan Darat ini bukan sekadar formalitas, melainkan simbol nyata soliditas dan persaudaraan antarmatra dalam mendukung program strategis TNI Angkatan Laut di wilayah Sulawesi Utara.
Kedatangan Dansecata Rindam XIII/Merdeka disambut hangat oleh Komandan Komando Daerah Maritim (Kodaeral) VIII, Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla., yang didampingi oleh Wakil Komandan Kodaeral VIII Laksamana Muda TNI Tony Herdijanto, S.E., M.Sc., serta Danguskamla Koarmada III Laksamana Pertama TNI Elmondo Samuel Sianipar, M.Tr.Opsla.
Kehadiran para pejabat utama Kodaeral VIII dan perwakilan TNI AD ini menegaskan bahwa pelestarian sejarah dan penataan ruang publik adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen pertahanan negara.
Dalam keterangannya, Letkol Inf Ade Rohmat Wahyudin menyampaikan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada TNI Angkatan Laut, khususnya Kodaeral VIII Manado, atas inisiatif mulia merevitalisasi kawasan bersejarah ini.
Menurutnya, langkah ini tidak hanya mempercantik wajah kota, tetapi juga memperkuat ikatan batin antara masyarakat sipil, TNI AD, dan TNI AL.
“Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi untuk TNI AL khususnya Kodaeral VIII Manado atas kerja keras dan dedikasi dalam mewujudkan taman yang indah ini. Kehadiran kami di sini adalah bentuk dukungan penuh dari TNI AD.
Semoga solidaritas seperti ini terus terjalin, karena kekuatan bangsa terletak pada persatuan seluruh komponen bangsa,” ujar Dansecata dengan nada hangat dan penuh semangat kekeluargaan.
Ia berharap Taman Angkatan Laut Bitung dapat menjadi destinasi edukasi sejarah bagi generasi muda dan ruang interaksi sosial yang nyaman bagi warga, sekaligus menjadi bukti bahwa Bitung adalah kota maritim yang bangga akan warisan leluhurnya.
Sementara itu, Kepala Satuan Patroli Kordaeral VIII (Dansatrol Kodaeral VIII), Kolonel Laut (P) Marvill Marvel Frits, E.D., S.E., M.Tr.Hanla., CHRMP., yang memimpin langsung pelaksanaan revitalisasi, menjelaskan detail transformasi monumen berusia 62 tahun tersebut.
Ia menuturkan bahwa pengerjaan dilakukan secara intensif selama sekitar 17 hari oleh prajurit Satrodar VIII bersama Fasilitas Pemeliharaan dan Perbaikan Kapal (Fasharkan), Satua Patroli Kodaeral VIII, di bawah pengawasan ketat Komandan Satroli Kodaeral VIII dan pengawas lapangan Letda Laut Daniel.
“Revitalisasi ini meliputi restorasi fisik monumen, perbaikan relief bersejarah yang sempat pudar, pengecatan ulang, pemasangan instalasi listrik dan pencahayaan artistik, penataan drainase agar bebas banjir, pengecoran area sekitar, penanaman vegetasi hijau, pembangunan jalur pedestrian yang aman, hingga penyediaan ruang publik khusus untuk pelaku UMKM,” papar Kolonel Marvil Marvel Frits.
Ia menambahkan bahwa posisi strategis Kota Bitung sebagai kota maritim menjadi pertimbangan utama. Transformasi ini bertujuan mempercantik kawasan bersejarah sekaligus memperingati Hari Ulang Tahun Kodaeral VIII, menjadikan taman ini sebagai landmark baru yang fungsional dan estetis.
Kemudian juga, dalam sambutannya, Komandan Kodaeral VIII Laksamana Muda TNI Dery Triesananto Suhendi, S.E., M.Tr.Opsla, menegaskan bahwa revitalisasi Monumen Pahlawan Samudera merupakan bentuk nyata sinergi berbagai pihak dalam menjaga memori kolektif bangsa sekaligus menghormati jasa para pahlawan kebaharian.
“Monumen ini menjadi pengingat bahwa laut bukan hanya pemersatu Nusantara, tetapi juga saksi bisu perjuangan putra-putra terbaik bangsa dalam mempertahankan kehormatan Indonesia.
Salah satunya adalah Samuel Languyu, putra daerah Bitung, yang bersama Komodor Yos Sudarso dan para prajurit lainnya mengukir sejarah kepahlawanan dalam Pertempuran Laut Aru pada masa Operasi Trikora,” ujar Laksda TNI Dery Triesananto Suhendi.
Ia menambahkan, Taman Angkatan Laut Bitung diharapkan menjadi ruang edukasi sejarah bagi generasi muda agar semakin memahami nilai perjuangan, keberanian, loyalitas, serta semangat pengabdian para pahlawan dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Selain fungsi edukatif, keberadaan taman ini juga diharapkan mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar melalui meningkatnya kunjungan wisata.
“Kami berharap Taman Angkatan Laut ini dapat menjadi penggerak tumbuhnya UMKM, membuka peluang usaha baru, menciptakan lapangan pekerjaan, serta menggerakkan roda perekonomian masyarakat Kota Bitung,” katanya.
Mengakhiri sambutannya, Dankodaeral VIII menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Bitung, Forkopimda, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta seluruh pihak yang telah mendukung proses revitalisasi hingga peresmian Taman Angkatan Laut Bitung.
Mewakili Wali Kota Bitung Hengky Honandar S.E,. Staf Ahli Bidang Hukum dan Politik Pemerintah Kota Bitung, Richie Tinangon, S.STP, M.Si., menyampaikan apresiasi atas inisiatif Kodaeral VIII dalam menjaga salah satu ikon sejarah Kota Bitung.
Menurutnya, Monumen Pahlawan Samudera telah lama menjadi bagian penting dari identitas kota.
Penataan kembali kawasan tersebut bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bentuk komitmen bersama dalam melestarikan nilai sejarah, budaya, serta memperkuat identitas Bitung sebagai kota maritim dan wilayah pertahanan negara.
Pemerintah Kota Bitung juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan, keamanan, dan fasilitas yang telah dibangun agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Peresmian Taman Angkatan Laut Bitung ini adalah contoh indah bagaimana instansi militer dapat berkontribusi langsung pada keindahan tata kota dan kesejahteraan rakyat.
Ketika relief-relief pahlawan samudera diperbaiki dan lampu-lampu taman dinyalakan, sejarah tidak lagi menjadi sesuatu yang kaku di buku teks, melainkan hidup dalam setiap sudut taman yang dikunjungi warga.
Kehadiran Letkol Inf Ade Rohmat Wahyudin dari TNI AD di tengah acara TNI AL adalah pesan kuat: bahwa di balik seragam yang berbeda warna, hati mereka berdetak sama untuk Indonesia.
Bagi taman ini adalah hadiah kebersamaan. Bagi pelaku UMKM, ini adalah peluang ekonomi baru. Dan bagi bangsa, ini adalah pengingat bahwa laut adalah masa depan, dan sejarah adalah akar yang harus dijaga.

