Menjelang pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) ke-VI DPD II Partai Golkar Kabupaten Buru, denyut persiapan kian terasa. Ketua Panitia, Agus Prayitno, SH yang akrab disapa Bung Egho, memastikan bahwa roda kepanitiaan telah bergerak stabil dan terukur. Hingga Jumat, 3 April, progres persiapan disebut telah mencapai 80 persen—sebuah angka yang menandai keseriusan panitia dalam mengawal agenda strategis partai tersebut.
Musda yang dijadwalkan berlangsung pada 10–11 April di Hotel Kainawa, Namlea, Kabupaten Buru, diproyeksikan menjadi momentum penting dalam konsolidasi sekaligus regenerasi kepemimpinan. Dalam keterangannya, Agus menegaskan optimisme panitia bahwa seluruh rangkaian kegiatan akan berjalan dengan baik, lancar, dan bermartabat.
“Kami terus mematangkan berbagai aspek teknis maupun substansi. Panitia optimis Musda ini tidak hanya sukses secara penyelenggaraan, tetapi juga melahirkan kepemimpinan yang kuat dan visioner,” ujarnya.
Lebih jauh, panitia membuka ruang seluas-luasnya bagi kader terbaik Partai Golkar untuk ambil bagian dalam kontestasi. Harapan besar disematkan agar Musda tidak sekadar menjadi forum formalitas, melainkan ajang demokrasi internal yang hidup, kompetitif, dan berintegritas.
Sementara itu, ketua Steering Committee (SC) Taher Fua—akrab disapa Bung Tache—didampingi Ye Seh Asaagaf, memaparkan secara rinci tahapan penjaringan calon Ketua DPD II Golkar Kabupaten Buru. Berdasarkan ketetapan panitia pemilihan, proses pendaftaran akan dimulai pada 4 hingga 6 April, dengan agenda pengambilan formulir di Sekretariat DPD Golkar yang berlokasi di Jalan Pendopo Bupati, mulai pukul 08.00 hingga 12.00 waktu setempat.
Adapun pengembalian formulir dijadwalkan pada 7–8 April, yang kemudian dilanjutkan dengan proses verifikasi pada 9 April. Pada tahap ini, panitia akan menetapkan bakal calon yang memenuhi syarat untuk maju dalam bursa pemilihan Ketua DPD II Golkar Buru.
Menariknya, meski pendaftaran resmi belum dibuka, dinamika politik internal sudah mulai menghangat. Sejumlah kader disebut telah bergerak senyap namun pasti—melakukan komunikasi politik dan menggalang dukungan dari pimpinan kecamatan (PK), organisasi pendiri, organisasi yang didirikan, hingga organisasi sayap partai.
Fenomena ini menjadi sinyal bahwa Musda VI bukan sekadar agenda rutin, melainkan panggung strategis yang sarat dengan kontestasi gagasan, pengaruh, dan arah masa depan partai di Kabupaten Buru.
Dengan persiapan yang hampir rampung dan antusiasme kader yang terus menguat, Musda VI Golkar Buru tampaknya akan menjadi peristiwa politik lokal yang tidak hanya penting, tetapi juga menarik untuk disimak—sebuah perjumpaan antara tradisi organisasi dan semangat pembaruan yang tengah mencari bentuk terbaiknya.

