Cerita Jurnalis
Triberita Com Menahan Rindu ke Anak dan keluarga, Ditengah Tekanan Kekuasaan
“Kenyataan hidup seorang jurnalis yang harus bekerja dibawah tekanan kekuasaan, sekaligus menahan rindu pada anak -anak adalah menahan mental dan emosional yang sangat berat, dibalik berita -berita yang dibaca masyarakat, ada pengorbanan personal yang jarang tersorot oleh publik tentang kebenaran, kejujuran terhadap sebuah profesi. ”
Kompas SBS,_Subang
-Agustus 2026_
Kisah pahit seorang ayah terjawab sudah. Muhamad Harun, jurnalis Triberita itu, kini bukan hanya jadi korban. Ia menjadi sejarah kelam Kabupaten Subang. Sebuah cerita yang konon akan melegenda dan akan dicatat oleh anak bangsa serta generasi muda yang masih punya nurani.
Usai sidang, dengan suara bergetar Harun akhirnya buka suara. Ia menyebut dunia jurnalistik di Subang saat ini penuh rintangan dan tanda tanya. Tekanan datang silih berganti, bukan hanya kepada dirinya, tapi juga kepada keluarganya.
“Kekuasaan sudah menghadang kebahagiaan anak dan istri saya,” ujarnya lirih menahan pilu. Di saat rindu pada anaknya menggunung, di saat itulah ia dijegal. Kehilangan waktu bersama keluarga menjadi harga yang harus dibayar karena memilih jalan kebenaran.
Namun Harun tidak tumbang. Di tengah tekanan itu ia tetap kokoh. Baginya kebenaran tidak akan pernah padam. “Matahari tetap matahari, walaupun yang buta tidak melihatnya,” tegasnya, menahan air mata.
Bagi Harun, perjuangan ini bukan soal dirinya pribadi. Ini soal masa depan pers di Subang. “Saya memperjuangkan kebebasan pers untuk kita. Untuk generasi ke depan,” katanya. Ia ingin para jurnalis muda tidak takut bersuara.
Pesan terakhirnya menusuk ke tulang. “Jangan takut menulis yang benar. Jangan takut menghadapi tekanan. Karena yang menekan dan membungkam itu… hanyalah orang-orang yang bersembunyi di balik kemunafikan.”
Kisah Harun mengingatkan, jurnalisme bukan hanya soal berita. Tapi soal keberanian dan harga yang harus dibayar demi kebenaran.
Menutup curhatnya, Harun menitip pesan getar untuk Jaksa dan APH yang menangani kasus ini. “Semua pekerjaan saya pakai hati dan perasaan, bukan karena imbalan. Dan semua tugas yang diemban… akan dipertanyakan kelak di hadapan Ilahi,” tandas Harun.
Reporter kompas SBS
D.Jekiw.

