Doc Foto editor kompas.sbs. 2026
ROTE NDAO | KOMPAS.SBS – Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di pelataran Kantor Bupati Rote Ndao, Senin (17/08/2026), menjadi momentum bagi Wakil Ketua I DPRD Kabupaten Rote Ndao, Denison Moy, S.T., untuk mengingatkan kembali arti kemerdekaan bagi masyarakat.
Bagi Denison, kemerdekaan tidak berhenti pada upacara, pengibaran bendera, atau perayaan setiap 17 Agustus. Kemerdekaan, menurut dia, harus hadir dalam kehidupan masyarakat melalui kesejahteraan, keadilan, dan terpenuhinya kebutuhan dasar.
“Tugas dan tanggung jawab kita sekarang bukan lagi perang. Perang bagi kita sebagai generasi pemimpin masa kini adalah bagaimana melawan kemiskinan, melawan ketidakadilan, dan mengangkat harkat dan martabat masyarakat,” kata Denison seusai upacara.
Ia mengatakan perjuangan generasi sekarang berbeda dengan perjuangan para pahlawan yang telah merebut kemerdekaan dengan pengorbanan besar.
Kini, medan perjuangan berada di tengah persoalan ekonomi dan sosial yang masih dihadapi masyarakat.
Salah satunya adalah kesulitan mendapatkan bahan bakar minyak (BBM), terutama bagi petani.
Denison mengaku prihatin karena persoalan BBM dapat berdampak langsung terhadap aktivitas masyarakat di kebun.
“Banyak masyarakat yang tanamannya layu hanya karena kesulitan mendapatkan BBM. Itu sebenarnya perang juga,” ujarnya.
Menurut dia, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan besar agar kemerdekaan benar-benar dirasakan masyarakat hingga ke tingkat bawah.
Denison juga menanggapi angka pertumbuhan ekonomi Rote Ndao yang disebut mencapai 7,96 persen.
Ia mengapresiasi capaian tersebut sebagai sebuah data. Namun, menurutnya, angka pertumbuhan ekonomi harus dilihat lebih jauh dari sekadar statistik.
Pertanyaan pentingnya, kata Denison, adalah apakah pertumbuhan tersebut sudah benar-benar dirasakan petani, nelayan, pedagang kecil, dan masyarakat berpenghasilan rendah.
“Secara data kita harus memberikan apresiasi. Tetapi kita juga harus memaknai data itu seperti apa. Jangan hanya secara data, tetapi dampaknya terhadap ekonomi masyarakat marginal juga harus dilihat,” katanya.
Ia menilai sektor pertanian, perikanan, dan kelautan menjadi bagian penting dalam menggerakkan ekonomi Rote Ndao. Karena itu, persoalan yang menghambat aktivitas masyarakat di sektor tersebut perlu segera ditangani.
Selain persoalan BBM, Denison menyoroti kebijakan pajak yang menurutnya perlu dievaluasi agar tidak semakin membebani masyarakat kecil.
Ia mencontohkan pedagang pasar yang datang membawa hasil pertanian untuk dijual. Menurut dia, pedagang belum tentu berhasil menjual seluruh dagangannya, tetapi tetap harus mengeluarkan biaya.
Denison meminta pemerintah lebih kreatif mencari sumber pendapatan daerah dengan mengoptimalkan potensi kekayaan daerah, bukan semata-mata meningkatkan beban masyarakat.
“Jangan hanya untuk menyelenggarakan pemerintahan, tetapi kemudian masyarakat dibebani pajak yang besar,” katanya.
Ia mengaitkan hal itu dengan semangat keadilan sosial dalam Pancasila. Menurutnya, Rote Ndao merupakan bagian dari NKRI sehingga pembangunan dan pengelolaan kekayaan nasional harus memberikan manfaat bagi seluruh masyarakat.
Di sisi lain, Denison melihat adanya peluang pembangunan yang dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat Rote Ndao.
Salah satunya adalah Program Strategis Nasional (PSN) tambak garam.
Menurut Denison, program tersebut berpotensi membuka lapangan pekerjaan dan memberikan kesempatan ekonomi bagi masyarakat.
“PSN tambak garam saya pikir merupakan berkat bagi Rote Ndao, terutama karena membuka peluang pekerjaan bagi masyarakat,” ujarnya.
Terkait evaluasi terhadap pemerintahan Kabupaten Rote Ndao sejak 2025, Denison mengatakan masih terlalu dini untuk memberikan penilaian menyeluruh.
Ia bahkan mengakui pernah berbeda posisi politik dengan Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk. Namun, setelah sama-sama menjadi unsur penyelenggara pemerintahan, keduanya memiliki tanggung jawab yang sama untuk membangun daerah.
“Bapak Bupati tulus. Beliau sangat tulus dan berkomitmen membangun Rote,” kata Denison.
Persoalan BBM, lanjut Denison, telah menjadi perhatian DPRD, pemerintah daerah, dan pihak terkait.
Menurut dia, koordinasi telah dilakukan melalui forum bersama dengan sejumlah pihak, termasuk pengelola SPBU dan unsur terkait lainnya.
Ia mengatakan alasan cuaca sebelumnya sering digunakan untuk menjelaskan gangguan distribusi BBM. Namun, ketika kondisi cuaca membaik, persoalan tersebut masih terjadi.
“Dulu alasannya cuaca. Sekarang cuaca sudah membaik, tetapi masyarakat masih kesulitan mendapatkan BBM,” ujarnya.
Karena itu, Denison mengatakan evaluasi bersama akan dilakukan setelah peringatan HUT Kemerdekaan RI untuk mencari akar persoalan sekaligus solusi.
Ia berharap persoalan tersebut tidak lagi menghambat aktivitas masyarakat, terutama petani yang membutuhkan BBM untuk mengelola lahan dan menjaga tanaman.
Di akhir wawancara, Denison menyampaikan keprihatinan kepada masyarakat Flores yang terdampak bencana gempa bumi.
Ia mengajak masyarakat Rote Ndao untuk menunjukkan semangat gotong royong dan kepedulian sebagai sesama anak bangsa.
“Atas nama pribadi dan sebagai Wakil Ketua DPRD, kami turut prihatin dan berbela sungkawa atas korban bencana gempa bumi,” katanya.
Denison menyebut PDIP juga telah melakukan langkah bantuan melalui koordinasi internal partai, termasuk membuka dapur umum dan membantu kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Baginya, semangat kemerdekaan tidak hanya tentang bagaimana masyarakat merayakan kebebasan di daerah masing-masing, tetapi juga bagaimana satu daerah hadir bagi daerah lain ketika mengalami musibah.
“Makna kemerdekaan adalah rasa tanggung jawab kita bersama. Mereka yang berada di Flores juga bagian dari NKRI, bagian dari jiwa dan raga kita bersama,” pungkasnya.

