Senin, Maret 30, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Ir.Soekarno dan Palabuhanratu: Simfoni Semesta di Gerbang Samudra

Oleh : Yudi Suryadikrama, Dewan Pembina Yayasan Majelis Dzikir Merah Putih.

KOMPAS.SBS || Palabuhanratu Sukabumi bukan sekadar barisan pantai dan deburan ombak; ia adalah titik temu antara estetika alam, kedalaman filsafat, dan getaran spiritual. Tak heran jika Bung Karno, sang penyambung lidah rakyat dengan visi arsitekturalnya, memilih tanah ini untuk mendirikan Grand Inna Samudra Beach Hotel serta Istana Tenjo Resmi. Pilihan Bung Karno bukanlah kebetulan, melainkan pengakuan atas kemegahan sakral Samudra Hindia yang bersanding dengan indah serta kokohnya tanah sunda parahyangan Jawa Barat.

Secara filosofis, Palabuhanratu merepresentasikan harmoni antara Buana Nyungcung (langit), Buana Panca Tengah (dunia manusia), dan Buana Larang (kedalaman laut). Keindahannya menuntut kekaguman, sementara misterinya mengundang perenungan spiritual. Potensi ini menjadikan Palabuhanratu destinasi yang unik: sebuah perpaduan antara wisata alam yang memanjakan mata dan wisata religi yang menyentuh jiwa. Saat libur dan berkah Idul Fitri 1447 H ribuan wisatawan berkunjung ke Palabuhanratu untuk menikmati indahnya alam serta deburan laut pantai selatan.

Namun, keindahan yang “Sakawayana” (sejati/abadi) ini tidak boleh berhenti pada decak kagum semata. Untuk mendatangkan berkah bagi Sukabumi, pengelolaan kawasan ini harus dilakukan dengan pendekatan yang holistik:

1. Optimalisasi Berbasis Budaya: Pembangunan fasilitas wisata harus tetap selaras dengan kearifan lokal agar nilai spiritualitasnya tidak luntur oleh komersialisasi buta.

2. Pemberdayaan UMKM: Destinasi kelas dunia harus menjadi panggung bagi produk lokal. Dari kerajinan tangan hingga kuliner pesisir, ekonomi kerakyatan harus menjadi tulang punggung di setiap titik wisata.

3. Ekosistem Ekonomi Kreatif: Integrasi antara sejarah (Istana Tenjo Resmi) dan modernitas harus mampu menciptakan lapangan kerja bagi anak muda Sukabumi di sektor jasa dan kreatif. Menggerakan perekonomian masyarakat Sukabumi.

Menjadikan Palabuhanratu sebagai lokomotif ekonomi berarti menjaga warisan Bung Karno sekaligus memuliakan alam. Jika dikelola dengan hati dan visi, setiap butir pasir di Palabuhanratu tidak hanya akan membawa wisatawan, tetapi juga membawa kesejahteraan nyata bagi seluruh masyarakat Sukabumi.***

EDITOR : YOSEP M

Popular Articles