Top 5 This Week

Related Posts

Hus Bokeama 2026: Ketika Budaya, Persaudaraan, dan Rasa Syukur Menyatu di Rote Ndao

Doc Foto tradisi Hus bokeama.2026

ROTE NDAO, KOMPAS.SBS – Tradisi Hus Bokeama, budaya pacuan kuda khas masyarakat Desa Lentera, Kecamatan Rote Barat Daya, Kabupaten Rote Ndao, kembali digelar sebagai bentuk ungkapan syukur atas hasil panen. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tetap bertahan berkat semangat gotong royong masyarakat, meski sebagian besar pembiayaannya masih mengandalkan swadaya. Jumat (17/07/2026).

Kegiatan tahunan tersebut diselenggarakan oleh masyarakat Desa Lentera secara bergilir antara Dusun Roioen dan Dusun Bokeama. Selain menjadi tradisi syukuran pascapanen, Hus Bokeama juga menjadi ajang mempererat persaudaraan masyarakat dari berbagai wilayah di Pulau Rote.

Anggota DPRD Kabupaten Rote Ndao dari Fraksi Perindo, Mikael Manu, menegaskan bahwa Hus Bokeama bukan merupakan program pemerintah, melainkan tradisi yang sejak awal dipelihara dan dilestarikan oleh masyarakat.

“Kegiatan Hus Bokeama ini bukan merupakan program pemerintah. Tradisi ini sudah ada jauh sebelum pemerintah terlibat dalam pengembangan sektor pariwisata. Hingga saat ini, masyarakat tetap menjaga dan melestarikannya secara mandiri,” ujar Mikael.

Menurutnya, keberlangsungan tradisi tersebut tidak terlepas dari peran masyarakat bersama para pencinta dan penunggang kuda hus maupun kuda tem di Pulau Rote yang terus mempertahankan warisan budaya leluhur.

Meski demikian, Mikael berharap Pemerintah Kabupaten Rote Ndao memberikan perhatian yang lebih merata terhadap pelestarian budaya daerah. Ia menilai penyelenggaraan kegiatan budaya tidak seharusnya hanya dipusatkan di satu wilayah setiap tahun.

“Kalau pemerintah benar-benar ingin melestarikan budaya Rote, pelaksanaannya jangan hanya dipusatkan di satu kecamatan. Berikan kesempatan secara bergiliran kepada kecamatan-kecamatan lain agar seluruh masyarakat dapat merasakan manfaat dan ikut melestarikan budaya ini,” katanya.

Ia mengusulkan agar penyelenggaraan festival budaya dilakukan secara bergilir di berbagai kecamatan, seperti Rote Barat, Rote Barat Daya, Lobalain, dan wilayah lainnya. Dengan demikian, pelestarian budaya dapat berjalan lebih merata sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat di setiap daerah.

Sementara itu, Kepala Desa Lentera, Dance Nggebu, menjelaskan bahwa Hus Bokeama merupakan agenda tahunan yang dilaksanakan secara bergilir oleh dua dusun di desa tersebut.

“Tahun ini giliran Dusun Bokeama, sedangkan tahun lalu diselenggarakan oleh Dusun Roioen. Tradisi ini kami laksanakan setiap selesai panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang diberikan,” ujarnya.

Dance mengatakan Pemerintah Desa Lentera memberikan dukungan anggaran untuk membantu pelaksanaan kegiatan. Namun, sebagian besar biaya penyelenggaraan tetap berasal dari swadaya masyarakat.

“Panitia juga menggalang dana melalui proposal kepada berbagai pihak serta menerima bantuan dari para donatur karena kegiatan seperti ini membutuhkan biaya yang cukup besar,” katanya.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti kapan tradisi tersebut pertama kali dilaksanakan. Namun, sejak menjabat sebagai Kepala Desa pada 2022, Hus Bokeama selalu digelar setiap tahun.

Menurut Dance, mayoritas masyarakat Desa Lentera berprofesi sebagai petani. Karena itu, Hus Bokeama memiliki makna yang sangat penting sebagai ungkapan syukur kepada Tuhan atas hasil panen sekaligus menjadi sarana mempererat hubungan sosial antarmasyarakat.

“Kegiatan ini bukan hanya menjadi bentuk syukur kepada Tuhan, tetapi juga menjadi ajang mempererat persaudaraan. Peserta datang dari berbagai daerah di Pulau Rote, seperti Ba’a dan Rote Timur, bahkan membawa kuda mereka menggunakan kendaraan. Hal ini menunjukkan bahwa budaya mampu menyatukan masyarakat dari berbagai wilayah,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Kapolsek Rote Barat Daya yang diwakili oleh Bhabinkamtibmas Desa Oehan dan Desa Lentera, Bripka Ode Andi, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan budaya tersebut. Menurutnya, Polri selalu mendukung kegiatan masyarakat yang bersifat positif, khususnya yang bertujuan menjaga dan melestarikan warisan budaya daerah.

Ia menilai masyarakat Rote berhasil mempertahankan tradisi leluhur di tengah derasnya pengaruh budaya luar sehingga tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.

“Kami berharap kegiatan seni budaya Hus seperti ini terus dilaksanakan dan dilestarikan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Rote,” katanya.

Selain memberikan apresiasi, Bripka Ode Andi juga mengimbau seluruh masyarakat agar bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban selama kegiatan berlangsung. Ia meminta penonton tetap berada di area yang telah ditentukan dan tidak memasuki lintasan pacuan kuda demi menghindari risiko kecelakaan.

Ia juga mengingatkan para orang tua agar selalu mengawasi anak-anak selama kegiatan berlangsung sehingga tidak memasuki area lintasan pacuan yang dapat membahayakan keselamatan.

Di samping itu, masyarakat diimbau untuk tidak mengonsumsi minuman keras selama pelaksanaan kegiatan. Menurutnya, berbagai gangguan keamanan dalam kegiatan masyarakat sering kali dipicu oleh pengaruh minuman beralkohol.

“Mari kita bersama-sama menjaga keamanan, ketertiban, dan kenyamanan sehingga seluruh rangkaian kegiatan Hus Bokeama dapat berlangsung dengan aman, tertib, dan lancar,” ujarnya.

Melalui semangat gotong royong, dukungan pemerintah desa, partisipasi masyarakat, serta pengamanan dari aparat kepolisian, Tradisi Hus Bokeama terus bertahan sebagai salah satu warisan budaya masyarakat Kabupaten Rote Ndao. Selain menjaga identitas budaya lokal, tradisi ini juga dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata budaya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat di masa mendatang.

Popular Articles