Top 5 This Week

Related Posts

Pemuda Lintas Agama (Pelita), Songsong Kerukunan Purworejo

 

Purworejo, KOMPAS.SBS – Bukan sekadar serah terima jabatan atau pidato resmi, di Hotel Sanjaya Inn Kamis (2/7/2026), Purworejo menyaksikan lahirnya “penjaga masa depan” kerukunan daerah. Enam tokoh muda dari beragam latar belakang agama dan organisasi kepemudaan resmi dikukuhkan sebagai pengurus Pemuda Lintas Agama (Pelita) periode 2026–2029 – bukti nyata bahwa persatuan di tanah ini bertumpu pada tangan generasi penerus.

Wakil Bupati Purworejo, Dion Agasi Setiabudi, menempatkan langkah ini jauh lebih berharga sekadar kegiatan rutin: “Pelita adalah investasi sosial terbesar kita untuk bertahun-tahun mendatang. Dinding terkuat mencegah perpecahan bukan dibangun pemerintah, melainkan dari keakraban antar anak muda yang tumbuh bersama, saling kenal, dan saling percaya.”

Seringkali gesekan dan prasangka muncul bukan karena perbedaan ajaran, tapi karena jarang bertegur sapa. Itulah sebabnya Pelita hadir bukan sebagai forum diskusi kaku, melainkan ruang untuk mengenal satu sama lain secara manusiawi. “Saling kenal adalah awal segalanya. Kalau kita sudah tahu siapa tetangga kita, apa harapannya, apa kesulitannya, rasa curiga pasti hilang,” tambah Dion.

Pelajaran pahit dari daerah lain menjadi pengingat penting: banyak konflik besar bermula dari hal sepele, persoalan pribadi yang meluas karena tidak ada jembatan komunikasi. Di sinilah peran krusial Pelita: menjadi tempat pertama yang menenangkan, menjelaskan, dan menyatukan sebelum kesalahpahaman berubah menjadi permusuhan.

Ketua FKUB Kabupaten Purworejo, KH Khabib Sholeh, berharap keenam pengurus terpilih – H. M. Tashilul Manasik, Yusriana Azizah, Ahmad Fadhol Arifin, Rivaldi Anjar Saputra, Yohanes Teguh Surahmadi, dan Aditthana Devi Asih – menjadi pelopor nyata. “Mereka harus cerdas menyebarkan kebaikan di media sosial, aktif bergerak dalam kegiatan sosial bersama, dan menjadi contoh bahwa beragama itu membuat kita lebih peduli, bukan lebih menjauh dari sesama,” ujarnya

.
Acara ini sekaligus membuka penguatan kapasitas bagi 112 anggota Paguyuban Kerukunan Antarumat Beragama (PKUB) serta perwakilan FKUB, Kesbangpol, dan Kementerian Agama. Semua sepakat: keberagaman Purworejo adalah kekayaan yang harus dirawat dengan sikap saling menjaga – kelompok mayoritas memberi rasa aman, minoritas merasa dihargai, semua bisa beribadah dan berkarya dengan tenang.

Kini Pelita telah menyala. Tugasnya sederhana namun mulia: membuktikan bahwa di Purworejo, berbeda keyakinan bukan alasan untuk terpisah, melainkan justru alasan untuk saling melengkapi demi daerah yang damai dan sejahtera.

(SBE)

Popular Articles