Top 5 This Week

Related Posts

*Dari Bansos ke Pendampingan, Mungkinkah?*

Oleh ERMANSYAH R. HINDI

(Catatan di Zoom Meeting Sosialisasi Rinduk dan Inovasi Daerah Dalam Percepatan Pengentasan Kemiskinan, 21 Mei 2026)

Satu hal yang membuat saya terpantik sama materi zoom meeting hari ini yang dihelat oleh Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Republik Indonesia, yaitu pas narasumber muncul yang membahas soal jurus “pendampingan.” Apa yang ingin saya katakan bahwa jurus ini cuma sekadar cadangan dan berkesan kurang diseriusi oleh pemangku kepentingan. Di kepala kita mungkin sempat bertengger tentang kiat pendampingan, tapi jarang benar-benar dianggap penting.

Padahal di lapangan, justru pendampingan itu bisa menjadi “cara jitu” (jika bukan terabaikan) apakah program dan kegiatan paling manjur atau cuma mentok di rapat koordinasi, laporan, dan foto seremonial semata. Lucunya, kita kadang lebih sibuk mengurus angka-angka dan target administratif ketimbang memastikan orang-orang miskin yang dimonitoring tampak paham, tegar, dan perlahan bisa keluar dari jebakan kemiskinan.

Alhasil, bantuan sosial (bansos) datang silih berganti ternyata banyak rumah tangga miskin tetap jalan di tempat. Nah, makanya ketika sesi pemaparan materi tentang pendampingan ini nongol, sehingga ada perspektif yang cukup lama hilang akhirnya diajak balik nongkrong di zoom meeting Sosialisasi Rencana Induk dan Inovasi Daerah Dalam Percepatan Pengentasan Kemiskinan. Di situ, ada lima pilar yang perlu dicantolkan dalam dokumen percepatan pengentasan di daerah. Pendampingan sebagai bagian dari pilar keempat bernama pemberdayaan ekonomi.

Hmm. Obrolan kami tentang :pendampingan” ini muncul sejak beberapa tahun lalu. Terus, hilang, nongol (tak disangka ada zoom meeting), dan entah apalagi?

Saya tidak akan membahas tentang seluk beluk lima pilar dalam rencana induk percepatan pengentasan kemiskinan (Rinduk-Taskin), termasuk apa urgensinya dengan sekolah rakyat dan koperasi merah putih. Yang menarik juga di zoom meeting ini adalah tersedianya daftar pertanyaan yang memungkinkan bisa dilayangkan oleh peserta pada narasumber. Sebagai tukang kantoran, saya ditugaskan untuk mewakili perangkat daerah bidang perencanaan pembangunan dengan mengajukan pertanyaan. Bagaimana mengintegrasikan Rinduk Taskin dengan SIPD (karena nomenklatur program, kegiatan, sub kegiatan, dan indikator sudah melekat dan tidak bisa diutak-utak)? Apakah bunyi indikator Rinduk Taskin dibuat tersendiri yang berbeda dengan Rencana Penanggulangan Kemiskinan Daerah dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah?

Lalu, secara khusus muncul satu pertanyaan. Bagaimana model pemberdayaan atau pendampingan Rumah Tangga Miskin dan individu miskin, apakah berbasis masalah, kebutuhan atau potensi?

Kembali ke pokok masalah. Saya kira pendampingan kemiskinan, baik kepala rumah tangga maupun anggota keluarga miskin diperlukan karena beberapa alasan.

Pertama, bansos dijadikan program dan kegiatan untuk meringankan beban hidup rumah tangga miskin. Bansos bersifat jangka pendek. Apa yang sudah dilakukan oleh pemerintah pusat itu diharapkan tidak lagi menjadi wilayah “garapan” pemerintah daerah. Istilahnya, program dan kegiatan percepatan pengentasan kemiskinan mengambil “ruang kosong.” Artinya, ada upaya kreatif dari pemerintah daerah untuk melihat masalah dan isu kemiskinan dengan intervensi program dan kegiatan yang sungguh-sungguh efektif dan berdampak langsung pada keluarga miskin supaya lebih mengenal dirinya sebagai subyek yang mandiri dan produktif, sehingga mereka bisa keluar dari lingkaran kemiskinan.

Kedua, tawaran program dan kegiatan percepatan pengentasan kemiskinan sebagai “ruang kosong” yang dimaksud adalah bentuk pemberdayaan atau “pendampingan” rumah tangga miskin dan individu didalamnya. Pendampingan ini memang diawali dengan cara “hijrah otak” (brain drain) sebelum praktik dan keterampilan hidup. Kata lain, pendampingan sembari pelatihan bagi rumah tangga miskin dan individu didalamnya.

Saya lihat, jika upaya pendampingan diwujudkan sampai betul-betul mandiri perlahan akan membebaskan orang miskin dari rantai ketergantungan pada bansos karena mereka punya pengenalan diri dan keterampilan hidup yang memadai sekaligus menjadi subyek dari upaya pemecahan masalah kemiskinan yang mengitarinya.

Saya pikir, berbagai bansos yang disalurkan oleh pemerintah tetap penting. Namun demikian, masyarakat ada saatnya tidak dimanjakan oleh kondisi dimana mereka di bawah alam sadarnya belum menemukan sesuatu yang lebih memanusiakan jika mereka percaya diri yang tinggi dan punya usaha produktif yang datang dari kemampuan dirinya, yang sesungguhnya ada dan tinggal diasa dah dikembangkan. Untuk itulah pendampingan penting bagi mereka.

Semoga.

Popular Articles