BANTAENG – KOMPAS. Gejolak di tubuh Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bantaeng akhirnya mencapai puncak yang mendebarkan.
Setelah sempat melakukan aksi nekat menutup kantor karena menolak pelantikan Suwardi sebagai Direktur Definitif oleh Bupati Bantaeng, mental para karyawan yang membangkang kini dikabarkan runtuh.
Ancaman keras mengenai kebijakan Merumahkan Karyawan” (PHK) bagi siapa saja yang terus mogok kerja, sukses membuat para demonstran kebakaran jenggot.
Takut kehilangan pekerjaan, mereka akhirnya berbondong-bondong menghadap Bupati Bantaeng untuk memohon maaf.
Kantor Mulai Dibuka, Pelayanan Dipindahkan Sementara
Saat dikonfirmasi via telepon mengenai situasi terkini, Direktur Definitif PDAM Bantaeng, Suwardi, membenarkan bahwa roda organisasi sempat dialihkan demi menjaga pelayanan masyarakat.
“Sementara ini, kami berkantor di Kantor Kolam Renang Be’lang untuk urusan administrasi.
Kantor yang di Jalan Gagak sebenarnya sudah terbuka, tetapi khusus untuk melayani pengaduan masyarakat terkait air yang tidak mengalir,” ujar Suwardi.
Suwardi juga membenarkan perihal gelombang karyawan yang mulai “balik kanan” dan menghadap ke Bupati Bantaeng untuk meminta maaf atas aksi boikot yang mereka lakukan.
Namun, meski Bupati Bantaeng menyambut baik permohonan maaf tersebut, posisi para karyawan ini rupanya belum aman.
Bupati dengan tegas memerintahkan sang Direktur untuk melakukan evaluasi total berdasarkan daftar nama karyawan yang terlibat aksi pembangkangan tersebut.
Salah satu Tokoh Masyaraka Mengatakan “Maaf Tidak Menghapus Luka, Mereka Sudah Mempermalukan Bupati!”
Aksi unjuk rasa dan teriakan para karyawan di jalanan beberapa waktu lalu dinilai sudah kelewat batas.
Salah satu tokoh masyarakat Bantaeng yang peduli terhadap pemerintah (meminta identitasnya dirahasiakan) mengecam keras perilaku para karyawan tersebut.
Menurutnya, tindakan berteriak di jalanan telah menginjak harga diri kepala daerah.
“Jadi, kata maaf itu belum tentu menghilangkan rasa sakit atas ulah yang mereka perbuat.
Mereka sampai berteriak di jalanan dan mempermalukan Bupati selaku penguasa tertinggi di Kabupaten Bantaeng! Bupati itu orang baik, berpendidikan tinggi, dan tahu apa yang terbaik untuk masa depan daerah ini.
Tindakan karyawan itu sangat tidak etis,” cetus sang tokoh masyarakat dengan nada geram.
Direktur Siap Polisikan Karyawan Diduga Korupsi Duit Pelanggan!
Penderitaan kelompok karyawan yang membangkang tampaknya tidak berhenti pada ancaman pemecatan saja Kasus ini berpotensi menggelinding ke ranah hukum pidana.
Suwardi membeberkan temuan mengejutkan mengenai adanya dugaan tindak pidana korupsi atau penggelapan yang dilakukan oleh oknum internal di tengah kekisruhan ini.
Seorang karyawan berinisial AS diduga kuat nekat menilap dana setoran dari pelanggan baru-baru ini.
“Ada salah satu karyawan berinisial AS yang diduga mengambil dana penyetoran pelanggan. Terkait hal ini, kemungkinan besar kami siap melaporkannya ke Aparat Penegak Hukum (APH) untuk diproses secara pidana,” tegas Suwardi mengakhiri wawancapara.
Kini, nasib para karyawan yang sempat berada di barisan “pemberontak” berada di ujung tanduk.
Alih-alih berhasil menggulingkan direktur, mereka kini justru dihantui dua ancaman besar sekaligus: Kehilangan pekerjaan (di-rumahkan) atau mendekam di balik jeruji besi.
Laporan : Team

