Doc Foto Kompas.sbs. 2026
ROTE NDAO | KOMOAS.SBS – Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), melaksanakan kegiatan tracing tuberkulosis (TB) yang terintegrasi dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di wilayah kerja Puskesmas Batutua.
Salah satu kegiatan dilaksanakan di SMA Oetefu, Desa Oetefu, Kabupaten Rote Ndao. Kegiatan tersebut dilakukan untuk mendeteksi secara dini kasus TB sekaligus menelusuri kemungkinan penularan di lingkungan sekolah.
Sekitar 38 orang menjadi sasaran skrining dalam kegiatan tersebut. Pemeriksaan menyasar siswa, guru, serta warga sekolah yang memiliki risiko kontak dengan pasien TB.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao, Eden Bell, mengatakan kegiatan tracing merupakan bagian dari upaya meningkatkan cakupan pemeriksaan TB sekaligus mencegah penularan penyakit tersebut di masyarakat.
“Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan cakupan pemeriksaan penyakit tuberkulosis atau TB di Kabupaten Rote Ndao,” kata Eden.
Menurut Eden, kegiatan tracing TB yang terintegrasi dengan CKG pada 2026 dilaksanakan di 25 lokus yang tersebar di 25 desa/kelurahan di Kabupaten Rote Ndao.
SMA Oetefu menjadi salah satu lokasi sasaran karena sebelumnya terdapat kasus TB di lingkungan sekolah.
“Ada guru dan siswa yang teridentifikasi sebagai kasus TB. Karena TB merupakan penyakit menular, maka perlu dilakukan tracing atau penelusuran kontak,” ujarnya.
Eden mengatakan, khusus di wilayah kerja Puskesmas Batutua, terdapat 18 kasus TB aktif yang sedang menjalani pengobatan sejak Januari hingga Agustus 2026.
Data tersebut menjadi salah satu dasar dilakukannya penelusuran kontak dan skrining terhadap masyarakat yang memiliki risiko tertular TB.
“Kalau satu dalam rumah sudah positif TB, anggota keluarga yang lain harus ikut skrining atau diperiksa ke puskesmas sedini mungkin,” kata Eden.
Menurut dia, penelusuran kontak penting dilakukan karena TB merupakan penyakit menular. Pemeriksaan sedini mungkin diharapkan dapat menemukan kasus baru dan mencegah penularan lebih luas.
Eden menjelaskan, SMA Oetefu menjadi salah satu lokasi tracing karena terdapat kasus TB di lingkungan sekolah.
Selain itu, sekolah merupakan tempat berkumpulnya banyak orang sehingga diperlukan upaya deteksi dini apabila terdapat kasus penyakit menular.
Petugas melakukan skrining terhadap siswa dan guru untuk mengetahui kemungkinan adanya kontak erat dengan pasien TB.
Jika ditemukan orang yang memiliki risiko atau memenuhi kriteria tertentu, petugas akan melakukan pemeriksaan lanjutan dan memberikan penanganan sesuai ketentuan.
“Jika ditemukan orang yang berpotensi tertular, maka dapat segera ditindaklanjuti dan mendapatkan pengobatan sesuai ketentuan,” ujarnya.
Selain tracing TB, kegiatan tersebut sekaligus memberikan pemeriksaan kesehatan umum melalui program CKG.
“Selain meningkatkan cakupan pemeriksaan TB, kegiatan ini juga bertujuan meningkatkan cakupan pemeriksaan kesehatan secara umum melalui program Cek Kesehatan Gratis,” jelas Eden.
Eden mengimbau masyarakat untuk mewaspadai batuk yang berlangsung terus-menerus selama dua minggu atau lebih.
Batuk berkepanjangan tersebut dapat disertai demam, terutama pada malam hari.
“Jika seseorang mengalami batuk selama dua minggu atau lebih dan setelah mengonsumsi obat batuk tidak kunjung sembuh, sebaiknya segera memeriksakan diri ke puskesmas,” katanya.
Ia meminta masyarakat tidak hanya mengandalkan obat yang dibeli sendiri apabila batuk berlangsung lama.
Masyarakat dapat memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Dalam kegiatan tersebut, petugas juga membagikan pot dahak kepada siswa atau warga sekolah yang mengalami keluhan batuk atau memiliki anggota keluarga dengan riwayat batuk selama dua minggu atau lebih.
Sampel dahak kemudian dikumpulkan untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di fasilitas kesehatan.
Eden menjelaskan, hasil skrining belum menjadi satu-satunya dasar untuk memastikan seseorang terdiagnosis TB.
“Untuk memastikan diagnosis TB, pemeriksaan harus dilanjutkan dengan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler atau TCM,” ujarnya.
Pemeriksaan TCM digunakan untuk mendeteksi kuman TB melalui spesimen, termasuk dahak atau sputum.
Kepala Puskesmas Batutua mengatakan kegiatan skrining tersebut merupakan hasil koordinasi antara pihak puskesmas dan sekolah.
Menurut dia, kegiatan seperti ini telah dilakukan sebagai bagian dari upaya meningkatkan deteksi dini penyakit di masyarakat.
Jika dalam kegiatan skrining ditemukan warga sekolah yang terindikasi TB, pihak Puskesmas Batutua akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah untuk melakukan pemeriksaan serta penanganan lebih lanjut.
“Jika dalam kegiatan ini ditemukan seseorang yang terindikasi TB, pihak puskesmas akan berkoordinasi dengan pihak sekolah dan pemerintah untuk melakukan penanganan lebih lanjut,” katanya.
Ia berharap kegiatan tersebut dapat terus dilakukan dan mendapat dukungan dari pemerintah serta masyarakat.
Pihak SMA Oetefu menyambut baik kegiatan tracing dan skrining TB yang dilaksanakan Dinas Kesehatan Kabupaten Rote Ndao bersama Puskesmas Batutua.
Pihak sekolah menilai kegiatan tersebut penting karena sekolah merupakan tempat berkumpulnya siswa, guru, dan warga sekolah lainnya.
Sekolah berharap apabila ditemukan siswa atau warga sekolah yang terindikasi TB, dapat segera dilakukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut.
“Kami berharap apabila terdapat siswa atau warga sekolah yang terindikasi TB, pihak puskesmas dapat segera berkoordinasi dengan pihak sekolah untuk melakukan penanganan dan pemeriksaan lebih lanjut,” kata perwakilan sekolah.
Pihak sekolah juga berharap dukungan pemerintah terhadap kegiatan pemeriksaan kesehatan dapat terus ditingkatkan sehingga penyakit menular, khususnya TB, dapat dideteksi dan ditangani sejak dini.

