ROTE NDAO | KOMPAS.SBS — Isak tangis pecah di tengah suasana duka saat jenazah Wili Mbuik, aparatur sipil negara (ASN) yang menjadi korban penembakan di Papua Pegunungan, tiba di kampung halamannya di Kelurahan Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (11/09/2026) sore.
Ribuan warga yang telah menanti sejak siang turut menyambut kepulangan jenazah. Tangis keluarga dan kerabat pecah ketika peti jenazah diturunkan dari kendaraan, menandai kepulangan terakhir Wili Mbuik ke tanah kelahirannya.
Suara sirene terdengar sekitar pukul 15.00 WITA. Warga berbaris di sepanjang jalan menuju rumah orang tua Wili, Daniel Mbuik, untuk memberikan penghormatan terakhir.
Peti jenazah Wili yang dibungkus bendera Merah Putih kemudian dibawa menuju rumah duka. Suasana haru menyelimuti prosesi tersebut ketika keluarga, kerabat, dan masyarakat menyaksikan kepulangan Wili setelah meninggal dunia dalam peristiwa penembakan di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Wili merupakan satu dari tiga ASN Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang menjadi korban penembakan di Distrik Muliama pada Rabu (09/09/2026). Dua korban lainnya adalah Aprida Rapi (49) dan Alfonsius Albinus Meha (35).
Berdasarkan informasi kepolisian, ketiga korban berada dalam perjalanan kembali menuju Wamena setelah menjalankan tugas kedinasan, termasuk mengantarkan bantuan pangan berupa ternak kepada masyarakat. Mereka kemudian diserang saat melintas di wilayah Distrik Muliama.
Jenazah Wili sebelumnya dievakuasi dari Jayawijaya menuju Jayapura pada Kamis (10/09/2026), kemudian diterbangkan menuju Kupang untuk dipulangkan ke kampung halamannya.
Setibanya di Rote Ndao, jenazah Wili dijemput Pemerintah Kabupaten Rote Ndao bersama jajaran kepolisian dari Polres Rote Ndao.
Dalam prosesi penyerahan, Penjabat Sekretaris Daerah Rote Ndao, Danial W. Nalle, menyerahkan jenazah kepada perwakilan keluarga yang diwakili Kepala Suku Takatein, Joni Muda.
Penyerahan berlangsung dalam suasana haru. Keluarga dan masyarakat memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah dibawa ke rumah duka di Kelurahan Busalangga.
Jenazah Wili selanjutnya disemayamkan di rumah keluarga untuk menunggu prosesi pemakaman sesuai keputusan keluarga.
Bagi keluarga, kepulangan Wili menjadi momen yang sangat berat. Sebab, pemuda asal Rote Ndao tersebut disebut baru saja meraih salah satu cita-citanya untuk menjadi aparatur sipil negara.
Menurut keterangan keluarga, Wili telah berada di Papua selama sekitar tiga tahun dan mengikuti seleksi CPNS. Keluarga menyebut Wili dinyatakan lolos dan menerima keputusan pengangkatan sebagai CPNS pada Juli 2026.
Setelah menerima keputusan tersebut, Wili sempat melakukan video call dengan orang tuanya untuk menyampaikan kabar pengangkatannya.
Keluarga mengatakan Wili memiliki keinginan untuk membantu kedua orang tuanya setelah memperoleh pekerjaan sebagai ASN.
“Dia memiliki motivasi untuk berbuat yang terbaik bagi orang tua. Setelah menerima keputusan pengangkatan sebagai CPNS, dia sempat menyampaikan kepada orang tua bahwa dirinya sudah diangkat. Dia berharap bisa membantu kebutuhan hidup orang tua,” kata anggota keluarga.
Harapan tersebut kini berubah menjadi duka setelah Wili meninggal dunia dalam perjalanan menjalankan tugas kedinasan.
Di tengah suasana duka, keluarga Wili meminta aparat penegak hukum mengungkap secara transparan seluruh rangkaian peristiwa yang menyebabkan Wili bersama dua rekannya meninggal dunia.
Keluarga ingin mengetahui secara jelas apa yang terjadi sebelum, saat, dan setelah penembakan, termasuk pihak yang bertanggung jawab atas peristiwa tersebut.
“Peristiwa ini bisa terbuka sehingga kami keluarga juga bisa mendapatkan kejelasan, baik mengenai kronologi maupun sebab-akibat dari kematian anak kami bersama dengan dua orang seniornya,” kata perwakilan keluarga.
Keluarga juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan, Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, Pemerintah Provinsi NTT, dan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao yang membantu proses evakuasi hingga pemulangan jenazah Wili.
Namun, keluarga menegaskan bahwa pemulangan jenazah bukan akhir dari persoalan. Mereka berharap aparat mengusut kasus tersebut hingga tuntas dan memproses pihak yang terbukti bertanggung jawab sesuai hukum.
Bagi keluarga dan masyarakat Rote Ndao, kepulangan Wili menjadi akhir dari perjalanan seorang anak daerah yang pergi ke Papua dengan membawa harapan untuk membangun masa depan dan membantu keluarganya.
Kini, Wili telah kembali ke tanah kelahirannya dalam peti jenazah yang dibalut Merah Putih.
Keluarga berharap kematian Wili tidak berhenti pada prosesi pemulangan dan pemakaman. Mereka meminta pemerintah serta aparat penegak hukum mengungkap perkara tersebut secara terang, memberikan kepastian hukum, dan menindak pihak yang terbukti bertanggung jawab.

