MAKASSAR, – KOMPAS. Sebuah drama memuakkan kembali mementaskan wajah asli elit politik di Kota Makassar Di tengah jargon “Pelayan Rakyat” yang didengungkan Partai Keadilan Sejahtera (PKS), seorang anggota DPRD Kota Makassar, Rezeki Nur, justru mempertontonkan arogansi yang membakar hati nurani publik.
Ia secara dingin menantang rakyat kecil berduel di kantor polisi hanya demi menghindari utang modal usaha yang digunakan suaminya.
Kronologi Pengkhianatan: Uang Bank Ditukar Janji Palsu
Tragedi ini bermula ketika Ahmad Susanto yang saat itu menjabat Ketua KONI sekaligus suami dari Rezeki Nur meminjam uang sebesar Rp.50 juta kepada yang Berinisial H.Bs, seorang pelaku usaha kecil Dengan alasan mendesak untuk membiayai keberatan Tim Soeratin U15 di Yogyakarta, Ahmad Susanto tega merampas “napas” ekonomi H.Bs.
Senin 11/05/2026
Ironisnya, uang tersebut bukanlah uang nganggur, melainkan modal usaha hasil pinjaman Bank yang harus dibayar bunganya oleh H.Bs setiap bulan.
Tanpa kop surat organisasi, Ahmad Susanto menandatangani perjanjian di atas meterai secara pribadi, berjanji akan melunasi pada Maret 2025.

Arogansi “Ibu Dewan”: Dari Wakil Rakyat Menjadi Lawan Rakyat
Memasuki tahun 2026, H. Bs yang nyaris bangkrut mencoba mengetuk pintu hati Rezeki Nur sebagai istri dan ahli waris masalah tersebut.
Namun, alih-alih empati, ia justru mendapatkan perlakuan yang jauh dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan.
Rezeki Nur, sang legislator Komisi D, dengan angkuh menyatakan tidak ada sangkut pautnya dengan utang sang suami saya
Lewat pesan singkat WhatsApp yang bernada menantang, ia justru menggertak warga kecil tersebut
“Kita ketemu di kantor polisi saja pak! Kalau saya dipanggil ke Polsek, baru saya ke sana.
Saya tunggu saja surat panggilan dari Polsek Panakkukang!” cetus Rezeki Nur dengan nada tanpa dosa.
Matinya Hati Nurani di Balik Kursi Empuk Parlemen Sikap “cuci tangan” ini adalah tamparan keras bagi warga Makassar.
Bagaimana mungkin seorang anggota dewan yang makan dari uang pajak rakyat, tega melihat modal usaha seorang pedagang kecil melayang selama setahun lebih, sementara ia sendiri berlindung di balik tembok hukum?
H. Bs, dengan nada putus asa, hanya bisa meratapi nasibnya. Kasihan orang kecil seperti keluarga saya diperlakukan begitu.
Modal usaha itu diberikan atas permintaan bapak (Ahmad Susanto), sekarang Ibu Dewan justru menantang polisi,” keluhnya.
PKS Diujung Tanduk : Masihkah Menjadi Partai Dakwah?
Publik kini menagih janji PKS. Apakah partai ini akan terus membiarkan kadernya, Rezeki Nur, menunjukkan sikap arogan dan “mati rasa” terhadap penderitaan rakyat?
Jika kantor polisi kini dianggap sebagai benteng perlindungan untuk menghindar dari tanggung jawab moral, maka jargon “Wakil Rakyat” hanyalah kedok untuk menindas mereka yang lemah.
Rakyat tidak butuh legislator yang jago berdebat di kantor polisi, rakyat butuh pemimpin yang punya harga diri untuk melunasi janji!
“Modal Usaha Dirampas, Janji Manis Jadi Penjara, Dan Sang Wakil Rakyat Memilih Menjadi Musuh Rakyat.”(**)

