Kompas.sbs Kota Kupang. “Maknai kemerdekaan dengan karya nyata, bukan sekedar retorika.” Kalimat sederhana namun mendalam ini disampaikan Dra. Safirah Cornelia Abineno saat ditemui awak media di kediamannya di bilangan Naikoten, Kota Raja, Kota Kupang, Minggu 17 Agustus 2026.
Wanita tangguh yang telah mengabdikan diri sebagai “Pahlawan tanpa tanda jasa” ini memaknai Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia dari sudut pandang pendidikan.
Sebagai mantan Kepala Sekolah SMKN 5, Safirah memahami betul dinamika menjadi seorang pemimpin di lingkungan sekolah. Baginya, amanah sebagai pendidik adalah bentuk nyata mengisi kemerdekaan.
“Iya jadi saya cerita sedikit sejarah ya. Saat itu saya dilantik menjadi Kepala Sekolah SMKN 5 pada 7 Mei 2019, oleh Wakil Gubernur NTT saat itu. Sebagai ASN saya menerima itu sebagai amanah dan tanggung jawab besar yang harus saya jalankan,” ungkap Safirah.
Meski berat, amanah tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk membuat terobosan demi kemajuan sekolah.
“Semua itu tidak lantas membuat saya merasa terbebani, justru semakin memotivasi saya untuk bagaimana bisa membuat berbagai terobosan terbaik demi kemajuan sekolah,” tambahnya.
Dedikasi dan kerja kerasnya membuahkan hasil. Di bawah kepemimpinannya, SMKN 5 Kupang berhasil menjadi perbincangan di seluruh penjuru Nusantara. Puncaknya, Presiden RI ke-7 Ir. Joko Widodo berkunjung ke sekolah tersebut dan memberikan kado istimewa berupa unit mobil untuk menunjang kegiatan praktik siswa.

“Bagi saya, itulah bentuk nyata memaknai kemerdekaan. Bukan hanya upacara dan pidato, tetapi bagaimana kita benar-benar bekerja, berkarya, dan memberi manfaat bagi generasi penerus bangsa, walaupun tidak mudah dalam praktek nyatanya, karena walaupun saya sudah berusaha sebaik-baiknya masih ada tuduhan bahwa saya korupsi, padahal tuduhan itu semuanya berdasarkan opini, makanya dari PTUN juga keluarkan putusan bahwa saya tidak terbukti melakukan tindakan seperti yang dituduhkan makanya saya kembali sebagai Kepsek sesaat sebelum saya Purna Tugas” tegas Safirah.
Di usia Indonesia yang ke-81 ini, Safirah berharap para pendidik dan generasi muda terus mengisi kemerdekaan dengan prestasi dan pengabdian, agar cita-cita para pendiri bangsa dapat terus diwujudkan.
MERDEKA ITU SAPU LIDI
Merdeka itu seperti sapu lidi;
Terikat dalam satu ikatan, tapi punya kekuatan besar.
Satu lidi patah, tapi ketika bersatu jadi sapu yang sanggup membersihkan apa saja.
Kuat menyapu sampah,
Sampah kemalasan, sampah korupsi, sampah yang mengotori jalanan dan pikiran kita.
Kuat menyapu belenggu perpecahan,
Menyapu prasangka, menyapu ego, menyapu sekat suku, agama, dan golongan yang memecah kita.
Di usia ke-81 ini, mari kita maknai kemerdekaan bukan hanya dengan upacara.
Tapi dengan tindakan nyata.
Bersihkan hati, dari iri dan dengki.
Murnikan negeri, dengan karya, jujur, dan gotong royong.
Karena Indonesia yang besar lahir dari sapu lidi-sapu lidi kecil yang mau bersatu.
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA!

