JAKARTA, Kompas.Sbs – Pemutusan hubungan kerja (PHK) menjadi salah satu realitas yang semakin dekat dengan kehidupan pekerja urban,Ketika pekerjaan tiba-tiba hilang, kebutuhan hidup justru tidak ikut berhenti,Cicilan tetap berjalan, kebutuhan rumah tangga harus dipenuhi, sementara tekanan dari lingkungan dan keluarga kerap datang bersamaan.
Situasi tersebut menjadi salah satu napas utama dalam film “Agensi Rumah Tangga”, sebuah karya yang mencoba menerjemahkan keresahan masyarakat pekerja ke dalam cerita layar lebar.
Film ini mengikuti perjalanan Katia, diperankan Enzy Storia, yang harus menghadapi kenyataan pahit setelah terkena layoff dari perusahaan startup tempatnya bekerja. Di tengah tuntutan untuk segera kembali memiliki penghasilan, Katia juga berhadapan dengan ekspektasi orang tua yang menginginkannya memiliki pekerjaan yang dianggap lebih aman, termasuk menjadi aparatur sipil negara (ASN),Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai rencana.

Alih-alih terus terjebak dalam tekanan setelah kehilangan pekerjaan, Katia justru menemukan peluang dari situasi yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, Ketika asisten rumah tangga (ART) yang selama ini bekerja untuk keluarganya harus dirumahkan, muncul gagasan untuk membangun sebuah agensi yang mempertemukan ART dengan keluarga yang membutuhkan jasa mereka.
Dari sinilah persoalan yang lebih luas mulai dibuka,“Agensi Rumah Tangga” tidak hanya menjadikan PHK sebagai latar belakang cerita seorang anak muda yang sedang mencari jalan keluar, Film ini juga berusaha mengajak penonton melihat kehidupan pekerja rumah tangga dari perspektif yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Sutradara Naya Anindita membawa pertanyaan sederhana tetapi cukup menggelitik: bagaimana sebenarnya kehidupan seorang ART ketika pekerjaan mereka berada di balik pintu rumah orang lain?Mulai dari tempat tidur yang sempit, ruangan dengan keterbatasan ventilasi hingga fasilitas yang jauh dari kata layak, menjadi persoalan yang coba disentuh melalui cerita film tersebut.
“Pernah nggak sih, kalian memikirkan bagaimana kondisi ART? Mulai dari kamar tidur yang sempit, ruangan tanpa ventilasi, dan kasur yang tipis. Padahal, mereka juga pekerja,” ujar Naya Anindita.
Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa film ini tidak semata-mata ingin mengejar kelucuan, Ada realitas sosial yang sengaja ditempatkan di tengah cerita agar penonton tidak hanya tertawa, tetapi juga ikut memikirkan kehidupan para pekerja rumah tangga.
Menariknya, sejumlah pemeran yang memerankan karakter ART berasal dari kalangan komika, Kehadiran mereka menjadi daya tarik tersendiri karena humor diposisikan sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan yang sebenarnya cukup serius.
Formula tersebut membuat “Agensi Rumah Tangga” memiliki ruang untuk bergerak di antara komedi, drama keluarga dan persoalan sosial.
Kisah Katia juga terasa dekat dengan kondisi banyak pekerja muda, Ketika kehilangan pekerjaan, pilihan untuk menyerah bukanlah kemewahan,Ada tagihan yang harus dibayar, keluarga yang harus diyakinkan, dan masa depan yang tetap harus diperjuangkan.
Di tengah kondisi tersebut, Katia memilih menciptakan pekerjaannya sendiri,
Gagasan membangun agensi ART kemudian menjadi titik balik perjalanan hidupnya, Dari seorang pekerja startup yang kehilangan pekerjaan, Katia perlahan melihat bahwa peluang bisa muncul dari persoalan yang selama ini dianggap biasa.
Pada titik inilah “Agensi Rumah Tangga” terasa relevan dengan kehidupan hari ini.
Film tersebut seolah mengingatkan bahwa kehilangan pekerjaan bukan selalu menjadi akhir perjalanan, Terkadang keadaan justru memaksa seseorang melihat peluang dari sudut yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Lebih dari itu, film ini juga membuka ruang percakapan mengenai relasi antara pemberi kerja dan pekerja rumah tangga,Sebuah hubungan yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, tetapi masih menyimpan banyak persoalan mengenai penghargaan, perlindungan dan kelayakan hidup pekerja.
Dengan menggabungkan persoalan PHK, tekanan keluarga, perjuangan ekonomi, kehidupan ART serta komedi, “Agensi Rumah Tangga” mencoba menawarkan cerita yang tidak berhenti pada hiburan.
Sebab di balik tawa yang ditawarkan, ada keresahan tentang bagaimana seseorang harus tetap bertahan ketika sumber penghasilannya tiba-tiba menghilang.
Dan mungkin, seperti realitas kehidupan para pekerja hari ini, jalan keluar memang tidak selalu datang dalam bentuk pekerjaan baru,Kadang-kadang jalan keluar justru harus diciptakan sendiri.

