Relawan Rote Ndao Mengajar. 2026
ROTE NDAO | KOMPAS.SBS — Pemerintah Kabupaten Rote Ndao menggelar Program Rote Ndao Mengajar Tahun 2026 melalui Gerakan “Mai Fali E”, sebuah gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai profesi untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan inspirasi kepada generasi muda.
Sambutan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, SH pada saat Membuka secara Resmi Rote Ndao Mengajar. 2026
Mengusung tema “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi”, kegiatan tersebut resmi dibuka oleh Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H., pada Minggu (23/08/2026) di Aula Rumah Jabatan Bupati Rote Ndao. Program ini berlangsung hingga 25 Agustus 2026.
Sebanyak 206 relawan terlibat dalam program tersebut. Mereka berasal dari berbagai daerah, mulai dari Rote Ndao, sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur, daerah di luar NTT, hingga Malaysia.
9
Berdasarkan data yang disampaikan Bupati Paulus, sebanyak 74 relawan berasal dari Rote Ndao, sedangkan 132 relawan lainnya berasal dari luar Rote Ndao.
Para relawan tersebut akan berkontribusi di 34 sekolah yang telah ditetapkan sebagai sasaran Program Rote Ndao Mengajar 2026.
Dalam sambutannya, Paulus menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan yang telah meluangkan waktu dan tenaga untuk datang ke Rote Ndao.
Menurut dia, kehadiran para relawan menunjukkan bahwa kepedulian terhadap pendidikan dan masa depan generasi muda dapat melampaui batas wilayah.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Rote Ndao, saya menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada para relawan yang dengan penuh keberanian dan ketulusan meninggalkan tempat masing-masing untuk hadir dan berkontribusi dalam kegiatan ini,” ujar Paulus.
Paulus mengungkapkan, salah seorang relawan bahkan datang dari Malaysia. Ia mengaku sempat bertemu dengan relawan tersebut sebelum kegiatan dimulai.
Menurut Paulus, kehadiran relawan dari luar daerah, termasuk dari luar negeri, menjadi sesuatu yang patut diapresiasi karena menunjukkan adanya perhatian terhadap pendidikan anak-anak Rote Ndao.
“Apalagi ada salah satu relawan yang datang dari Malaysia. Kemarin sore saya sempat bertemu dengan beliau. Kehadiran beliau dari Malaysia tentu merupakan sesuatu yang luar biasa,” kata Paulus.
Ia mengatakan, para relawan datang dengan latar belakang dan perjalanan yang berbeda. Ada yang berasal dari daerah sekitar NTT, ada yang harus menyeberangi pulau, hingga menempuh perjalanan dari luar Indonesia.
Namun, menurut Paulus, terdapat semangat yang sama yang mempertemukan seluruh relawan dalam program tersebut, yakni kepedulian terhadap generasi muda dan masa depan bangsa.
Paulus mengatakan, Program Rote Ndao Mengajar bukan sekadar kegiatan mengajar di sekolah. Program ini menjadi wadah untuk mempertemukan berbagai profesi dan pengalaman dengan para siswa.
Para relawan diharapkan dapat berbagi pengetahuan, pengalaman, wawasan, serta inspirasi yang dapat memberikan gambaran lebih luas kepada anak-anak mengenai dunia pendidikan, profesi, dan kehidupan.
“Kepedulian dan keinginan untuk memberikan sesuatu yang berarti bagi masa depan anak-anak muda, kepedulian dan kecintaan kita untuk membangun masa depan bangsa, itulah yang mendorong kita semua untuk hadir di sini,” ujarnya.
Ia berharap 34 sekolah yang menjadi sasaran program dapat menerima para relawan dengan baik dan memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar.
Paulus juga mengapresiasi para guru, pimpinan organisasi perangkat daerah, staf ahli, instansi vertikal, TNI-Polri, akademisi, perguruan tinggi, panitia, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan tersebut.
Program Rote Ndao Mengajar 2026 dengan tema “Sehari Mengajar, Seumur Hidup Menginspirasi” diharapkan tidak berhenti pada kegiatan selama tiga hari.
Paulus berharap pengalaman dan motivasi yang dibawa para relawan dapat meninggalkan kesan positif bagi siswa serta mendorong mereka untuk memiliki cita-cita dan semangat belajar yang lebih besar.
“Semoga kehadiran para relawan dapat memberikan semangat baru bagi anak-anak kita dan menjadi bagian dari upaya bersama dalam mempersiapkan generasi Rote Ndao yang lebih baik,” katanya.

Dengan melibatkan ratusan relawan dari berbagai latar belakang dan wilayah, Gerakan “Mai Fali E” menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, dan berbagai profesi untuk memberikan perhatian lebih kepada generasi muda Rote Ndao.
Bagi para siswa di 34 sekolah sasaran, kehadiran para relawan diharapkan bukan sekadar menghadirkan seorang pengajar selama sehari, tetapi meninggalkan satu hal yang jauh lebih panjang: inspirasi yang dapat dibawa sepanjang perjalanan hidup mereka.

