Ada sejarah yang tidak lahir hari ini.Ia tumbuh jauh sebelum manusia mengenal hiruk-pikuk kepentingan, jauh sebelum tanah dihitung dengan nilai ekonomi, dan jauh sebelum emas Gunung Botak menjadi magnet yang menarik begitu banyak kepentingan ke tanah Buru.
Begitu pula sejarah Raja Petuanan Kaiely.
Kaiely bukanlah cerita yang baru dimulai ketika Gunung Botak ditemukan menyimpan emas. Kaiely telah memiliki sejarah, leluhur, adat, pranata dan perjalanan pemerintahan adat jauh sebelum kilau emas menjadi pembicaraan.
Karena itu, ketika hari ini muncul polemik mengenai siapa yang berhak menyandang gelar Raja Petuanan Kaiely, maka pertanyaan yang harus dikedepankan bukan sekadar siapa yang mengaku raja, tetapi dari mana sejarah itu berasal dan bagaimana garis tersebut diwariskan dari generasi ke generasi.
Sebab raja bukan sekadar gelar.Raja adalah sejarah.Raja adalah amanah leluhur.Raja adalah bagian dari identitas sebuah petuanan.
Dan karena itu, tidak semestinya gelar tersebut muncul hanya ketika sebuah wilayah memiliki nilai ekonomi yang menggiurkan.
Raja Kaiely Sudah Ada Sebelum Gunung Botak Berkilau
Gunung Botak baru menjadi pusat perhatian ketika kandungan emasnya mengundang ribuan orang datang.
Tetapi raja Kaiely sudah ada jauh sebelum itu.
Para leluhur telah lebih dahulu membangun tatanan kehidupan. Masyarakat telah hidup dengan pranata adatnya. Hubungan antarmarga, soa, negeri dan pemangku adat telah berjalan dalam perjalanan sejarah yang panjang.
Maka jangan sampai sejarah Kaiely justru baru ramai dibicarakan ketika emas ditemukan.
Sebab akan menjadi ironi apabila mahkota adat baru dicari ketika tanah mulai bernilai tinggi.
Raja tidak seharusnya lahir dari kepentingan ekonomi.
Raja tidak seharusnya muncul karena ada sesuatu yang bisa diperebutkan.
Raja harus lahir dari sejarah yang dapat ditelusuri, dari garis keturunan yang dapat dijelaskan, dari adat yang dapat diterangkan dan dari masyarakat yang memiliki mekanisme untuk memberikan pengakuan.
Dari Mansur Wael ke Fandy Ashari Wael
Dalam silsilah yang disampaikan keluarga Wael, perjalanan garis keturunan Raja Petuanan Kaiely ditelusuri dari Raja Mansur Wael.
Dari Raja Mansur Wael, garis tersebut disebut berlanjut kepada putranya, Raja Ishak Wael.
Kemudian garis itu diteruskan kepada M. Fuad Wael, putra Raja Ishak Wael.
Selanjutnya, garis keturunan tersebut sampai kepada Fandy Ashari Wael, yang disebut sebagai anak kandung M. Fuad Wael dan cucu Raja Ishak Wael.
Jika disusun dalam satu rangkaian, silsilah yang dikemukakan keluarga tersebut adalah:
Raja Mansur Wael → Raja Ishak Wael → M. Fuad Wael → Fandy Ashari Wael.
Tentu, setiap silsilah sejarah harus dapat dibuktikan melalui dokumen, catatan sejarah, kesaksian keluarga, pranata adat dan mekanisme masyarakat hukum adat.
Namun justru di situlah letak pentingnya.Sejarah harus diuji, bukan diganti dengan klaim.
Jika ada pihak lain yang memiliki silsilah berbeda, maka silsilah tersebut pun harus dibuka. Jika ada dasar adat yang berbeda, maka mekanisme adatnya harus dijelaskan.
Dengan demikian, polemik tidak berubah menjadi pertarungan siapa yang paling kuat suaranya. Tetapi menjadi proses menemukan kebenaran sejarah.
Jangan Mengaku Raja Hanya Karena Ada Emas Ada sebuah pertanyaan yang layak direnungkan bersama.
Mengapa perebutan gelar raja menjadi begitu penting ketika wilayah adat juga memiliki sumber daya alam yang bernilai ekonomi?
Pertanyaan ini bukan untuk menuduh siapa pun.
Tetapi sejarah harus berani mengajukan pertanyaan yang terkadang tidak nyaman.
Sebab jangan sampai orang baru merasa memiliki mahkota ketika tanahnya memiliki emas.
Jangan sampai adat baru menjadi penting ketika ada izin pertambangan.
Jangan sampai gelar raja menjadi begitu berharga ketika wilayah petuanan bersentuhan dengan kepentingan ekonomi.
Jika demikian, maka yang sedang diperebutkan bukan lagi kehormatan adat, tetapi sesuatu yang jauh lebih pragmatis.
Padahal Raja Kaiely tidak lahir dari emas Gunung Botak.Raja Kaiely lahir dari perjalanan sejarah Kaiely.Gunung Botak boleh menyimpan emas.
Tetapi Gunung Botak tidak boleh dijadikan alasan untuk menulis ulang sejarah.
Emas Bisa Hilang, Sejarah Harus Tetap Ada Emas suatu hari dapat habis.
Tambang dapat berhenti.Kegiatan pertambangan dapat berubah.Harga emas dapat naik dan turun.
Tetapi sejarah leluhur tidak boleh ikut naik dan turun mengikuti harga emas.
Karena itulah, siapa pun yang berbicara mengenai Raja Petuanan Kaiely harus kembali kepada akar sejarah.
Telusuri leluhurnya.Periksa silsilahnya.Dengarkan para pemangku adat.Pelajari pranata adat.
Dengar masyarakat.
Dan pastikan proses pengakuannya berlangsung sesuai mekanisme yang memang hidup dan diakui dalam masyarakat hukum adat.
Jangan biarkan sejarah ditentukan hanya oleh selembar pengakuan administratif tanpa terlebih dahulu memahami akar adat yang melahirkannya.
Sebab administrasi dapat dibuat hari ini.
Tetapi sejarah dibangun selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Kaiely Bukan Panggung Perebutan Mahkota Kaiely tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang ingin menjadi raja.
Kaiely membutuhkan orang-orang yang mau menjaga sejarahnya. Yang dibutuhkan bukan sekadar orang yang memakai gelar.
Yang dibutuhkan adalah orang yang memahami makna gelar itu.Sebab menjadi raja bukan hanya soal menyebut nama dan kedudukan.
Ada tanggung jawab moral kepada leluhur.Ada tanggung jawab kepada masyarakat.Ada kewajiban menjaga adat.Ada kewajiban menjaga tanah dan kehormatan petuanan.
Dan ada tanggung jawab untuk memastikan generasi berikutnya tidak kehilangan jejak sejarahnya.
Karena itu, polemik Raja Petuanan Kaiely jangan dibiarkan menjadi pertarungan kepentingan.
Kembalikan persoalan itu kepada sejarah, silsilah, adat dan masyarakat hukum adat.
Jika garis keturunan keluarga Wael dari Mansur Wael hingga Fandy Ashari Wael dapat dibuktikan, maka sejarah tersebut harus dihormati dalam proses penyelesaian.
Jika ada pihak lain yang memiliki dasar sejarah berbeda, tampilkan pula buktinya.Jangan takut kepada pembuktian.Sebab sejarah yang benar tidak perlu takut diuji.
Jangan Biarkan Kilau Emas Membutakan Sejarah Pada akhirnya, persoalan Raja Petuanan Kaiely bukan hanya tentang siapa yang berdiri di depan dan disebut raja.
Ini tentang bagaimana sebuah masyarakat menjaga martabat leluhurnya.Jangan sampai generasi hari ini mewariskan kepada anak cucu sebuah sejarah yang telah berubah karena kepentingan sesaat.
Jangan sampai anak cucu Kaiely kelak bertanya:“Mengapa orang-orang baru berbicara tentang raja ketika Gunung Botak menghasilkan emas?”
Pertanyaan itu akan menjadi luka bagi sejarah.Sebab Kaiely telah memiliki raja dan sejarahnya jauh sebelum emas ditemukan.
Maka sejarah harus ditempatkan di atas kepentingan.
Adat harus ditempatkan di atas ambisi.Dan kebenaran harus ditempatkan di atas klaim.
Raja Kaiely bukan gelar yang lahir dari kilau emas.Ia adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah petuanan.
Dari leluhur kepada generasi.Dari sejarah kepada sejarah.Dari masa lalu menuju masa depan.Raja Kaiely dari masa ke masa—bukan dari kilau emas.Sebab emas berada di dalam tanah.Tetapi martabat raja berada di dalam sejarah.

