JAKARTA, Kompas.sbs – Sejumlah peziarah yang mengunjungi Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur di Kelurahan Kamal, Kecamatan Kalideres, Jakarta Barat, mengeluhkan ketidaknyamanan saat melaksanakan ziarah kubur. Keluhan utama mereka tertuju pada perilaku sebagian warga sekitar, termasuk anak-anak dan ibu-ibu, yang kerap menunggu atau mengikuti proses doa dari awal hingga selesai. Hal ini dinilai mengganggu kekhusyukan dan privasi para pengunjung makam.
Salah seorang peziarah berinisial FR menceritakan pengalamannya saat mengunjungi makam keluarga pada Jumat (12/6/2026). Menurutnya, kehadiran orang-orang yang terus-menerus mengawasi selama prosesi doa berlangsung menciptakan suasana canggung dan menyulitkan konsentrasi.
“Kalau memang mau naruh atau meminta sesuatu silakan saja, nanti setelah selesai juga bisa dipanggil. Tapi kalau dari awal sampai akhir ditungguin terus, ya terasa risih juga. Kadang jadi kurang konsentrasi saat berdoa,” ujar FR.
FR menegaskan bahwa ia tidak mempermasalahkan jika warga mendekat setelah proses doa selesai. Ia memahami kondisi ekonomi sebagian warga yang mungkin mencari rezeki di area pemakaman. Namun, ia berharap adanya ruang pribadi bagi peziarah untuk berdoa dengan tenang tanpa tekanan psikologis.
“Kalau sudah selesai baru datang juga enggak masalah. Kita juga paham kondisi sekarang, mungkin orang lagi cari rezeki. Tapi jangan sampai ditungguin terus selama berdoa,” kata FR.
Selain persoalan kenyamanan spiritual, FR juga menyoroti kondisi infrastruktur di area makam. Ia mencatat bahwa akses jalan menuju lokasi masih dalam tahap pembangunan. Ia berharap perbaikan tersebut segera rampung demi kemudahan dan keselamatan pengunjung.
“Jalannya mungkin masih dalam proses pembangunan, tinggal sedikit lagi. Mudah-mudahan bisa lebih baik,” tambahnya. FR juga mendesak pengelola makam untuk lebih tegas dalam menertibkan pihak-pihak yang dianggap mengganggu ketenangan berziarah.
Menanggapi keluhan tersebut, Petugas Pamdal di Kantor TPU Tegal Alur, Yuti, yang ditemui awak media mengakui adanya gangguan yang dialami peziarah. Ia berkomitmen untuk meningkatkan pengawasan di lapangan guna menjaga kenyamanan pengunjung.
“Kalau memang ada kejadian seperti itu, nanti akan kami cek di lokasi dan kami arahkan agar tidak mengganggu orang yang sedang berdoa,” ujar Yuti.
Yuti menjelaskan bahwa tantangan utama dalam pengawasan adalah banyaknya titik akses keluar-masuk di area pemakaman yang luas. Kondisi ini menjadi semakin rumit saat momen-momen ramai, seperti menjelang hari raya atau tradisi munggahan, di mana jumlah pengunjung, termasuk anak-anak yang bermain, meningkat signifikan.
“Kadang memang banyak orang datang, termasuk anak-anak. Apalagi menjelang hari raya, suasana lebih ramai. Tapi kami tetap berupaya mengarahkan agar tidak mengganggu peziarah,” jelasnya.

