Top 5 This Week

Related Posts

Tembok Lapas Tak Halangi Semangat Belajar, 21 Warga Binaan Ikuti Pendidikan Kesetaraan

BA’A | KOMPAS.SBS – Tembok lembaga pemasyarakatan tidak menghalangi warga binaan untuk terus menuntut ilmu. Sebanyak 21 warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Ba’a, Kabupaten Rote Ndao, mengikuti pembelajaran pendidikan kesetaraan Paket A, B, dan C, Sabtu (17/10/2026).

Kegiatan pendidikan tersebut diselenggarakan melalui kerja sama Lapas Kelas III Ba’a dengan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Zaitun. Program ini memberikan kesempatan kepada warga binaan untuk melanjutkan pendidikan selama menjalani masa pidana.

Dari 21 peserta, sebanyak tiga orang mengikuti Paket A yang setara dengan jenjang sekolah dasar (SD), 13 orang mengikuti Paket B yang setara dengan sekolah menengah pertama (SMP), dan lima orang mengikuti Paket C yang setara dengan sekolah menengah atas (SMA).

Pembelajaran dipandu oleh tenaga pengajar PKBM Zaitun, Benyamin Sinlae. Materi yang diberikan pada kesempatan tersebut berfokus pada seni bercerita dan penyampaian narasi.

Melalui materi tersebut, para warga binaan diajak untuk merangkai gagasan, menyusun alur cerita, serta menyampaikan cerita secara jelas dan percaya diri.

Kegiatan itu tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan berbahasa, tetapi juga melatih keberanian warga binaan dalam menyampaikan pikiran dan pendapat.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Kelas III Ba’a, Devin C. Ku, yang turut mendampingi kegiatan, mengatakan antusiasme warga binaan menjadi hal positif dalam pelaksanaan program pendidikan kesetaraan.

Menurut Devin, pembelajaran tersebut memberikan ruang bagi warga binaan untuk mengembangkan kemampuan yang selama ini mungkin belum banyak diasah.

“Kami senang melihat warga binaan begitu antusias mengikuti pembelajaran. Materi hari ini memang terlihat sederhana, tetapi kemampuan menyusun cerita dan menyampaikan pendapat itu penting,” ujar Devin.

Ia mengatakan, pihak Lapas ingin warga binaan tidak hanya mengikuti proses pembelajaran, tetapi juga berani mencoba dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki.

Salah seorang warga binaan berinisial K mengaku senang karena masih mendapatkan kesempatan untuk belajar selama menjalani masa pembinaan.

“Saya senang masih bisa sekolah dan belajar di sini. Banyak hal baru yang kami dapatkan, termasuk bagaimana bercerita dan menyampaikan pendapat dengan baik,” ungkap K.

K berharap pengetahuan yang diperolehnya selama mengikuti pendidikan kesetaraan dapat menjadi bekal ketika kembali ke tengah masyarakat.

“Saya ingin terus belajar supaya nanti saat bebas, saya sudah punya tambahan ilmu yang bisa saya gunakan,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas III Ba’a, Hariyadi N. Maikameng, menegaskan bahwa pendidikan kesetaraan merupakan bagian dari upaya Lapas memenuhi hak dasar warga binaan, khususnya dalam memperoleh akses pendidikan.

Menurut Hariyadi, status sebagai warga binaan tidak seharusnya menghilangkan kesempatan seseorang untuk mendapatkan pendidikan.

“Tembok Lapas tidak boleh menjadi penghalang bagi mereka untuk terus belajar. Kami ingin memastikan warga binaan tetap memiliki kesempatan menempuh pendidikan sesuai jenjangnya,” tegas Hariyadi.

Ia menambahkan, kerja sama dengan PKBM Zaitun menjadi salah satu upaya Lapas untuk menghadirkan akses pendidikan yang layak bagi warga binaan.

Program pendidikan kesetaraan tersebut sekaligus menjadi bagian dari proses pembinaan di Lapas Kelas III Ba’a. Melalui program Paket A, B, dan C, warga binaan yang belum menyelesaikan pendidikan dasar maupun menengah tetap dapat mengikuti pembelajaran sesuai jenjangnya.

Dengan demikian, masa pembinaan di balik tembok Lapas tidak hanya diarahkan untuk menjalani hukuman, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga binaan untuk belajar, mengembangkan keterampilan, dan mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.

Popular Articles