Top 5 This Week

Related Posts

Melestarikan Budaya Perkerisan, Paguyuban Paseban Risangaji Rutin Adakan Ngaji Budoyo Tosan Aji

 

KUTOARJO, KOMPAS.SBS — Paguyuban Paseban Risangaji menggelar kegiatan rutin selapanan bertajuk Ngaji Budoyo Tosan Aji, yang berlangsung penuh kekhidmatan dan semarak di Pendhopo Kutoarjo, Sabtu malam, 26 September 2026. Acara dimulai pukul 20.00 WIB dan dihadiri luas oleh anggota paguyuban serta masyarakat umum yang antusias melestarikan warisan leluhur. Giat acara ini adalah rutin diadakan tiap bulan di Pendhopo Kutoarjo.

Kegiatan ini mengusung empat topik utama: silaturahmi antarpecinta budaya, konsultasi seputar tosan aji, gelar pusaka, hingga pemahaman mendalam tentang pemaharan benda-benda keramat peninggalan budaya bangsa.

Suasana kian syahdu dengan iringan seni karawitan dari grup Mekarsari asal Desa Seren, Kecamatan Gebang, yang diasuh oleh Bapak Sakito.

Rangkaian acara berjalan tertib dan khidmat. Diawali dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, acara kemudian dibuka oleh pembawa acara Sariman, S.Pd.

Dalam sambutannya, Ketua Paguyuban Widjonarko, S.Sos., MM., menyampaikan harapan agar kegiatan ini terus menjadi ruang hidup bagi generasi untuk mengenali, mencintai, dan menjaga warisan budaya luhur.

Sambutan juga disampaikan oleh tokoh paguyuban Grahito Ganjar, S.H., yang menekankan pentingnya kebersamaan dalam menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Acara dilanjutkan dengan pembacaan doa yang dipimpin Bapak Sutarman, semoga acara berjalan lancar hingga usai.

Selanjutnya adalah pembacaan Kidung Jatimulia yang dibawakan oleh Sesuseno, Grahito Ganjar, Sutarman, dan Isma’un.

Sesuai namanya, bagian inti malam itu adalah sesi Ngaji Budaya yang menghadirkan dua narasumber yang mumpuni. Pertama, Ki Sunarko yang memaparkan luas tentang seluk-beluk kebudayaan Jawa dan makna filosofis di baliknya.

Kemudian, KRT Unggul Pambudi, abdi Keraton Surakarta, yang mendalami peserta dengan penjelasan lengkap seputar dunia perkerisan — mulai dari teknik pembuatan, nilai estetika, hingga makna spiritual yang terkandung di balik keris sebagai pusaka bangsa.

Sebagai penutup, terselenggara sesi diskusi interaktif di mana peserta dapat bertanya langsung kepada para pemateri, bertukar pengalaman, serta memperdalam pemahaman tentang pelestarian budaya di tengah kehidupan bermasyarakat masa kini.

Masyarakat yang hadir tampak antusias mengikuti setiap sesi, tak hanya mendengarkan, tetapi juga berkesempatan berkonsultasi langsung seputar tosan aji serta menyaksikan gelar pusaka yang ditampilkan.


Dengan terselenggaranya kegiatan ini, Paguyuban Paseban Risangaji kembali membuktikan bahwa budaya luhur bangsa tetap dijaga dan dihidupkan — bukan sekadar kenangan masa lalu, melainkan menjadi kekuatan pemersatu di masa kini.

(SBE)

Popular Articles