Top 5 This Week

Related Posts

Residensi Rimbaud: Prancis dan Indonesia Buka Babak Baru Kerja Sama Sastra

JAKARTA – kompas.sbs Seratus lima puluh tahun setelah penyair Prancis, Arthur Rimbaud, tiba di Semarang (kota awal perjalanannya melintasi Jawa), jejaknya terus menginspirasi babak baru dalam hubungan budaya antara Prancis dan Indonesia. Menyusul peresmian pameran “Arthur Rimbaud: A Joumey through Java” di Semarang pada 6 Agustus oleh Bapak Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, TimorLeste, dan ASEAN, serta Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, Wali Kota Semarang, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia — Institut francais d’Indonesie (IFI), bekerja sama dengan Pemerintah Kota Semarang, meluncurkan “Residensi Rimbaud”. Program ini merupakan residensi sastra bilateral resiprokal pertama antara Prancis dan Indonesia. Semarang dipilih sebagai kota tuan rumah pertama karena keterkaitannya langsung dengan perjalanan Rimbaud pada tahun 1876, yang mana mengubah warisan sejarah bersama menjadi wadah kontemporer untuk pertukaran sastra.

Kemitraan ini menjadi sorotan utama dalam konferensi pers di Kediaman Duta Besar Prancis di Jakarta pada 10 September, yang dihadiri oleh Bapak Fabien Penone, Dr. Agustina Wilujeng Pramestuti, dan Bapak Louis-Philippe Dalembert, residen pertama program Residensi Rimbaud. Kehadiran mereka mencerminkan semangat inisiatif ini: menjalin hubungan antara Prancis dan Indonesia melalui sastra sekaligus memperkuat kerja sama antara lembaga, penulis, dan masyarakat setempat.

Dinamai berdasarkan nama Arthur Rimbaud, yang masa tinggal singkatnya di Jawa Tengah telah menjadi warisan sastra bersama Prancis dan Indonesia, program Residensi Rimbaud bertujuan untuk mengubah memori sejarah ini menjadi program yang dinamis berupa penulisan sastra, pertukaran, dan dialog antara para penulis dan komunitas di kedua negara.

Dari Perjalanan Rimbaud menuju Pertemuan Sastra Baru

Arthur Rimbaud (1854-1891) adalah salah satu tokoh terbesar dalam sastra Prancis dan pelopor puisi modern yang memicu munculnya surealisme. Ia juga menginspirasi banyak seniman, ikon sastra, dan musik di berbagai benua, mulai dari penyair modernis Jepang Nakahara Chuya hingga Chairil Anwar (yang sering disebut sebagai “Arthur Rimbaud dari Indonesia”), penyanyi Amerika Bob Dylan, Jim Morrison, dan Patti Smith, seniman visual Jean-Michel Basguiat, hingga penulis manga Kafka Asagiri dan Sango Harukawa (dalam Bungo Stray Dogs atau BSD).

Pada Juli 1876, Arthur Rimbaud tiba di Semarang setelah mendaftar di Tentara Kerajaan Hindia Belanda (KNIL) karena alasan keuangan. Ia melakukan perjalanan dengan kereta api melalui Kedungjati dan Tuntang sebelum tiba di Salatiga, tempat ia membelot dari tentara hanya beberapa hari kemudian, setelah menerima gajinya. Penyair muda itu kemudian menghilang dari catatan militer, sehingga hanya sedikit dokumentasi yang tersisa mengenai masa tinggalnya di Jawa.

Perjalanannya melintasi Jawa Tengah kini telah menjadi warisan sastra bersama. Kisahnya dimuat dalam buku Indonesia, Cahaya yang Mempesona – 150 Tahun Hubungan Prancis-Indonesia, sebuah publikasi peringatan 75 tahun hubungan diplomatik antara Prancis dan Indonesia pada tahun 2025, ditulis oleh Alexis Salatko. Publikasi ini juga memuat potret sepuluh tokoh Prancis lainnya yang mana pertemuan mereka dengan Indonesia menggambarkan satu setengah abad dialog artistik, ilmiah, dan intelektual bilateral.

Pada tanggal 6 Agustus, pembukaan pameran khusus di Semarang serta perjalanan simbolis Duta Prancis menyusuri rute Rimbaud dari Semarang ke Kedungjati, Tuntang, dan Salatiga telah memberikan babak baru pada episode sejarah bersama ini. Program Residensi Rimbaud kini membawa kisah selangkah lebih jauh: dari mengenang sebuah perjalanan menuju penciptaan perjalanan baru.

Popular Articles