
Manado,Kompas.sbs. – Aktivitas masyarakat di sekitar Jembatan Kayaa terganggu akibat penutupan akses jalan yang dilakukan dalam rangka pekerjaan Rehabilitasi jembatan kaiya oleh PT. TATA TOU NUSTAR. Penutupan tersebut menuai keluhan dari para pengguna jalan karena dinilai tidak terkoordinasi dengan baik dan berpotensi membahayakan keselamatan.
Sejumlah saksi di lapangan menyebutkan bahwa akses jembatan ditutup menggunakan dua kendaraan besar yang diparkir di tengah jembatan, sementara pintu masuk juga diblokir. Kondisi ini menyebabkan antrean panjang kendaraan dari kedua arah, bahkan hampir menimbulkan insiden serius ketika sebuah ambulans yang hendak melintas tidak dapat melewati jembatan.

“Saat itu ambulans sudah di depan, tapi tidak bisa lewat karena jalan benar-benar tertutup. Ini sangat berbahaya karena menyangkut keselamatan nyawa,” ujar salah satu pengguna jalan. Penutupan ini disebut berlangsung lebih lama dari yang disampaikan pihak terkait.
Kepala Balai Jalan Sulawesi Utara, saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, menyatakan bahwa penutupan hanya dilakukan selama satu jam dan tidak bersifat permanen. Namun, berdasarkan keterangan para sopir dan warga yang berada di lokasi, penutupan berlangsung lebih dari satu jam, bahkan mendekati dua jam.
“Sudah hampir dua jam kami menunggu. Tidak ada kejelasan kapan dibuka,” ungkap seorang sopir truk yang terjebak antrean.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan terkait kepatuhan terhadap regulasi pekerjaan jalan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 2004 tentang Jalan serta peraturan turunannya, setiap pekerjaan jalan yang berdampak pada lalu lintas wajib dilengkapi dengan manajemen rekayasa lalu lintas, termasuk pemberian informasi yang jelas kepada masyarakat, penyediaan jalur alternatif, serta prioritas bagi kendaraan darurat seperti ambulans, pemadam kebakaran, dan kepolisian.
Selain itu, dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), disebutkan bahwa pelaksana pekerjaan wajib memastikan keselamatan dan kelancaran pengguna jalan selama proses berlangsung.
Ketika ditanya lebih lanjut mengenai dasar aturan penutupan serta prosedur pengamanan lalu lintas yang diterapkan, Kepala Balai Jalan Sulut tidak memberikan tanggapan lanjutan.
Warga berharap pihak terkait dapat lebih transparan dan profesional dalam melaksanakan pekerjaan infrastruktur, terutama yang menyangkut akses publik vital seperti jembatan. Mereka juga meminta adanya evaluasi agar kejadian serupa tidak terulang, terlebih jika berpotensi menghambat layanan darurat.
“Perbaikan jalan itu penting, tapi jangan sampai mengorbankan keselamatan dan kepentingan masyarakat,” tutup salah satu warga. (Meidi)

