INDRAMAYU, Kompas.sbs – Prestasi membanggakan ditorehkan Raya Samudra Bening, mahasiswa Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) asal Indramayu, Jawa Barat, dalam ajang 3rd International Student Summit yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia.
Mahasiswa berusia 20 tahun itu bersama dua rekan satu timnya, Asy’ari Faza Fauzan asal Semarang dan Muhammad Ahdi asal Banjarmasin, berhasil membawa pulang tiga penghargaan sekaligus.
Ketiganya meraih Juara 2 Kategori Umum, Best Paper Essay, serta Gold Medal untuk tema Tourism & Culture atau juara pertama kategori tersebut.
Prestasi itu diraih melalui karya inovasi berjudul “PUNCAK WATCH: Development A LoRa GPS Based Smartwatch as a Trail Navigation and Emergency Position Detection for Mountain Hikings Tourists in Indonesia.”
Karya tersebut mengangkat gagasan pengembangan smartwatch berbasis teknologi LoRa dan GPS yang dirancang untuk membantu navigasi jalur pendakian sekaligus mendeteksi posisi dalam kondisi darurat bagi wisatawan yang melakukan pendakian gunung di Indonesia.
Bagi Raya, capaian tersebut bukan sekadar penghargaan dalam sebuah kompetisi internasional. Prestasi itu menjadi kesempatan untuk membawa nama daerah asalnya, Indramayu, ke panggung internasional melalui inovasi yang dikembangkan bersama tim.
“Saya tentu sangat bangga bisa membawa nama Universitas Muhammadiyah Semarang sekaligus nama Indramayu di ajang internasional. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya dan tim,” kata Raya, Senin (14/09/2026).
Menurut Raya, gagasan PUNCAK WATCH berangkat dari perhatian terhadap aspek keselamatan wisatawan, khususnya mereka yang melakukan aktivitas pendakian gunung.
Teknologi LoRa dan GPS dalam inovasi tersebut dikembangkan untuk mendukung navigasi serta membantu mengetahui posisi pendaki ketika menghadapi situasi darurat.
“Yang kami angkat adalah bagaimana teknologi dapat digunakan untuk memberikan rasa aman bagi wisatawan, terutama pendaki gunung. Kami berharap inovasi ini nantinya tidak hanya berhenti sebagai karya lomba, tetapi bisa terus dikembangkan,” ujar Raya.
Ajang 3rd International Student Summit mempertemukan mahasiswa dari berbagai negara. Kompetisi tersebut melibatkan peserta dari sejumlah negara, di antaranya Indonesia, Timor Leste, Gambia, Singapura, Malaysia, Myanmar, Thailand, Filipina, Vietnam, Suriah, China, Kenya, dan Turkmenistan.
Terdapat sekitar 100 tim dari berbagai perguruan tinggi yang mengikuti kompetisi tersebut.
Kegiatan berlangsung pada 12 September 2026 di Alamis City Kuala Lumpur, Malaysia, yang sebelumnya dikenal sebagai EDC Hotel Kuala Lumpur. Kegiatan diselenggarakan oleh Sentosa Foundation bersama UPM.
Raya dan tim harus bersaing dengan peserta dari berbagai perguruan tinggi dan negara dalam mempresentasikan gagasan inovasi mereka.
Ia mengatakan proses mengikuti kompetisi internasional tersebut memberikan pengalaman baru, terutama dalam menyampaikan gagasan di hadapan peserta dan penilai dari latar belakang yang beragam.
“Bersaing di tingkat internasional tentu berbeda. Kami harus mempersiapkan karya, presentasi, dan menjelaskan inovasi yang kami buat agar dapat dipahami oleh juri,” katanya.
Raya berharap capaian tersebut dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa dan pelajar asal Indramayu lainnya untuk berani mengembangkan potensi dan mengikuti berbagai kompetisi hingga tingkat internasional.
Menurut dia, keterbatasan daerah asal bukan alasan untuk berhenti bermimpi dan berprestasi.
“Semoga prestasi ini bisa menjadi motivasi bagi teman-teman pelajar dan mahasiswa di Indramayu. Jangan takut mencoba dan jangan merasa minder untuk bersaing. Kita juga punya kesempatan untuk membawa nama Indramayu ke tingkat nasional maupun internasional,” tutur Raya.
( Saimin )

