Top 5 This Week

Related Posts

Pelatihan Pengembangan Hilirisasi Kopi Loka

Kompas.sbs – Yayasan Mitra Hijau (YMH) melalui Program Innovation Regions for a Just Energy Transition (IKI-JET) menyelenggarakan Pelatihan Pengembangan Hilirisasi Kopi Lokal: Dari Potensi Budidaya hingga Barista sebagai Penggerak Green Jobs di Kabupaten Muara Enim di Hotel Saka, Kabupaten Muara Enim. Kegiatan ini diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari Forum Rembuk Serasan Hijau, kelompok pemuda, kelompok perempuan, pelaku UMKM, calon petani kopi, serta masyarakat yang memiliki minat mengembangkan usaha berbasis kopi. Senin, (20/07/2026).

Pelatihan ini bertujuan memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengembangkan kopi lokal sebagai sumber penghidupan berkelanjutan sekaligus mendukung implementasi transisi energi berkeadilan melalui penguatan ekonomi hijau dan penciptaan green jobs.

Pelatihan ini merupakan bagian dari upaya Yayasan Mitra Hijau mendorong transformasi ekonomi di Kabupaten Muara Enim yang selama ini bergantung pada sektor ekstraktif menuju ekonomi yang lebih hijau, inklusif, dan berkelanjutan. Pengembangan komoditas kopi dinilai memiliki potensi besar sebagai sektor ekonomi alternatif karena mampu menciptakan peluang usaha sepanjang rantai nilai, mulai dari budidaya, pengolahan pascapanen, hilirisasi produk, pemasaran, hingga penyediaan jasa barista dan kedai kopi.

Direktur Eksekutif Yayasan Mitra Hijau, Dr. Doddy S. Sukadri, menjelaskan bahwa keberhasilan transisi energi berkeadilan tidak hanya ditentukan oleh pembangunan energi baru terbarukan, tetapi juga oleh kemampuan daerah dalam menciptakan sumber-sumber ekonomi baru yang mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan.
“Transisi energi berkeadilan bukan hanya tentang beralih dari energi fosil ke energi bersih, tetapi juga memastikan masyarakat memiliki kesempatan memperoleh penghidupan yang lebih baik. Hilirisasi kopi menjadi contoh nyata bagaimana potensi lokal dapat menciptakan nilai tambah, membuka green jobs, dan memperkuat ekonomi masyarakat di tengah proses transformasi ekonomi daerah,” ujar Doddy.
Dalam paparannya, Doddy menjelaskan bahwa Sumatera Selatan memiliki peluang besar untuk membangun ekonomi hijau melalui hilirisasi komoditas unggulan, termasuk kopi. Menurutnya, peningkatan nilai tambah produk melalui pengolahan, pengemasan, branding, dan pemasaran akan meningkatkan daya saing kopi lokal sekaligus membuka berbagai profesi baru seperti roaster, barista, quality control, hingga pengelola usaha kopi yang menjadi bagian dari ekosistem green jobs.

Pada sesi berikutnya, praktisi budidaya kopi, Suratin memaparkan potensi Kopi Semende sebagai komoditas unggulan Kabupaten Muara Enim. Ia menjelaskan sejarah perkembangan kopi di wilayah Semende, karakteristik kopi robusta, arabika, dan liberika, teknik budidaya berkelanjutan, serta peluang pengembangan kopi Liberika pada lahan pascatambang sebagai bagian dari rehabilitasi lingkungan dan diversifikasi ekonomi masyarakat.
“Muara Enim memiliki kondisi agroklimat yang sangat mendukung pengembangan kopi. Apabila budidaya dilakukan secara berkelanjutan dan diikuti dengan pengelolaan pascapanen yang baik, kopi lokal akan memiliki daya saing tinggi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” jelas Suratin.

Selain memaparkan potensi tersebut, Suratin juga menyoroti salah satu tantangan yang masih dihadapi dalam pengembangan kopi di Kabupaten Muara Enim, yaitu belum tersedianya sumber benih kopi Liberika yang tersertifikasi. Padahal, kopi Liberika dinilai memiliki kemampuan adaptasi yang baik pada lahan marginal, termasuk lahan pascatambang yang telah direklamasi, sehingga berpotensi menjadi komoditas alternatif yang mendukung transformasi ekonomi masyarakat di wilayah terdampak sektor ekstraktif.

Menurutnya, ketersediaan benih bersertifikat menjadi faktor penting untuk menjamin mutu bibit, menjaga produktivitas tanaman, serta meningkatkan kepercayaan petani dalam mengembangkan kopi Liberika secara lebih luas. Oleh karena itu, diperlukan sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, lembaga penelitian, perguruan tinggi, sektor swasta, dan komunitas kopi untuk mendorong lahirnya sumber benih Liberika bersertifikat di Kabupaten Muara Enim.

“Muara Enim memiliki potensi besar untuk mengembangkan kopi Liberika, terutama pada lahan pascatambang. Namun agar pengembangannya lebih optimal, kita memerlukan sumber benih yang tersertifikasi sehingga petani memperoleh bibit yang berkualitas dan memiliki kepastian asal-usul. Ini menjadi pekerjaan bersama yang perlu didukung oleh pemerintah, lembaga penelitian, dan seluruh pemangku kepentingan,” ujar Suratin.
Ia menambahkan bahwa penguatan sektor perbenihan akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan industri kopi yang berkelanjutan. Dengan dukungan bibit unggul, peningkatan kapasitas petani, serta pengembangan hilirisasi produk, kopi lokal diharapkan mampu menjadi salah satu penggerak ekonomi hijau, menciptakan lapangan kerja baru (green jobs), sekaligus memperkuat implementasi transisi energi berkeadilan di Kabupaten Muara Enim.

Sesi berikutnya menghadirkan Robby Anugrah Putra, Ketua Umum Muara Enim Coffee (MEC) sekaligus Founder WD Coffee & Roastery, yang membawakan materi mengenai hilirisasi kopi dari hulu ke hilir. Dalam paparannya, Robby menegaskan bahwa peningkatan nilai tambah kopi tidak dimulai saat proses penyeduhan, tetapi sejak budidaya, penanganan pascapanen (processing), pengeringan (drying), penyangraian (roasting), hingga pengembangan berbagai produk turunan kopi.
Ia menjelaskan bahwa kualitas green bean menjadi fondasi utama dalam menghasilkan kopi berkualitas. Setelah melalui proses processing dan drying, biji kopi memasuki tahap roasting untuk membentuk karakter rasa sebelum dipasarkan atau diseduh. Melalui pendekatan Research and Development (R&D), kualitas kopi dapat terus ditingkatkan melalui riset, standardisasi, dan inovasi sehingga mampu menghasilkan produk yang lebih konsisten dan memiliki daya saing tinggi di pasar.
Robby juga memperkenalkan berbagai peluang hilirisasi kopi, mulai dari pemasaran green bean, roasted bean, produk seduh, kebutuhan roastery dan kafe, hingga pengembangan berbagai produk olahan UMKM. Bahkan, bagian-bagian tanaman kopi juga dapat dimanfaatkan menjadi produk nonpangan melalui pendekatan zero waste, sehingga mampu memperluas peluang usaha sekaligus mengurangi limbah.
“Hilirisasi kopi bukan sekadar mengajarkan cara menyeduh kopi. Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat memahami seluruh rantai nilai kopi, mulai dari kebun, proses pascapanen, roasting, hingga menjadi berbagai produk yang memiliki nilai jual lebih tinggi. Semakin banyak produk turunan yang dihasilkan, semakin besar nilai ekonomi yang dinikmati petani, UMKM, dan pelaku usaha lokal,” ujar Robby.
“Setiap bagian dari kopi memiliki potensi untuk dimanfaatkan. Dengan inovasi dan pendekatan zero waste, kita tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga membangun industri kopi yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan,” tambahnya.

Sebagai penutup, peserta mengikuti praktik dasar barista yang dipandu langsung oleh Robby Anugrah Putra. Pada sesi ini peserta mempraktikkan penggunaan berbagai peralatan kopi, teknik dasar espresso, manual brew, pengaturan dosis dan ekstraksi, hingga teknik penyajian minuman kopi yang sesuai standar. Praktik tersebut memberikan pengalaman langsung kepada peserta mengenai profesi barista sekaligus memperlihatkan bahwa penyajian kopi merupakan salah satu mata rantai penting dalam meningkatkan nilai tambah komoditas kopi lokal.

Melalui perpaduan materi mengenai ekonomi hijau, budidaya kopi berkelanjutan, hilirisasi dari hulu ke hilir, inovasi produk, hingga praktik dasar barista, peserta memperoleh pemahaman menyeluruh mengenai rantai nilai industri kopi. Pendekatan tersebut diharapkan mampu melahirkan wirausaha baru berbasis kopi lokal yang tidak hanya menjual hasil panen, tetapi juga menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, memperluas akses pasar, serta menciptakan green jobs sebagai bagian dari transformasi ekonomi Kabupaten Muara Enim menuju masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

TiO

Popular Articles