Rabu, Maret 25, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Mahfuz Sidik: Eskalasi Perang Timur Tengah Ancaman Nyata Stabilitas Global | Kompas.sbs.-News

BREAKING NEWS : KOMPAS.SBS.

Mahfuz Sidik: Eskalasi Perang Timur Tengah Ancaman Nyata Stabilitas Global

MEDIAKOMPAS.SBS.-WILAYAH ACEH
KOMPAS.SBS.-NEWS || JAKARTA – Sekretaris Jenderal Partai Gelombang Rakyat (Gelora) Indonesia, Mahfuz Sidik, menegaskan bahwa eskalasi konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran telah memasuki fase perang terbuka yang berisiko meluas dan mengguncang stabilitas kawasan maupun tatanan global.

Menurut Mahfuz, perbedaan terminologi—baik disebut sebagai pre-emptive strike maupun retaliation—tidak mengubah fakta bahwa konfrontasi militer yang terjadi saat ini menunjukkan pola eskalasi serius dan sistematis.

“Kita tidak sedang menyaksikan insiden terbatas. Ini adalah perang yang berpotensi berlarut dan berdampak luas, baik secara geopolitik maupun ekonomi,” tegasnya dalam keterangan resmi, Selasa (3/3/2026).

Ia menilai, dinamika pasca-tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, justru memperlihatkan bahwa kemampuan respons militer Iran tidak melemah. Serangan balasan disebut meluas dengan menyasar kepentingan strategis dan basis militer Amerika Serikat di sejumlah negara Teluk.

Lima Risiko Strategis Perang Berlarut
1. Instabilitas Politik di Negara Teluk
Mahfuz memprediksi negara-negara seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Bahrain, dan Kuwait berada dalam posisi dilematis.

Jika mereka secara terbuka membentuk front militer bersama Israel dan AS, risiko resistensi domestik dan gejolak politik internal berpotensi meningkat. Ketegangan ini dapat memicu instabilitas baru di kawasan Teluk.

2. Runtuhnya Keseimbangan Kekuatan Kawasan
Apabila kekuatan militer Iran berhasil dilemahkan secara signifikan, Timur Tengah berpotensi kehilangan keseimbangan kekuatan. Israel akan menjadi aktor militer dominan tanpa penyeimbang strategis.

Mahfuz mengingatkan bahwa dominasi tunggal berisiko menciptakan pola intervensi dan operasi lintas wilayah yang semakin agresif dan minim kontrol regional.

3. Potensi Ekspansi Agresi Regional
Ia juga menyinggung pernyataan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, yang dalam sejumlah kesempatan menolak konsep solusi dua negara.

Dalam skenario melemahnya Iran sebagai poros perlawanan, potensi tekanan militer terhadap negara-negara seperti Lebanon, Suriah, Irak, Yordania, dan Mesir dinilai tidak bisa diabaikan.

4. Ancaman Krisis Energi dan Ekonomi Dunia
Perang berkepanjangan akan berdampak langsung pada jalur strategis energi dunia, terutama di Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb.

Gangguan di dua titik vital tersebut berpotensi memicu lonjakan harga minyak dan gas, terganggunya rantai pasok global, serta tekanan inflasi yang dapat menyeret dunia ke dalam krisis ekonomi baru.

5. Lahirnya Perang Asimetris Global
Mahfuz juga mengingatkan potensi munculnya pola perang asimetris melalui jaringan proksi dan aktor non-negara.

Konflik tidak lagi terbatas pada medan tempur konvensional, melainkan dapat menjalar ke berbagai kawasan dalam bentuk serangan tidak langsung terhadap kepentingan Israel dan Amerika Serikat.
“Perang modern bergerak ke arah yang semakin kompleks, tidak kasatmata, dan sulit diprediksi,” ujarnya.

Mahfuz menegaskan bahwa komunitas internasional harus segera mendorong de-eskalasi melalui diplomasi multilateralisme yang tegas dan terukur. Tanpa langkah cepat dan terkoordinasi, konflik ini berpotensi mengubah lanskap geopolitik global secara permanen.

~Sumber/Photo : *BIDANG HUBUNGAN MEDIA
DPP PARTAI GELORA INDONESIA*

~Reporter Perss KOMPAS.SBS.-ACEH-Novi Karno

~RedaksiNasional-KOMPAS.SBS.

Popular Articles