Top 5 This Week

Related Posts

Bukan Sekadar Film, “Paraf Terakhir” Jadi Cara Baru Inspektorat Tulungagung Sebarkan Pesan Antikorupsi

 

TULUNGAGUNG, KOMPAS.SBS— Pesan antikorupsi tak selalu harus disampaikan dari ruang seminar, mimbar sosialisasi atau lembaran materi. Inspektorat Kabupaten Tulungagung memilih cara yang lebih kreatif dengan menggandeng sineas muda lokal untuk menyampaikan pesan integritas melalui film pendek berjudul “Paraf Terakhir”.

Film tersebut resmi diluncurkan pada Kamis (24/9/2026) sore. Karya ini merupakan hasil kolaborasi Inspektorat Kabupaten Tulungagung dengan sineas muda yang tergabung dalam ANONEMA, sekaligus menjadi salah satu inovasi dalam memperluas pendidikan antikorupsi kepada masyarakat.

Inspektur Kabupaten Tulungagung Esty Purwantik, S.H., M.H., C.G.C.A.E., mengatakan penyampaian pesan antikorupsi membutuhkan pendekatan yang semakin beragam. Menurutnya, media kreatif seperti film dapat menjadi sarana untuk mendekatkan nilai-nilai integritas kepada masyarakat.

“Kami ingin pesan antikorupsi tidak hanya disampaikan melalui kegiatan formal, tetapi juga melalui media yang dekat dengan masyarakat. Film menjadi salah satu cara untuk mengajak masyarakat memahami pentingnya kejujuran, integritas dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari,” kata Esty.

Ia menambahkan, pencegahan korupsi bukan semata-mata menjadi tugas aparat pengawasan. Menurutnya, membangun budaya integritas membutuhkan keterlibatan seluruh unsur masyarakat.

“Membangun budaya antikorupsi adalah tanggung jawab bersama. Karena itu, kami sangat mengapresiasi kreativitas anak-anak muda Tulungagung yang mau ikut menyuarakan nilai-nilai integritas melalui karya film,” ujarnya.

Kolaborasi dengan ANONEMA menjadi bagian menarik dari peluncuran Paraf Terakhir. Sineas muda tidak hanya ditempatkan sebagai pembuat konten, tetapi dilibatkan untuk menerjemahkan pesan pendidikan antikorupsi ke dalam bahasa visual yang lebih mudah diterima publik.

Bagi Inspektorat, pendekatan tersebut penting karena pencegahan korupsi tidak cukup dilakukan setelah terjadi pelanggaran. Kesadaran untuk menolak penyimpangan harus dibangun sejak awal, baik di lingkungan pemerintahan maupun di tengah masyarakat.

“Kami berharap film ini tidak berhenti sebagai sebuah karya, tetapi bisa menjadi media untuk mengingatkan kita semua bahwa integritas dimulai dari hal-hal sederhana. Kejujuran, keberanian berkata benar dan tidak menyalahgunakan kepercayaan merupakan bagian penting dari pencegahan korupsi,” tegas Esty.

Langkah tersebut sejalan dengan berbagai program Inspektorat Tulungagung dalam memperkuat budaya integritas. Inspektorat sebelumnya juga menjalankan Safari Integritas dan mendorong penguatan kapasitas Penyuluh Antikorupsi melalui program PAKSI 2026.

Melalui film Paraf Terakhir, kampanye antikorupsi kini dibawa ke ruang digital. Masyarakat dapat menyaksikan film tersebut melalui YouTube sekaligus ikut memperluas jangkauan pesan dengan memberikan komentar, menyukai, berlangganan, dan membagikannya.

Esty berharap karya kolaboratif tersebut dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak pihak untuk ikut mengambil bagian dalam gerakan membangun budaya integritas.

“Kami berharap semakin banyak masyarakat, khususnya generasi muda, yang ikut menjadi bagian dari gerakan antikorupsi. Tidak harus selalu dengan cara yang besar. Karya, kreativitas dan keteladanan juga bisa menjadi cara untuk menyebarkan nilai-nilai antikorupsi,” pungkasnya.

Film “Paraf Terakhir” sekaligus memperlihatkan bahwa kampanye antikorupsi bisa dikemas dengan berbagai pendekatan. Ketika pesan serius disampaikan melalui karya kreatif, ruang edukasi menjadi lebih luas dan dapat menjangkau masyarakat yang selama ini mungkin tidak tersentuh sosialisasi formal.

Bagi Tulungagung, kolaborasi Inspektorat dan sineas muda ANONEMA ini menjadi bagian dari ikhtiar memperkuat budaya “Berani Jujur Hebat”—bahwa pencegahan korupsi bukan hanya urusan lembaga pengawasan, tetapi merupakan gerakan bersama yang dimulai dari setiap individu.(an)

Popular Articles