Top 5 This Week

Related Posts

Sabang Menyala oleh Aroma Durian Aceh | Kompas.sbs.-News

Dari Persimpangan Malam hingga Kilometer Nol Indonesia,Sabang Menyala oleh Aroma Durian Aceh

MEDIAKOMPAS.SBS.-WILAYAH ACEH
KOMPAS.SBS.-NEWS || SABANG, ACEH — 8 FEBRUARI 2026-Denyut ekonomi rakyat Kota Sabang kembali menemukan ritmenya di malam hari. Dari persimpangan jalan hingga kawasan strategis kota, aroma durian Aceh mengisi ruang-ruang publik, menghadirkan aktivitas ekonomi yang nyata, hidup, dan berakar langsung pada hasil bumi rakyat.

Pantauan pers menunjukkan, sejumlah titik seperti Simpang Kuta Timu, Kuta Ateuh, kawasan Sabang Fair, hingga jalur menuju pusat kota dan destinasi wisata menjadi simpul pergerakan warga dan wisatawan.

Di bawah penerangan lampu malam, masyarakat tampak berhenti, berinteraksi, dan bertransaksi—sebuah potret urban yang merefleksikan geliat ekonomi skala kecil yang konsisten dan berkelanjutan.
Durian yang diperdagangkan merupakan hasil panen unggulan masyarakat Aceh dari sentra produksi seperti Tangse, Geumpang, dan wilayah penghasil lainnya.

Komoditas ini dikenal memiliki karakter rasa yang kuat, tekstur daging tebal, serta aroma khas yang menjadi daya tarik tersendiri. Para pedagang tidak hanya berperan sebagai penjual, tetapi juga sebagai penghubung pengetahuan, menjelaskan kualitas buah, tingkat kematangan, hingga perbedaan cita rasa berdasarkan daerah asal.

Aktivitas ini tetap berlangsung meski memasuki bulan suci Ramadan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa durian telah menjadi bagian dari budaya konsumsi masyarakat, sekaligus magnet kuliner bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Sabang, termasuk ke ikon nasional Kilometer Nol Indonesia. Kehadiran durian memperkuat posisi Sabang sebagai destinasi wisata yang menawarkan pengalaman menyeluruh—alam, budaya, dan kuliner lokal.

Selama ini, Sabang dikenal luas sebagai penghasil cengkeh. Namun, potensi sektor pertanian kota ini sesungguhnya jauh lebih beragam. Selain durian, terdapat komoditas lokal lain seperti salak, kakao (cokelat), serta padi gogo yang mulai dikembangkan secara bertahap oleh petani setempat. Fakta ini menegaskan bahwa Sabang memiliki basis pertanian rakyat yang layak diperhitungkan dalam strategi ketahanan pangan dan penguatan ekonomi daerah.

Ke depan, harapan besar diarahkan pada lahirnya durian khas Sabang sebagai identitas baru komoditas lokal. Dengan dukungan kondisi agroklimat yang sesuai, pengalaman petani, serta sinergi antara sektor pertanian dan pariwisata, Sabang memiliki peluang strategis untuk menjadikan hasil bumi sebagai penggerak ekonomi yang bernilai tambah.

Di Ujung Barat Indonesia, Sabang bukan sekadar penanda wilayah. Ia adalah representasi kerja rakyat, kekayaan alam, dan kota yang terus bergerak. Ketika malam tiba dan aroma durian menyebar di udara, Sabang menunjukkan bahwa denyut ekonomi lokal tetap hidup—tenang, pasti, dan berkelanjutan.

~Reporter Perss Kompas.sbs.-Aceh (Novi Karno)

~RedaksiNasional-KOMPAS.SBS.

Popular Articles