Kebakaran yang melanda SD Negeri 1 Namlea bukan hanya menyisakan puing-puing bangunan, tetapi juga mengguncang harapan banyak anak yang setiap hari menggantungkan masa depan mereka di ruang-ruang kelas sederhana itu. Di tengah situasi penuh duka ini, kepedulian Rustam Fadly Tukuboya tampil sebagai suara yang menenangkan sekaligus menggerakkan.
Sebagai anggota DPRD Buru dan Ketua Komite sekolah, Rustam tidak sekadar menyampaikan rasa prihatin. Ia menunjukkan empati yang nyata—empati yang lahir dari kedekatan dengan dunia pendidikan dan tanggung jawab moral terhadap para siswa. Baginya, kebakaran ini bukan hanya soal kerusakan fisik, melainkan ancaman serius terhadap keberlangsungan pendidikan anak-anak di Namlea.
Seruannya agar dilakukan penyelidikan menyeluruh mencerminkan kepedulian terhadap keadilan dan keamanan, namun lebih dari itu, fokus utamanya tetap pada nasib para siswa. Ia dengan tegas mendorong pemerintah daerah untuk tidak berlama-lama dalam bertindak. Pendidikan tidak boleh berhenti, bahkan satu hari pun, karena setiap waktu yang hilang adalah bagian dari masa depan yang tertunda.
Di sinilah pentingnya peran pemerintah daerah. Musibah ini harus dijawab dengan langkah cepat dan konkret—menyediakan ruang belajar sementara, memastikan fasilitas darurat yang layak, serta mempercepat proses rehabilitasi sekolah. Anak-anak tidak boleh menjadi korban kedua dari bencana ini. Mereka berhak tetap belajar, berhak tetap bermimpi, dan berhak merasakan kehadiran negara dalam situasi sulit.
Kepedulian Rustam Fadly Tukuboya menjadi pengingat bahwa di balik jabatan, ada tanggung jawab kemanusiaan yang harus dijaga. Ia telah menunjukkan keberpihakan yang jelas: bahwa pendidikan anak-anak adalah prioritas yang tidak bisa ditunda. Kini, publik menanti langkah nyata pemerintah untuk menjawab seruan tersebut—agar dari musibah ini, lahir komitmen yang lebih kuat dalam menjaga keberlangsungan pendidikan bagi generasi penerus di Buru.

