KOMPAS.SBS #
Denpasar – Bali || Oleh : Dr. I Ketut Suar Adnyana,M.Hum Akademisi Universitas Dwijendra.
Pemerintah Provinsi Bali berencana membuka lahan sawah baru seluas 6.000 hektare sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan daerah.
Gubernur Bali, I Wayan Koster, menyampaikan bahwa Bali masih memiliki potensi lahan kering yang selama ini kurang produktif dan dapat dialihfungsikan menjadi lahan pertanian produktif sebagai lumbung pangan baru.
Namun, rencana ambisius ini menimbulkan beberapa pertanyaan mendasar, terutama terkait siapa yang akan mengolah lahan tersebut dan bagaimana penyediaan sumber air untuk sawah baru di tengah tantangan regenerasi petani dan keterbatasan irigasi.
Salah satu persoalan utama yang dihadapi sektor pertanian di Bali adalah minat generasi muda yang terus menurun menjadi petani.
Banyak anak muda lebih memilih bekerja di sektor pariwisata dan industri kreatif yang dianggap lebih menjanjikan secara ekonomi.
Ketergantungan pada Tenaga Kerja Luar Bali Menjadi Tantangan Tambahan
Di tengah rendahnya minat generasi muda Bali untuk bekerja di sektor pertanian, saat ini proses pengolahan lahan, penanaman, hingga pemanenan padi di sejumlah wilayah justru banyak mengandalkan tenaga kerja dari luar Bali.
Fenomena ini terjadi karena sebagian petani lokal sudah berusia lanjut dan tidak mampu lagi melakukan pekerjaan fisik berat, sementara anak muda tidak tertarik menggantikannya.
Ketergantungan ini menimbulkan kekhawatiran baru: apabila lahan sawah diperluas hingga 6.000 hektare, siapa yang akan menggarapnya jika tenaga kerja lokal semakin berkurang?
Jika kondisi ini tidak diantisipasi, Bali berpotensi semakin bergantung pada pekerja luar daerah untuk sektor pangan yang sebenarnya merupakan tulang punggung ketahanan daerah.
Tanpa adanya program regenerasi petani yang konkret, rencana pembukaan 6.000 hektare lahan sawah baru berpotensi tidak mencapai hasil yang diharapkan.
Regenerasi petani bukan sekadar mengajak anak muda turun ke sawah, tetapi membutuhkan pendekatan sistematis yang mencakup insentif usaha yang menarik, pelatihan teknologi pertanian modern, serta skema bantuan modal yang memadai.
Insentif bagi Petani
Insentif pagi petani sangat diperlukan agar sektor pertanian kembali memiliki daya tarik ekonomi. Misalnya, pemerintah dapat memberikan subsidi alat pertanian, jaminan harga gabah, atau insentif pajak bagi petani muda.
Pelatihan teknologi pertanian modern seperti penggunaan drone untuk pemupukan, sistem irigasi pintar, hingga budidaya padi berkelanjutan akan menyesuaikan dengan minat generasi milenial yang akrab dengan teknologi.
Di sisi lain, bantuan modal sangat penting untuk mempermudah petani pemula membeli sarana produksi, mengelola lahan, dan mengatasi biaya awal yang seringkali menjadi hambatan.
Apabila langkah-langkah tersebut tidak dijalankan, lahan sawah baru yang dibuka berisiko terbengkalai.
Petani yang tersisa akan kewalahan mengelola tambahan lahan, sementara generasi muda tetap enggan terjun ke sektor pertanian.
Hal ini pada akhirnya menimbulkan kekhawatiran bahwa program perluasan sawah tidak akan efektif, bahkan bisa menambah beban pemerintah akibat lahan yang tidak tergarap dan hasil produksi yang stagnan.(Bud)

