Top 5 This Week

Related Posts

Raja Petuanan Kaiely M Fuad Wael dan Prabowo Subianto: Senyum yang Menembus Waktu

 

Catatan Kenangan

Ada foto yang tidak sekadar merekam wajah.

Ada foto yang menyimpan waktu.

Ada pula foto yang, ketika dilihat kembali puluhan tahun kemudian, tiba-tiba terasa seperti membuka kembali sebuah lembar sejarah yang pernah berlalu begitu saja.

Foto kenangan ini memperlihatkan almarhum M. Fuad Wael, Raja Petuanan Kaiely,  ayahanda Raja Fandy Ashari Wael, bersama Prabowo Subianto puluhan tahun silam.

Keduanya tampak begitu akrab.

Berdiri berdampingan dengan senyum yang lepas, tanpa jarak, tanpa sekat, seolah waktu ketika foto itu diabadikan tidak pernah membayangkan ke mana perjalanan hidup keduanya akan bermuara.

Kala itu, tentu tidak ada yang tahu bagaimana sejarah akan menulis nama mereka.

Tidak ada yang tahu bahwa sosok muda yang berada di samping Fuad Wael itu, puluhan tahun kemudian, akan berdiri di puncak kekuasaan Republik Indonesia sebagai Presiden Republik Indonesia.

Begitulah waktu.Ia berjalan diam-diam.

Meninggalkan manusia di belakangnya, tetapi membawa cerita yang suatu hari kembali ditemukan melalui sebuah foto.

Kini, ketika foto itu kembali dilihat, senyum keduanya terasa memiliki makna yang berbeda.

Di satu sisi ada seorang putra Maluku, seorang pemimpin adat Kaiely yang telah berpulang.

Di sisi lain, ada seorang tokoh nasional yang perjalanan hidupnya kemudian membawanya menjadi Presiden Republik Indonesia.

Dua manusia.Satu bingkai.Satu masa lalu.

Dan sebuah sejarah yang tidak pernah mereka tahu akan terjadi ketika kamera mengabadikan senyum itu.

Bagi keluarga dan masyarakat Kaiely, foto tersebut tentu bukan sekadar dokumentasi lama.

Ia adalah kenangan tentang M. Fuad Wael—seorang ayah, seorang pemimpin adat, dan sosok yang pernah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Petuanan Kaiely.

Hari ini, putranya, Fandy Ashari Wael, meneruskan jejak kehidupan dalam ruang sejarah yang berbeda.

Dan foto lama itu seakan berbisik bahwa setiap generasi memiliki zamannya sendiri.

Yang tinggal dari generasi sebelumnya bukan hanya nama.

Tetapi juga kenangan, keteladanan, hubungan persaudaraan, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Puluhan tahun telah berlalu. Rambut mungkin telah berubah.Wajah zaman telah berganti.Kekuasaan pun berpindah.

Tetapi sebuah senyum dalam foto tetap tinggal di sana.

Diam. Abadi.

Menjadi saksi bahwa sebelum seseorang menjadi bagian dari sejarah besar sebuah bangsa, ia pernah menjadi manusia biasa yang bertemu, bersahabat, berbincang dan tersenyum bersama orang-orang yang ditemuinya dalam perjalanan hidup.

Dan hari ini, ketika kita memandang foto tersebut, mungkin ada satu hal yang paling terasa:

Betapa cepat waktu berlalu.

Seseorang yang dahulu berdiri bersama kita, kini hanya tinggal dalam kenangan.

Sementara seseorang yang dahulu masih berada dalam perjalanan panjangnya, kini telah menjadi Presiden Republik Indonesia.

Itulah kehidupan.

Manusia berjalan melewati waktu, tetapi kenangan kadang menemukan cara untuk membuat masa lalu kembali hadir.

Semoga almarhum M. Fuad Wael mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Semoga segala amal ibadahnya diterima, segala khilaf dan salahnya diampuni, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan.

Al-Fatihah.

Untuk almarhum Raja Petuanan Kaiely, M. Fuad Wael.Sebuah senyum dalam sebuah foto.

Tetapi di baliknya, tersimpan perjalanan waktu yang begitu panjang.

Kini foto itu bukan hanya kenangan.Ia telah menjadi bagian dari sejarah.Namlea, 23 September 2026

(Dian)

Popular Articles