Top 5 This Week

Related Posts

Di Ujung Usia, Tukang Parkir Masih Berdiri Menjaga Kendaraan

KOMPAS SBS # Denpasar – Bali ||

Oleh Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum.
Akademisi Universitas Dwijendra

Ketika tubuh mulai kehilangan kekuatan, sebagian orang justru masih harus berdiri di tengah lalu lintas untuk mempertahankan penghidupan.

Para tukang parkir lanjut usia menghadapi risiko keselamatan yang sering luput dari perhatian. Para tukang parkir lanjut usia berdiri di tepi jalan. Tangannya sesekali terangkat memberi tanda kepada kendaraan yang hendak masuk atau keluar dari area parkir.

Di tengah suara mesin, klakson, dan lalu-lalang kendaraan, ia menjalankan pekerjaan yang bagi banyak orang terlihat sederhana: mengatur parkir dan membantu pengendara.

Namun, di balik seragam dan peluit yang dikenakannya, terdapat persoalan yang jauh lebih serius. Seberapa aman seseorang yang telah berusia lanjut bekerja di ruang yang setiap saat berhadapan dengan kendaraan bergerak?

Pertanyaan itu penting karena pekerjaan tukang parkir bukan sekadar pekerjaan yang membutuhkan ketepatan mengarahkan kendaraan.

Mereka harus berdiri berjam-jam, bergerak cepat ketika kendaraan datang, memasuki ruang sempit di antara kendaraan, serta berhadapan dengan pengendara yang tidak selalu berhati-hati.

Dalam situasi tertentu, keterlambatan sepersekian detik dalam menghindari kendaraan dapat berakibat fatal.

Bagi tukang parkir berusia muda, tuntutan fisik tersebut mungkin masih dapat diimbangi dengan kecepatan refleks dan kekuatan tubuh. Persoalannya berbeda ketika pekerjaan itu dilakukan oleh seseorang yang sudah memasuki usia senja.

Ketika Usia Tidak Lagi Menjadi Pilihan
Menjadi tukang parkir pada usia lanjut sering kali bukan semata-mata persoalan pilihan pekerjaan.

Bagi sebagian orang, pekerjaan tersebut merupakan cara paling realistis untuk tetap memperoleh penghasilan. Usia membuat pilihan pekerjaan semakin terbatas.

Pekerjaan yang membutuhkan tenaga fisik mungkin justru menjadi semakin berat, sementara pekerjaan yang membutuhkan keterampilan tertentu tidak selalu tersedia.

Dalam kondisi seperti itu, ruang parkir di pinggir jalan dapat berubah menjadi tempat seseorang mempertahankan kemandirian ekonominya.

Di sinilah persoalannya menjadi dilematis. Di satu sisi, masyarakat tentu menghargai orang lanjut usia yang masih mau bekerja dan tidak menggantungkan hidup sepenuhnya kepada orang lain.

Namun, di sisi lain, semangat bekerja tidak boleh membuat keselamatan mereka diabaikan. Kemauan untuk bekerja tidak identik dengan kemampuan tubuh untuk menanggung seluruh risiko pekerjaan.

Persoalan ini sering kali tidak terlihat karena masyarakat lebih mudah melihat fungsi tukang parkir daripada kondisi orang yang menjalankan fungsi tersebut.

Ketika kendaraan berhasil keluar dari tempat parkir tanpa benturan, pekerjaan dianggap selesai. Ketika parkir berlangsung tertib, keberadaan tukang parkir dianggap biasa.

Padahal, di balik ketertiban tersebut terdapat tubuh manusia yang berdiri di antara kendaraan.
Keselamatan yang Sering Dianggap Sepele
Risiko keselamatan tukang parkir sebenarnya sangat konkret. Mereka bekerja di ruang yang tidak selalu memiliki batas jelas antara area kendaraan dan area pejalan kaki.

Mereka juga tidak memiliki perlindungan fisik seperti penghalang jalan, ruang kerja khusus, atau perlengkapan keselamatan sebagaimana pekerja di sektor formal.

Situasi menjadi lebih rentan ketika tukang parkir harus mengatur kendaraan pada jam sibuk. Arus kendaraan yang padat meningkatkan kemungkinan terjadinya kesalahan. Pengendara yang terburu-buru, kendaraan yang bergerak mendadak, atau pengemudi yang tidak memperhatikan aba-aba dapat menempatkan tukang parkir dalam posisi berbahaya.

Kemampuan melihat, mendengar, menjaga keseimbangan, dan merespons gerakan secara cepat dapat mengalami perubahan seiring bertambahnya usia. Tidak berarti orang lanjut usia tidak mampu bekerja, tetapi jenis pekerjaan dan lingkungan kerja semestinya mempertimbangkan kondisi fisik pekerjanya.

Jangan Menunggu Kecelakaan
Perhatian terhadap keselamatan tukang parkir sering kali baru muncul ketika kecelakaan terjadi. Ini merupakan pola yang seharusnya diubah. Keselamatan semestinya dibangun sebelum kecelakaan, bukan setelah kecelakaan.

Pemerintah daerah, pengelola kawasan, pemilik usaha, dan pihak yang mengatur perparkiran perlu melihat kondisi para petugas parkir sebagai bagian dari ekosistem keselamatan lalu lintas.

Area parkir perlu memiliki batas yang jelas. Posisi petugas sebaiknya tidak memaksa mereka berdiri pada titik yang menjadi jalur langsung kendaraan.

Pada lokasi dengan arus kendaraan tinggi, diperlukan pengaturan lalu lintas yang lebih baik. Petugas parkir juga perlu mendapatkan perlengkapan keselamatan yang memadai serta edukasi mengenai posisi aman ketika mengatur kendaraan.

Tidak semua petugas harus melakukan pekerjaan dengan tingkat risiko fisik yang sama. Mereka dapat ditempatkan pada area yang relatif lebih aman, misalnya pada titik pembayaran, pengawasan, atau pengaturan administratif, sementara pekerjaan yang membutuhkan mobilitas tinggi diberikan kepada petugas yang secara fisik lebih siap. Yang harus dilakukan adalah memastikan bahwa pekerjaan tidak berubah menjadi ancaman terhadap keselamatan mereka.

Popular Articles