Top 5 This Week

Related Posts

Nyawa Melayang di Kamar Perawatan, SOP Keamanan RS Wahidin Dipertanyakan

MAKASSAR — KOMPAS. Gelombang amarah membara di Kota Daeng. Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Elang Timur Indonesia mengepung dan mengguncang stabilitas RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar bersama aliansi mahasiswa dalam aksi unjuk rasa besar-besaran yang dijadwalkan melumpuhkan akses vital jalanan selama lima hari berturut-turut: 6, 7, 10, 11, dan 12 Agustus 2026.

Aksi ekstrem ini digelar sebagai bentuk kemarahan puncak atas tragedi berdarah dan dugaan skandal keselamatan pasien:

insiden pengeroyokan tragis di dalam kamar perawatan yang merenggut nyawa korban, serta aksi penikaman brutal antarpasien di Ruang Infection Center yang sebelumnya memicu horor di dalam fasilitas medis terbesar di Indonesia Timur tersebut.

Tragedi Mencekam di Ruang Perawatan: Dari Penikaman Hingga Nyawa Melayang

Insiden kelam bermula pada 13 Juni 2026, ketika Ruang Infection Center RSUP Wahidin Sudirohusodo mendadak berubah menjadi arena berdarah.

Seorang pasien berinisial NS (45), yang diduga mengalami tekanan jiwa berat akibat penyakit ginjal kronis, secara nekat menusuk sesama pasien berinisial J (55).

Korban mengalami luka robek serius di tangan kanan akibat sabetan benda tajam, sementara pelaku yang sempat dirawat di ruang ICU kini berstatus tersangka di bawah pengawasan ketat kepolisian.

Namun, rentetan kekerasan di dalam ruang inap tidak berhenti di situ. Dugaan pengeroyokan misterius yang mengakibatkan nyawa pasien melayang kini menjadi pemantik utama meledaknya kemarahan massa.

Ketua Umum DPP Elang Timur, Imran SE, menegaskan bahwa penyerangan dan kejahatan di dalam rumah sakit adalah cermin kegagalan fatal sistem keamanan dan pengawasan medis saat dikonfirmasi awak media pada Rabu (5/8/2026),

Imran melontarkan seruan perang terhadap kelalaian keselamatan medis.

“Jangan biarkan nyawa melayang hanya karena kekerasan dan kelalaian! Lawan ketidakadilan, tegakkan kemanusiaan! Bersatu melawan kekerasan! Keadilan harga mati!” tegas Imran dengan nada berapi-api.

Dalam tuntutan ekstremnya, aliansi massa mendesak tiga poin krusial:

Pengusutan Tuntas & Transparan: Kepolisian wajib membongkar dalang dan pelaku pengeroyokan serta penikaman secara profesional tanpa ada yang ditutup-tutupi.

Copot Oknum & Direktur Utama: Mendesak Kementerian Kesehatan RI untuk segera mencopot Direktur RSUP Wahidin Sudirohusodo serta menjatuhkan sanksi pemecatan kepada oknum petugas yang terbukti lalai menjaga keselamatan pasien.

Pembentukan Tim Independen: Mendorong hadirnya tim pengawas independen dari luar manajemen untuk mengaudit total standar operasional prosedur (SOP) keamanan rumah sakit.

Ancaman Kelumpuhan Jalur Trans-Sulawesi

Gelombang protes yang diawali kritikan tajam dari Komisariat Barisan Muda Kesehatan Indonesia (BMKI) ini kini dipastikan membakar kawasan strategis Kota Makassar.

Aksi demonstrasi terpusat di Jalan Perintis Kemerdekaan, Makassar, yang dimulai pukul 10.00 WITA. Massa mengancam tidak akan membubarkan diri dan siap menduduki lokasi hingga seluruh tuntutan dipenuhi secara mutlak.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen RS. Dr. Wahidin Sudirohusodo masih memilih bungkam dan belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait gelombang tuntutan tersebut.

Meski langkah perketatan pemeriksaan barang bawaan pengunjung mulai diberlakukan pasca-penikaman, massa menilai tindakan tersebut sangat terlambat dan formalitas belaka dibanding hilangnya nyawa manusia. (**)

 

 

Popular Articles