SULSEL – KOMPAS. Praktik penimbunan dan pencurian bahan bakar minyak (BBM) jenis solar subsidi semakin membabi buta di Sulawesi Selatan.
Di tengah menjeritnya masyarakat akibat kelangkaan energi, mafia BBM justru bebas beraksi menguras alokasi solar subsidi yang seharusnya ditujukan untuk rakyat kecil dan petani lokal. Sabtu 12/09/2026
Modus operandi yang dilakukan terbilang sangat rapi dan nekat. Sebuah mobil truk yang secara kasat mata mengangkut mesin combine harvester (mesin pemanen padi) kedapatan bolak-balik mengisi solar subsidi dalam jumlah tak wajar di SPBU wilayah Barru dan SPBU Segeri, Kabupaten Pangkep.
Action tersebut sengaja dilakukan pada jam-jam krusial, yakni antara pukul 24.00 hingga 03.00 WITA, saat pengawasan lengah dan masyarakat sedang tertidur lelap.
Truk tersebut diduga kuat memanfaatkan modus pengangkutan alat pertanian untuk mengelabui petugas atau bahkan bekerja sama dengan oknum nakal di lapangan.
Praktik “kencing solar” skala besar ini secara langsung merampas jatah solar subsidi yang dampaknya membuat para petani dan sopir angkutan skala kecil harus mengantre berjam-jam tanpa kepastian.
Rakyat Sulsel Dihantam Krisis Multidimensi: BBM, Listrik, Air, hingga Gas
Aksi brutal mafia BBM ini hanyalah puncak gunung es dari penderitaan yang harus ditanggung masyarakat Sulawesi Selatan saat ini.
Krisis energi dan kebutuhan dasar seolah datang bertubi-tubi menyerang kehidupan warga:
BBM Subsidi Langka : Antrean kendaraan mengular di berbagai SPBU, sementara mafia dengan mudah memborong ratusan liter solar setiap malam.
Listrik Sering Padam : Pemadaman bergilir yang tak kunjung usai melumpuhkan sektor usaha kecil dan mengganggu aktivitas rumah tangga.
Krisis Air PDAM : Distribusi air bersih yang sering macet membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan sanitasi dasar.
Gas LPG 3 Kg Gaib : Tabung melon yang diperuntukkan bagi warga miskin mendadak menghilang di pasaran, dan kalaupun ada, harganya sudah melonjak melampaui HET (Harga Eceran Tertinggi).

Situasi mencekik ini memicu gelombang kemarahan publik. Masyarakat mempertanyakan di mana hadirnya negara dan aparat penegak hukum saat kejahatan ekonomi ini terjadi secara terang-terangan di depan mata.
Pertanyaan besar kini tertuju kepada pimpinan tertinggi di Sulawesi Selatan :
Gubernur Sulsel Di manakah langkah konkret pemerintah daerah dalam menjamin ketersediaan bahan pokok dan energi bagi warga yang sedang menderita?
Kapolda Sulsel & Pangdam XIV/Hasanuddin Mengapa penindakan terhadap mafia BBM yang beraksi saban malam di jalur lintasan Barru–Pangkep ini seakan tersendat? Mengapa penimbun solar subsidi yang merugikan negara ini belum diberantas tuntas sampai ke akarnya?
Anggota DPRD Sulsel Di manakah suara para wakil rakyat yang dahulu mengobral janji manis saat kampanye? Mengapa terkesan bungkam melihat rakyatnya menjerit akibat kejahatan ekonomi bertubi-tubi ini?
Rakyat Sulsel tidak butuh retorika atau janji manis para Pejabat di media.
Pembenahan total dan tindakan tegas tanpa pandang bulu terhadap mafia BBM serta pemulihan layanan dasar (listrik, air, gas) harus segera dilakukan sebelum krisis ini berubah menjadi gelombang kekecewaan sosial yang lebih besar.(**)

