Kamis, April 9, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Mengerucut di Tiga Nama: Ujian Solidaritas Golkar Buru Jelang Musda VI

Oleh: Drs. Muz Latuconsina, MF.

Mengkerucutnya bursa calon Ketua DPD II Partai Golkar Kabupaten Buru menjelang Musyawarah Daerah (Musda) VI bukan sekadar dinamika administratif, melainkan cerminan dari denyut politik internal yang terus bergerak, kadang senyap namun sarat makna.

Dari empat nama yang sempat mencuat, hanya tiga figur yang akhirnya benar-benar menapakkan langkah hingga garis awal: M. Rum Soplestuny, Jaidun Sa’anun, dan Rustam Mahulete. Sementara Amrullah Madani Hentihu harus tersisih bahkan sebelum gelanggang pertarungan dibuka, lantaran tak mengembalikan berkas hingga batas waktu yang ditentukan.

Peristiwa ini, jika dibaca lebih dalam, bukan hanya soal kelengkapan dokumen. Ia adalah refleksi dari realitas politik yang lebih kompleks: tentang kesiapan, tentang soliditas dukungan, dan tentang sejauh mana mesin politik bekerja di balik layar. Dalam kontestasi internal partai, kegagalan melangkah ke tahap berikutnya sering kali menjadi penanda bahwa konsolidasi belum benar-benar kokoh, atau strategi belum sepenuhnya terbangun.

Kini, dengan tersisa tiga kandidat, arena Musda VI di Namlea berubah menjadi lebih fokus, tetapi juga lebih tajam. Tidak ada lagi ruang bagi sekadar wacana atau popularitas semu. Yang diuji adalah kekuatan riil—sejauh mana dukungan itu konkret, terukur, dan mampu diterjemahkan menjadi suara.

Lebih dari itu, momentum ini menghadirkan pertanyaan yang lebih mendasar: ke mana arah Partai Golkar Kabupaten Buru akan dibawa? Apakah Musda kali ini akan melahirkan kepemimpinan yang mampu merajut kembali soliditas internal sekaligus meningkatkan daya saing politik di tingkat daerah? Ataukah ia kembali terjebak dalam pusaran kompromi yang kerap mengaburkan arah perjuangan?

Dalam ruang-ruang konsolidasi yang kian menghangat, lobi dan manuver tentu menjadi keniscayaan. Namun di atas semua itu, ada harapan yang lebih besar dari sekadar menang atau kalah. Publik dan kader menunggu hadirnya proses yang sehat, transparan, dan bermartabat—sebuah ujian nyata bagi kualitas demokrasi internal partai.

Musda VI bukan hanya soal memilih ketua. Ia adalah panggung pembuktian: apakah Partai Golkar di Kabupaten Buru masih mampu menjaga marwah sebagai organisasi politik yang matang, atau justru larut dalam pragmatisme yang kian mengikis kepercayaan.

Pada akhirnya, dari tiga nama yang tersisa, bukan hanya satu yang akan terpilih. Yang juga akan ditentukan adalah wajah masa depan partai—apakah ia akan berdiri lebih kokoh, atau sekadar bertahan di tengah dinamika yang tak pernah benar-benar usai.

Popular Articles