MAKASSAR – KOMPAS, Tabir gelap sindikat kelas kakap yang menguras BBM Solar bersubsidi di Sulawesi Selatan akhirnya terbongkar.
Bukan sekadar isu, sebuah jaringan distribusi ilegal yang terorganisir rapi diduga kuat sedang menggerogoti kuota negara.
Ironisnya, bisnis kotor ini disebut-sebut berjalan mulus di bawah “payung” perlindungan oknum aparat penegak hukum. Selasa 17/02/2026
Jaringan Gurita : Dari Lapri Hingga Galangan Kapal
Hasil investigasi Team di lapangan mengungkap rantai pasokan yang sangat sistematis.
Sosok Mansur mencuat sebagai aktor intelektual sekaligus penghubung utama.
Ia disinyalir menampung solar dari para pelansir untuk kemudian dilempar ke pasar gelap dengan keuntungan menggiurkan.
Salah satu pemasok “eksklusif” dalam lingkaran ini diduga adalah inisial (HB ) Hasbi, seorang oknum TNI AD yang bertugas di Lapri, Bone.
Modusnya tergolong berani : solar diangkut menggunakan armada tangki raksasa berkapasitas 5 hingga 10 KL, seolah-olah merupakan distribusi resmi.
Aliran solar subsidi ini bermuara di dua titik besar :
Gudang H.D : Diduga menjadi bunker raksasa penampungan puluhan ton solar ilegal.
Galangan Kapal H.K : Menjadi titik distribusi akhir di Makassar untuk menyuplai kebutuhan industri dengan harga subsidi.
Bau Busuk “Setoran” dan Backup Aparat
Eksistensi jaringan Mansur yang tak tersentuh hukum memicu kecurigaan besar.
Informasi yang dihimpun menyebutkan adanya “bunker pelindung” dari oknum kepolisian yang memastikan armada mereka melenggang bebas di jalanan.
Tak hanya itu, sosok Hasbi diduga kuat mendapat sokongan dari petinggi di instansi TNI dan Kepolisian.
Fenomena “setoran bulanan” disinyalir menjadi pelicin utama yang membuat mata para pengawas tertutup rapat, sementara kuota BBM untuk rakyat dikuras habis.
“Ini bukan sekadar pencurian biasa, ini adalah pengkhianatan terhadap rakyat kecil.
Saat petani kesulitan membajak sawah karena solar langka, para mafia ini justru berpesta pora di atas penderitaan mereka.”
Dampak Fatal : Kelangkaan Terstruktur
Akibat “permainan” gila ini, kelangkaan solar subsidi menghantam keras wilayah Makassar, Gowa, dan Maros.
Antrean panjang di SPBU menjadi pemandangan harian yang menyiksa.
Diduga kuat, ada kongkalikong antara operator SPBU dengan para pelansir untuk menguras ribuan KL solar tepat di bawah hidung publik.
Pertamina dipastikan menelan kerugian fantastis akibat kebocoran kuota ini.
Jika pengawasan tetap mandul dan ketegasan hanya menjadi slogan, maka jaringan ilegal ini akan terus menghisap darah ekonomi Sulawesi Selatan tanpa ampun.
Laporan : Team Investigasi

