Top 5 This Week

Related Posts

“Saat Aku Bersuara”GuncangLayarLebarIndonesia:KisahPenyintasKekerasanSeksualMenolakDibungkam,MenuntutKeadilan

JAKARTA,Kompas.Sbs – Industri perfilman Indonesia kembali menghadirkan karya yang tidak sekadar menghibur, tetapi juga menggugah kesadaran publik terhadap isu sosial yang selama ini kerap diselimuti stigma dan budaya diam,Film “Saat Aku Bersuara”, garapan sutradara Sonu Samtani dengan naskah yang ditulis Tisa TS, hadir sebagai potret perjuangan penyintas kekerasan seksual dalam melawan ketidakadilan dan budaya bungkam yang masih mengakar di masyarakat.

Dijadwalkan tayang serentak di seluruh bioskop Indonesia mulai 18 Juni 2026, film produksi Arjuna Mega Films, Rain Creation, dan Lex Pictures ini membawa pesan kuat tentang keberanian untuk bersuara di tengah sistem yang kerap gagal memberikan perlindungan bagi korban.

Mengusung genre drama dengan pendekatan emosional yang mendalam, Saat Aku Bersuara mengikuti perjalanan hidup Nadia yang diperankan Marshanda, seorang pengacara muda berbakat dengan karier yang tampak gemilang, Kehidupannya yang terlihat sempurna setelah dilamar sang kekasih, Reza (Nino Fernandez), berubah drastis ketika firma hukum tempatnya bekerja memenangkan perkara yang menyeret putra seorang pengusaha kaya sebagai terduga pelaku pemerkosaan.

Konflik batin Nadia semakin memuncak ketika dirinya justru menjadi korban dalam sebuah peristiwa traumatis yang bermula dari niatnya membantu sahabat dekatnya, Andien (Rini Yulianti), Dari titik inilah, film mulai menyingkap realitas pahit yang sering dialami para penyintas: tekanan sosial, stigma, hingga perjuangan panjang mencari keadilan.

Bersama Riana (Hana Malasan) dan Adrian (Ibnu Jamil), seorang Jaksa Penuntut Umum yang menyimpan luka akibat kegagalan sistem hukum, Nadia berusaha bangkit dan merebut kembali kendali atas hidupnya, Di saat yang sama ia juga harus memperbaiki hubungan yang renggang dengan ayahnya, yang diperankan Teuku Rifnu Wikana.

Lebih dari sekadar drama keluarga atau kisah perjuangan individu, Saat Aku Bersuara menjadi refleksi atas kenyataan yang dihadapi banyak penyintas kekerasan seksual di Indonesia, Film ini secara berani mengangkat isu trauma, victim blaming, ketimpangan hukum, hingga budaya bungkam yang sering kali justru melindungi pelaku dan menyudutkan korban.

Kehadiran film ini menjadi pengingat bahwa keberanian untuk berbicara dapat menjadi awal perubahan besar,Pesan utama yang diusung sangat jelas: tidak ada penyintas yang seharusnya berjuang sendirian, dan dukungan dari keluarga, sahabat, serta lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam proses pemulihan.

“Saat Aku Bersuara bukan sekadar film, melainkan ajakan untuk mendengarkan, memahami, dan berpihak pada mereka yang selama ini memilih diam karena takut tidak dipercaya,” demikian semangat yang diusung melalui karya ini.

Diperkuat jajaran aktor dan aktris papan atas Indonesia, film ini juga menjadi momen spesial karena mempertemukan kembali Marshanda dan Ibnu Jamil dalam satu film layar lebar untuk pertama kalinya setelah terakhir kali bekerja sama dalam sinetron lebih dari 16 tahun lalu, Selain itu, film ini turut dibintangi Lukman Sardi, Cut Mini, Lydia Kandou, Omar Daniel, serta Unique Priscilla.

Dengan narasi yang menyentuh sekaligus relevan dengan kondisi sosial saat ini, Saat Aku Bersuara berpotensi menjadi salah satu film Indonesia paling penting tahun 2026, Bukan hanya karena keberaniannya mengangkat isu sensitif, tetapi juga karena kemampuannya menumbuhkan empati dan mendorong masyarakat untuk tidak lagi menutup mata terhadap perjuangan para penyintas kekerasan seksual.

Mulai 18 Juni 2026, film ini mengajak publik untuk memahami satu hal penting: diam bukanlah solusi, dan keberanian untuk bersuara bisa menjadi langkah pertama menuju keadilan serta harapan baru.

Popular Articles