Pemilik Rumah Makan Ayah Atas Simpang Lima, Namlea, Kabupaten Buru, Ulfendri, akhirnya angkat bicara terkait video viral yang menampilkan nasi bungkus diduga berisi belatung yang beredar luas di media sosial dan grup percakapan.
Ulfendri dengan tegas membantah bahwa video tersebut mencerminkan kondisi makanan dari usaha miliknya. Ia menegaskan seluruh proses pengolahan makanan di rumah makan yang dikelolanya selalu mengutamakan kebersihan dan kualitas.
“Semua masakan kami sangat dijaga, mulai dari pemilihan bahan baku hingga penyajian. Apa yang beredar dalam video itu tidak benar dan bukan berasal dari tempat kami,” ujar Ulfendri, Jumat (8/5/2026).
Ia menjelaskan, dalam video tersebut terlihat dua bungkus makanan dimakan oleh tiga orang. Selain itu, terdapat perkedel jagung yang disebut bukan berasal dari rumah makannya, melainkan makanan dari luar.
Ulfendri mengaku merasa dirugikan atas beredarnya video tersebut karena telah memicu keresahan di tengah masyarakat dan berpotensi menurunkan kepercayaan pelanggan. Menurutnya, informasi yang belum jelas kebenarannya seharusnya tidak langsung disebarluaskan tanpa konfirmasi.
Ia menegaskan bahwa pihaknya selalu menerapkan standar kebersihan yang ketat, termasuk dalam penyimpanan bahan makanan dan proses memasak. Bahkan, ia membuka diri apabila ada pihak berwenang yang ingin melakukan pemeriksaan langsung.
“Kami tidak pernah mengabaikan kebersihan. Masyarakat tidak perlu ragu untuk tetap membeli dan menikmati makanan di tempat kami,” tambahnya.
Ulfendri juga mengimbau masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi di media sosial dan tidak mudah terprovokasi oleh konten yang belum terverifikasi kebenarannya.
Menurutnya, selama 21 tahun menjalankan usaha rumah makan tersebut, ia selalu menjaga mutu dan kebersihan makanan. Ia juga menanggapi keluhan dari pegawai PT Adira yang menyebut nasi ikan yang mereka makan mengandung belatung.
Menurut Ulfendri, hal itu dinilai mustahil karena saat sisa makanan dibawa kembali ke rumah makan untuk diperiksa oleh Uda Rudi, ditemukan adanya dadar jagung, sementara rumah makan mereka tidak menjual maupun menyediakan menu tersebut.
“Jadi, kalau memang ada belatung, besar kemungkinan berasal dari makanan lain yang sudah tercampur,” tutupnya.

