Top 5 This Week

Related Posts

Yayasan ARUNGI Tingkatkan Kapasitas Fasilitator Sekolah Lontar di Rote Ndao

Doc Foto editing.Komoas.sbs.2026

ROTE NDAO | KOMPAS.SBS – Yayasan Selancar Arungi Indonesia (ARUNGI) meningkatkan kapasitas para fasilitator melalui kegiatan refresh keterampilan konseling untuk mendukung pelaksanaan program Sekolah Lontar di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Kegiatan tersebut dihadiri 46 peserta yang berasal dari 12 desa di Kecamatan Rote Barat Daya.

Koordinator Gizi ARUNGI, Angela Slamet Saputri, S.Gz, yang akrab disapa Ela, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan mempersiapkan fasilitator agar mampu memberikan pendampingan dan konseling kepada keluarga sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

“Kegiatan hari ini adalah refresh konseling untuk para fasilitator,” kata Ela.

Menurut Ela, Sekolah Lontar merupakan program yang dirancang sebagai ruang belajar bagi orang tua, khususnya keluarga yang memiliki balita, ibu hamil, pasangan atau suami, serta pengasuh balita.

Program tersebut mendorong penerapan pola pengasuhan yang setara dengan melibatkan peran ayah dalam pengasuhan anak.

Nama “Sekolah Lontar” dipilih karena dinilai lebih kontekstual dengan kehidupan masyarakat Rote. Menurut Ela, istilah tersebut diharapkan membuat pesan mengenai pengasuhan lebih dekat dan mudah diterima masyarakat.

“Kalau di Rote mendengar kata pengasuhan biasanya identik dengan mama. Karena itu, kami menggunakan istilah Sekolah Lontar agar lebih kontekstual dan dekat dengan masyarakat Rote,” ujarnya.

Peserta Sekolah Lontar tidak hanya ditujukan kepada ibu. Program ini juga menyasar ibu hamil, suami atau pasangan, orang tua balita, serta pengasuh balita.

Sekolah Lontar akan dilaksanakan dalam enam sesi pertemuan. Materi yang diberikan diarahkan untuk memperkuat pengetahuan dan praktik pengasuhan setara, mendukung kesehatan ibu dan anak di tingkat keluarga, serta berkontribusi terhadap upaya penurunan stunting pada balita di Rote Ndao.

Untuk memastikan program berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat, ARUNGI membekali fasilitator dengan prinsip dan keterampilan dasar konseling.

Ela mengatakan keterampilan tersebut penting karena fasilitator akan menghadapi berbagai kondisi dan persoalan keluarga selama program berlangsung.

“Kalau ada yang tidak hadir atau ada keluhan personal sesuai keluarga masing-masing, para fasilitator sudah siap memberikan pendampingan dengan cara yang sesuai standar konseling,” katanya.

Fasilitator Sekolah Lontar berasal dari berbagai unsur masyarakat di desa. Mereka antara lain kader posyandu, kader PKK, kader keluarga berencana (KB), serta unsur masyarakat lainnya.

Sebanyak 46 fasilitator dari 12 desa di Kecamatan Rote Barat Daya mengikuti kegiatan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur masyarakat diharapkan dapat memperkuat pendampingan keluarga hingga tingkat desa.

Program Sekolah Lontar merupakan bagian dari pengembangan program ARUNGI di bidang kesehatan ibu dan anak serta penguatan ekonomi keluarga.

Ela menjelaskan, pada periode 2023–2025, program ARUNGI sebelumnya lebih berfokus pada kesehatan ibu dan anak. Kegiatan tersebut antara lain mencakup pendampingan kader posyandu, tenaga kesehatan, serta pelaksanaan program Kintal Gizi Keluarga.

Setelah kerja sama melalui Nota Kesepahaman (MoU) dengan Kementerian Desa berakhir pada Oktober 2025, operasi SurfAid di Indonesia bertransisi menjadi organisasi lokal bernama Yayasan Selancar Arungi Indonesia (ARUNGI).

ARUNGI merupakan organisasi lokal yang melanjutkan pengembangan program SurfAid di Indonesia dan merupakan afiliasi dari SurfAid International, yang berkantor pusat di Sydney, Australia.

Mulai 2025, ARUNGI mengembangkan program dengan memperluas Kintal Gizi untuk turut mendukung peningkatan pendapatan ekonomi keluarga. Meski demikian, pesan utama mengenai kesehatan ibu dan anak tetap menjadi bagian penting dari program.

“Yang kami dorong adalah perubahan perilaku terkait kesehatan ibu dan anak di keluarga, terutama keluarga yang memiliki balita dan ibu hamil,” ujar Ela.

Melalui Sekolah Lontar dan peningkatan kapasitas fasilitator, ARUNGI berharap pendampingan kepada keluarga dapat berlangsung secara berkelanjutan serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat di tingkat desa.

Program tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan keluarga, tetapi juga mendorong perubahan praktik pengasuhan yang lebih setara serta memperkuat perhatian keluarga terhadap kesehatan ibu dan anak.

Popular Articles