Top 5 This Week

Related Posts

Dari Ruang Kelas, 206 Relawan Menyalakan Mimpi Anak-anak Rote Ndao

BA’A | KOMPAS.SBS — Tiga hari mungkin terasa singkat. Namun, bagi ribuan anak di Rote Ndao, perjumpaan dengan para relawan Rote Ndao Mengajar 2026 bisa menjadi cerita yang mereka ingat jauh lebih lama.

Di ruang-ruang kelas, para relawan tidak hanya datang membawa materi pelajaran. Mereka membawa cerita tentang pendidikan, pekerjaan, perjalanan hidup, kegagalan, keberhasilan, dan mimpi yang pernah mereka perjuangkan.

Dari cerita-cerita itulah, anak-anak diajak melihat bahwa masa depan mereka tidak harus dibatasi oleh tempat mereka dilahirkan.

Pesan itu menjadi salah satu semangat yang disampaikan Bupati Rote Ndao Paulus Henuk, S.H., saat menutup rangkaian kegiatan Rote Ndao Mengajar 2026 di Aula Rumah Jabatan Bupati Rote Ndao, Selasa (25/08/2026).

“Anak Rote boleh lahir di pulau kecil, tetapi mimpinya tidak boleh kecil,” kata Paulus.

Rote Ndao Mengajar 2026 melibatkan 206 relawan. Sebanyak 132 relawan berasal dari luar Rote Ndao dan 74 relawan berasal dari Rote Ndao.

Mereka datang dengan latar belakang yang beragam. Bahkan, beberapa relawan datang dari luar negeri untuk ikut berbagi pengalaman dengan anak-anak Rote Ndao.

Melalui kelas inspirasi, para relawan menyambangi 34 sekolah dan menjangkau sekitar 3.000 anak.

Bagi Paulus, angka tersebut bukan sekadar jumlah sekolah dan peserta yang terlibat. Di baliknya terdapat ribuan anak yang mendapatkan kesempatan untuk mendengar cerita baru tentang dunia di luar lingkungan mereka.

Seorang relawan mungkin hanya berada di depan kelas selama beberapa jam. Namun, cerita yang disampaikan bisa saja tinggal lebih lama di dalam ingatan seorang anak.

          Relawan Rote Ndao Mengajar 2026 pose Pose Bersama Prof YLH

Paulus mengatakan, tidak ada yang dapat mengetahui kapan sebuah cerita sederhana akan menjadi titik awal seorang anak menemukan cita-citanya.

“Perjumpaan itu mungkin hanya beberapa jam di sekolah. Tetapi kita tidak pernah tahu bahwa cerita sederhana dapat membuat seorang anak menemukan cita-citanya dan mulai percaya pada masa depannya,” ujarnya.

Karena itu, Rote Ndao Mengajar tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan mengajar.

Program tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman orang dewasa dengan rasa ingin tahu anak-anak.

Para relawan berbagi kisah tentang perjalanan pendidikan dan pekerjaan mereka. Mereka juga bercerita tentang kegagalan dan keberhasilan yang pernah dilalui.

Dari sana, anak-anak memperoleh gambaran bahwa perjalanan menuju cita-cita tidak selalu berjalan lurus.

Pada hari terakhir kegiatan, suasana berbeda terasa ketika Paulus kembali bertemu para relawan di Aula Rumah Jabatan Bupati Rote Ndao.

Para relawan diberi kesempatan menyampaikan kesan dan pesan setelah berinteraksi langsung dengan anak-anak di sekolah.

Antusiasme mereka terlihat ketika menceritakan pengalaman selama berada di sekolah-sekolah sasaran.

Bagi Paulus, kehadiran mereka telah memberikan warna baru bagi dunia pendidikan di Rote Ndao.

Ia pun menyampaikan terima kasih kepada seluruh relawan, panitia, guru, anak-anak, komunitas, serta masyarakat yang ikut menyukseskan kegiatan tersebut.

“Kehadiran dan pengabdian Bapak dan Ibu sekalian telah memberikan warna, inspirasi, dan energi baru bagi anak-anak kita,” katanya.

Paulus secara khusus menyampaikan terima kasih kepada relawan yang datang dari luar Rote Ndao.

Menurut dia, setelah ikut berbagi dengan anak-anak Rote, para relawan tidak lagi sekadar menjadi tamu.

“Mulai hari ini, Bapak dan Ibu bukan lagi sekadar relawan yang datang berkunjung. Bapak dan Ibu adalah bagian dari keluarga besar Rote Ndao,” ujar Paulus.

Bagi Paulus, semangat Rote Ndao Mengajar sejalan dengan gerakan “Mai Fali Ee” atau ajakan untuk kembali memberi perhatian kepada tanah kelahiran.

Kembali, kata dia, tidak selalu berarti menetap secara fisik di Rote Ndao.

Kembali dapat dilakukan dengan membawa pulang pengetahuan, pengalaman, jejaring, kesempatan, maupun kepedulian untuk ikut membangun daerah.

Karena itu, ia mengajak diaspora Rote Ndao di mana pun berada untuk mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

“Kita mari melihat tanah kita, melihat anak-anak kita, dan mengambil bagian dalam membangun masa depan Rote Ndao,” katanya.

Ajakan itu juga ditujukan kepada mereka yang bukan berasal dari Rote Ndao tetapi telah memilih datang dan berbagi.

“Rote adalah rumah yang akan selalu menantikan kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Pintu Rote Ndao akan selalu terbuka bagi siapa saja yang ingin datang, berbagi, berkolaborasi, dan bersama-sama membangun daerah ini,” ujar Paulus.

Rangkaian Rote Ndao Mengajar 2026 akhirnya ditutup.

Namun, bagi Paulus, penutupan kegiatan bukan berarti berakhirnya semangat yang telah tumbuh selama tiga hari.

Ia berharap kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, sekolah, komunitas, diaspora, dan para relawan dapat terus berlanjut.

Sebab, membangun masa depan anak-anak Rote Ndao tidak cukup dilakukan dalam satu kegiatan.

“Rote Ndao adalah milik kita bersama. Daerah ini adalah rumah kita, tempat kita menanam harapan dan bersama-sama membangun masa depan,” kata Paulus.

Tiga hari telah berlalu. Para relawan mungkin akan kembali ke daerah masing-masing.

Namun, cerita yang mereka tinggalkan di ruang-ruang kelas akan terus menjadi milik anak-anak Rote Ndao.

Dan mungkin, suatu hari nanti, dari salah satu ruang kelas itu akan lahir seorang anak yang berani bermimpi besar.

Anak dari sebuah pulau kecil yang percaya bahwa masa depannya tidak pernah boleh kecil.

Popular Articles