ROTE NDAO | KOMPAS.SBS — Rangkaian kegiatan memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-20 Persekutuan Doa Sinode GMIT di Kabupaten Rote Ndao tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat kehidupan iman, tetapi juga diwujudkan melalui kepedulian terhadap lingkungan.
Hal tersebut terlihat dalam rangkaian kegiatan yang diikuti Bupati Rote Ndao, Paulus Henuk, SH, bersama Sekretaris Daerah (Sekda), para kepala perangkat daerah, Wakil Ketua Sinode GMIT, tokoh agama, Danlanal Pulau Rote beserta jajaran, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan diawali pada pagi hari dengan ibadah sekaligus pembukaan rangkaian HUT ke-20 Persekutuan Doa Sinode GMIT yang berlangsung di GMIT Siloam Metina.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati Paulus menekankan pentingnya doa sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan umat, keluarga, gereja, maupun masyarakat.
Menurutnya, doa bukan sekadar kegiatan tambahan dalam kehidupan iman, melainkan menjadi kekuatan spiritual dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi bangsa, Paulus mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus mendoakan Indonesia, Nusa Tenggara Timur, dan Kabupaten Rote Ndao.
Ia meyakini, persekutuan doa yang dilakukan dalam lingkup kecil dapat berkembang menjadi gerakan iman yang besar apabila dilaksanakan dengan ketulusan, konsistensi, dan semangat kebersamaan.
“Melalui persekutuan doa, kita turut membangun regenerasi iman dan menanamkan nilai-nilai Kristiani kepada generasi penerus,” demikian pesan yang disampaikan dalam momentum tersebut.
Sebelum mengikuti kegiatan penanaman mangrove, Bupati Paulus juga mengunjungi Lanal Pulau Rote untuk bersilaturahmi dengan Danlanal dan jajaran.
Kunjungan tersebut menjadi momentum untuk mempererat hubungan kelembagaan sekaligus membangun komunikasi dan sinergi dalam mendukung berbagai upaya pembangunan serta pelayanan kepada masyarakat Kabupaten Rote Ndao.
Hubungan dan kolaborasi antara pemerintah daerah dengan berbagai unsur, termasuk TNI AL, dinilai penting untuk memperkuat kerja bersama dalam menjawab berbagai kebutuhan masyarakat.
Pada sore hari, Bupati bersama Sekda, para kepala perangkat daerah, Wakil Ketua Sinode GMIT, tokoh agama, Danlanal Pulau Rote dan jajaran melanjutkan kegiatan dengan penanaman mangrove di kawasan Derenitan.
Kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan beriringan dengan kehidupan iman dan pelayanan kepada masyarakat.
Penanaman mangrove merupakan bentuk kepedulian bersama terhadap kelestarian kawasan pesisir sekaligus upaya menjaga lingkungan agar tetap memberikan manfaat bagi generasi mendatang.
Bagi masyarakat wilayah kepulauan seperti Rote Ndao, keberadaan ekosistem pesisir memiliki arti penting. Karena itu, keterlibatan pemerintah, gereja, aparat, tokoh agama, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran bersama untuk menjaga lingkungan.
Bupati Paulus berharap semangat kebersamaan dan gotong royong tersebut terus tumbuh di tengah masyarakat.
Ia menilai, menjaga lingkungan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.
Dari rangkaian kegiatan tersebut, pesan yang dibangun cukup sederhana: doa tidak berhenti pada kata-kata, tetapi harus melahirkan tindakan nyata yang membawa kebaikan bagi sesama dan lingkungan.
“Dari Rote Ndao, mari kita terus menghadirkan tangan-tangan yang terangkat, lutut-lutut yang bertelut, dan hati yang terbuka untuk berdoa bagi Indonesia, NTT, dan daerah yang kita cintai ini,” pesan Paulus.
Ia juga berharap Persekutuan Doa Sinode GMIT semakin bertumbuh dalam pelayanan, memperkuat persaudaraan, serta menjadi berkat bagi gereja, pemerintah, dan seluruh masyarakat.

