BREAKING NEWS : KOMPAS.SBS.
Aceh di titik Genting: syech wan gebrak fenomena warkop dan medsos, peringatkan krisis moral generasi yang mengancam peradaban
MEDIAKOMPAS.SBS.-WILAYAH ACEH
KOMPAS.SBS.-NEWS || BANDA ACEH, 3 April 2026 — Di balik identitasnya sebagai Serambi Mekkah, Aceh kini menghadapi ujian yang tak kasat mata namun kian mengkhawatirkan: krisis moral yang perlahan menggerus sendi-sendi kehidupan masyarakat. Peringatan ini disampaikan dengan nada tegas oleh Sekretaris Sekretariat Bersama (SEKBER) Aceh, Irwan Syahputra atau yang dikenal sebagai Syech Wan, dalam pertemuan strategis bersama Kepala Sekretariat Majelis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh, Zahrol Fajri, S.Ag., M.H.
Bukan tanpa alasan, Syech Wan menilai Aceh saat ini tengah dikepung oleh dua arus besar yang berbahaya: masuknya paham menyimpang serta merosotnya adab generasi muda—dua hal yang jika dibiarkan, dapat meruntuhkan fondasi peradaban Aceh itu sendiri.
“Ini bukan sekadar gejala sosial. Ini adalah alarm keras bagi masa depan Aceh. Kita sedang berada di titik genting,” tegasnya.
krisis yang tumbuh dari ruang sehari-hari
Kekhawatiran itu, menurut Syech Wan, bukan asumsi tanpa dasar. Ia menunjuk langsung realitas yang kini mudah ditemui di ruang-ruang publik—dari warung kopi hingga media sosial—yang justru menjadi cermin menurunnya kualitas adab.
Bahasa kasar, hilangnya rasa hormat, serta kebiasaan berkomunikasi tanpa etika kini dianggap sebagai hal lumrah, terutama di kalangan generasi muda.
“Dulu warkop adalah ruang diskusi dan silaturahmi. Hari ini, di banyak tempat, ia berubah menjadi ruang bebas tanpa batas nilai. Di media sosial lebih parah—semua merasa benar, tapi kehilangan adab,” ujarnya.
Fenomena kecanduan game dan dunia digital turut memperparah situasi, menciptakan generasi yang cerdas secara teknologi, namun rapuh dalam karakter.
ketika kecerdasan tak lagi bertumpu pada akhlak
Dalam pernyataannya, Syech Wan mengangkat prinsip klasik yang kini terasa semakin relevan: “Al-Adabu Fauqal ‘Ilmi”—adab di atas ilmu.
Ia menyoroti arah pendidikan yang dinilai terlalu menitikberatkan pada capaian intelektual, tetapi mengabaikan pembentukan akhlak dan kepribadian.
“Kita bangga dengan angka-angka akademik, tapi lupa menanamkan adab. Kita sedang mencetak generasi yang tahu banyak hal, tapi tidak tahu bagaimana bersikap,” katanya.
Ia bahkan mengingatkan melalui analogi yang menggugah kesadaran:
“Syaitan itu berilmu, tapi kesombongan menghancurkannya. Hari ini, kita melihat gejala yang sama—ketika ilmu tidak lagi dibingkai oleh iman dan adab.”
keluarga: benteng terakhir yang mulai rapuh
Lebih jauh, Syech Wan menegaskan bahwa akar persoalan ini bermula dari melemahnya peran keluarga. Ia menyebut keluarga sebagai “titik nol” pembentukan karakter yang kini mulai kehilangan kekuatan.
Nilai-nilai indatu—yang dahulu menjadi fondasi pembinaan akhlak—perlahan tergerus oleh gaya hidup modern yang serba instan.
“Kalau rumah tidak lagi menjadi tempat menanam adab, maka di luar anak-anak kita akan kehilangan arah,” ujarnya.
saatnya kebijakan berani, bukan sekadar retorika
Melihat kondisi tersebut, Syech Wan mendesak Pemerintah Aceh untuk tidak lagi bergerak dalam tataran wacana. Ia menekankan pentingnya kebijakan strategis yang konkret, sistematis, dan menyentuh akar persoalan.
Menurutnya, pendekatan seremonial sudah tidak relevan menghadapi krisis yang bersifat struktural ini.
“Kita butuh keberanian kebijakan. Ini bukan soal program jangka pendek, tapi penyelamatan jangka panjang. Masa depan Aceh sedang dipertaruhkan,” tegasnya.
Ia juga menilai pengalaman Zahrol Fajri di bidang syariat dan pendidikan dayah menjadi modal penting dalam merumuskan langkah-langkah strategis tersebut.
mempertahankan marwah atau kehilangan jati diri
Di ujung pernyataannya, Syech Wan menyampaikan refleksi mendalam: Aceh kini berada di persimpangan sejarah.
Apakah tetap berdiri sebagai wilayah yang menjunjung tinggi nilai Islam dan adab, atau perlahan kehilangan jati diri di tengah arus globalisasi yang tak terbendung.
“Jika akidah melemah dan akhlak runtuh, maka tidak ada lagi yang bisa kita pertahankan. Aceh akan kehilangan maknanya,” ujarnya.
Dengan nada penuh tekanan moral, ia menutup dengan seruan yang menggugah:
“Ini bukan lagi pilihan, ini keharusan. Rekonstruksi moral harus dimulai hari ini. Jika tidak, kita bukan hanya kehilangan generasi—kita kehilangan masa depan.”
~Reporter/Perss KOMPAS.SBS.-Wilayah Sabang (MJ Eric Karno)
~Sumber/Photo : Irwansyah Aceh
~Rilis/RedaksiNasional : KOMPAS.SBS.
