MAMASA, Kompas sbs upaya meningkatkan keterampilan dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat terus menjadi perhatian dalam kegiatan pemberdayaan di tingkat desa. Salah satunya melalui pelatihan pembuatan tempe dan tahu yang dilaksanakan di Desa Kirak, Kecamatan Rantim, Kabupaten Mamasa, pada Kamis, 8 Oktober 2026.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kabupaten Mamasa, Adel Welem Sambolangi. Kehadiran Ketua TP PKK Mamasa dalam kegiatan ini menjadi bagian dari perhatian terhadap pengembangan keterampilan masyarakat, khususnya dalam pengolahan bahan pangan yang berpotensi dikembangkan menjadi usaha produktif.
Pelatihan pembuatan tempe dan tahu merupakan kegiatan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat karena tidak hanya memperkenalkan proses pengolahan bahan pangan, tetapi juga membuka wawasan mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari lingkungan rumah tangga.
Tempe dan tahu merupakan produk pangan yang telah lama dikenal dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Kedua produk tersebut memiliki tempat tersendiri dalam kebutuhan pangan sehari-hari sehingga proses pembuatannya dapat menjadi salah satu keterampilan yang berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi masyarakat.
Melalui pelatihan ini, masyarakat Desa Kirak diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk mengembangkan usaha secara mandiri, baik dalam skala rumah tangga maupun kelompok usaha masyarakat.
PELATIHAN MENJADI SARANA MENAMBAH KETERAMPILAN MASYARAKAT
Pelatihan pembuatan tempe dan tahu memiliki arti penting dalam upaya meningkatkan kemampuan masyarakat untuk mengolah bahan pangan menjadi produk yang mempunyai nilai guna dan nilai jual.
Keterampilan dalam mengolah kedelai menjadi tempe dan tahu dapat menjadi bekal bagi masyarakat yang ingin memulai usaha dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di lingkungan sekitar.
Dalam proses pembuatan tempe, misalnya, diperlukan pengetahuan mengenai pemilihan bahan baku, proses perendaman, pengolahan kedelai, serta tahapan fermentasi yang tepat. Sementara itu, pembuatan tahu memerlukan pemahaman mengenai proses pengolahan kedelai, penyaringan, penggumpalan sari kedelai, hingga pencetakan menjadi produk siap konsumsi.
Pengetahuan mengenai tahapan produksi tersebut penting untuk menghasilkan produk yang berkualitas, bersih, dan layak dikonsumsi. Selain keterampilan teknis, pemahaman mengenai kebersihan peralatan, pengemasan, serta penyimpanan produk juga dapat membantu masyarakat menjaga mutu hasil produksi.
Dengan adanya pelatihan seperti ini, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan secara teori, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari maupun dalam pengembangan usaha produktif.
DORONG PELUANG USAHA RUMAH TANGGA
Selain meningkatkan keterampilan, pelatihan pembuatan tempe dan tahu juga memiliki potensi untuk mendorong tumbuhnya usaha rumah tangga di Desa Kirak.
Usaha pengolahan pangan dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan ekonomi yang bisa dikembangkan secara bertahap. Masyarakat dapat memulai dari skala kecil sesuai dengan kemampuan modal, ketersediaan bahan baku, serta kebutuhan pasar di lingkungan setempat.
Apabila dikelola secara baik dan berkelanjutan, usaha tersebut berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Produk yang dihasilkan juga dapat dipasarkan kepada masyarakat sekitar, warung, pedagang, maupun konsumen lainnya sesuai dengan peluang pasar yang tersedia.
Namun, keberhasilan usaha tidak hanya bergantung pada kemampuan memproduksi tempe dan tahu. Pengelolaan biaya produksi, pemilihan bahan baku, kualitas produk, kebersihan, pengemasan, dan strategi pemasaran juga menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Karena itu, keterampilan yang diperoleh melalui pelatihan diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi masyarakat untuk mengembangkan usaha secara lebih terencana.
Bagi masyarakat desa, pengembangan usaha berbasis pengolahan pangan juga dapat menjadi peluang untuk memanfaatkan potensi lokal sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi di lingkungan sekitar.
PERAN TP PKK DALAM PEMBERDAYAAN KELUARGA
Kehadiran Ketua TP PKK Kabupaten Mamasa, Adel Welem Sambolangi, dalam kegiatan pelatihan tersebut turut menempatkan pemberdayaan keluarga sebagai salah satu aspek penting dalam pengembangan keterampilan masyarakat.
TP PKK memiliki ruang kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan keluarga, peningkatan kesejahteraan, serta pengembangan kemampuan masyarakat dalam mendukung kehidupan rumah tangga yang lebih baik.
Kegiatan pelatihan keterampilan pengolahan pangan dapat menjadi salah satu bentuk upaya yang relevan dengan tujuan pemberdayaan tersebut, terutama apabila pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan oleh peserta.
Melalui kegiatan semacam ini, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk memanfaatkan keterampilan yang dimiliki sebagai modal dalam meningkatkan produktivitas keluarga.
Pemberdayaan tidak hanya berkaitan dengan pemberian pengetahuan, tetapi juga dengan upaya membangun kepercayaan diri, kemandirian, serta kemampuan masyarakat dalam melihat peluang yang ada di sekitarnya.
Dengan demikian, pelatihan pembuatan tempe dan tahu di Desa Kirak diharapkan dapat memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi peserta dan keluarga mereka.
HARAPAN BAGI PENGEMBANGAN EKONOMI DESA
Pelaksanaan pelatihan pembuatan tempe dan tahu di Desa Kirak, Kecamatan Rantim, Kabupaten Mamasa, pada Kamis, 8 Oktober 2026, diharapkan menjadi salah satu langkah untuk memperluas pengetahuan masyarakat dalam bidang pengolahan pangan dan kewirausahaan.
Keterampilan yang diperoleh akan semakin bermanfaat apabila diikuti dengan praktik secara berkelanjutan, pendampingan, serta pengembangan kemampuan dalam mengelola usaha.
Dukungan terhadap masyarakat yang ingin mengembangkan usaha produktif juga dapat diarahkan pada peningkatan kualitas produksi, pengemasan yang lebih baik, pengenalan pemasaran, serta pengelolaan keuangan sederhana.
Dengan pengembangan yang tepat, usaha pengolahan tempe dan tahu berpotensi menjadi salah satu pilihan kegiatan ekonomi masyarakat yang dapat dimulai dari lingkungan keluarga.
Di sisi lain, keberlanjutan kegiatan pelatihan juga memerlukan keterlibatan berbagai pihak, termasuk pemerintah desa, kelompok masyarakat, dan unsur pemberdayaan keluarga, agar keterampilan yang telah diperoleh tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata.
Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk terus belajar, mengembangkan kreativitas, dan menciptakan peluang usaha sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Kegiatan di Desa Kirak ini menjadi momentum untuk memperkenalkan pentingnya keterampilan pengolahan pangan sebagai bagian dari pemberdayaan masyarakat. Harapannya, pengetahuan yang diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan, bagi peserta yang berminat, dikembangkan menjadi usaha produktif yang mampu memberikan nilai tambah bagi keluarga.
Dengan adanya pelatihan pembuatan tempe dan tahu ini, diharapkan masyarakat Desa Kirak semakin memiliki keterampilan, semangat berwirausaha, serta kesempatan untuk mengembangkan potensi ekonomi keluarga menuju kehidupan yang lebih mandiri dan sejahtera.
(Surniati).

