Doc Foto Bupati Rote Ndao Bersama Kadis Pendidikan. 2026
ROTE NDAO | KOMPAS SBS — Pintu ruang kerja Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, S.H., Jumat (28/08/2026), silih berganti terbuka.
Hari itu, yang datang bukan hanya pejabat. Ada insan pendidikan, jajaran Badan Pusat Statistik (BPS), para petani dari Busalangga Barat dan Modosinal, perwakilan Klasis RBD, hingga teman-teman dari DPRD.
Foto pertemuan Dan Komunikasi Memastikan Pembangunan Rote Ndao Tetap Berjalan (Doc Anggota DPRD Dan Bupati Rote Ndao). 2026
Setiap pertemuan membawa cerita dan harapan yang berbeda. Namun, semuanya bermuara pada satu hal: bagaimana Rote Ndao dapat terus bergerak maju.
Agenda Paulus dimulai dengan pertemuan bersama Kepala Dinas Pendidikan dan tim BGBL.
Dalam pertemuan itu, tim BGBL mempresentasikan hasil pendampingan selama satu periode sekaligus membuka ruang diskusi mengenai peluang kolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao ke depan.
Bagi Paulus, pendidikan bukan sekadar urusan program dan angka. Penguatan sektor pendidikan membutuhkan kerja bersama dan kolaborasi dari berbagai pihak.
Dari ruang diskusi pendidikan, agenda berlanjut ke pertemuan bersama jajaran BPS.
Pembahasan kali ini berkaitan dengan pelaksanaan sensus.

Data, yang bagi sebagian orang mungkin hanya deretan angka, menjadi bagian penting dalam menentukan arah pembangunan.
Paulus menilai data yang akurat dan berkualitas harus menjadi pijakan pemerintah dalam mengambil kebijakan.
Dengan data yang tepat, pemerintah dapat melihat kondisi masyarakat secara lebih utuh dan menyusun perencanaan berdasarkan kebutuhan yang nyata.
“Setiap kebijakan pemerintah harus benar-benar berpijak pada kondisi dan kebutuhan masyarakat,” kata Paulus.
Di tengah padatnya agenda, datang pula masyarakat petani dari Busalangga Barat dan Modosinal.

Pertemuan itu menghadirkan ruang yang berbeda.
Tidak ada presentasi panjang tentang program pembangunan. Yang ada adalah cerita langsung dari masyarakat tentang kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi.
Bagi Paulus, mendengarkan masyarakat bukan sekadar agenda tambahan di sela kesibukan seorang kepala daerah.
Suara petani, menurut dia, harus mendapat tempat dalam proses pengambilan kebijakan.
“Pemerintah harus terus hadir dan memastikan suara masyarakat menjadi bagian dari proses pengambilan kebijakan,” ujarnya.
Hari belum selesai.
Agenda kemudian berlanjut dengan audiensi bersama Klasis RBD terkait pengajuan proposal pelaksanaan Sidang Klasis.
Pertemuan itu menjadi ruang untuk membangun komunikasi dan koordinasi antara pemerintah daerah dengan lembaga keagamaan dalam mendukung berbagai kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan di Rote Ndao.
Di sela-sela seluruh rangkaian kegiatan, Paulus juga menerima teman-teman dari DPRD.

Berbagai pertemuan dalam satu hari itu mempertemukan pemerintah daerah dengan banyak elemen.
Ada pendidikan, data, pertanian, keagamaan, hingga lembaga legislatif.
Semua datang dengan kepentingan dan harapan masing-masing.
Namun, Paulus melihat setiap pertemuan sebagai bagian dari proses untuk menyatukan langkah.
Baginya, pembangunan daerah tidak lahir dari kerja satu orang atau satu lembaga.
Pembangunan membutuhkan kesediaan untuk duduk bersama, mendengar, berdiskusi, dan mencari jalan keluar.
“Setiap agenda adalah kesempatan untuk mendengar, berdiskusi, mencari solusi, dan bekerja bersama,” kata Paulus.
Menjelang berakhirnya rangkaian agenda Jumat itu, satu pesan kembali mengemuka.
Rote Ndao tidak bisa dibangun sendirian.
Di balik setiap kebijakan, ada data yang harus dibaca dengan benar. Di balik program pendidikan, ada masa depan generasi yang perlu dipersiapkan. Di balik aspirasi petani, ada kehidupan keluarga yang berharap pada perhatian pemerintah.
Dan di antara semua pertemuan itu, kolaborasi menjadi kata yang terus menemukan maknanya.
Sebab, bagi Paulus Henuk, langkah menuju Rote Ndao yang maju dan sejahtera dimulai dari kesediaan untuk membuka ruang, mendengar suara, dan bekerja bersama.

