Kamis, April 9, 2026
HARGA IKLAN

Top 5 This Week

Related Posts

Buku Asa dan Rasa Diluncurkan, Jadi Cermin Setahun Kepemimpinan NTT

Kompas.Sbs-KUPANG — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menghadiri peluncuran buku Asa dan Rasa: Refleksi Setahun Ayo Bangun NTT yang dirangkaikan dengan diskusi publik di Aula Utama El Tari, Kupang, Kamis (9/4/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh berbagai kalangan, mulai dari pejabat pemerintah daerah, akademisi, anggota DPRD, hingga masyarakat umum. Hadir pula Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma serta editor buku Rudi Rohi.

Peluncuran buku ini menjadi bagian dari upaya reflektif atas satu tahun awal kepemimpinan Melki–Johni dalam membangun NTT, sekaligus membuka ruang dialog antara pemerintah dan masyarakat.

Buku Asa dan Rasa menghadirkan refleksi dari berbagai kalangan mengenai perjalanan pembangunan daerah. Isi buku menyoroti bagaimana janji dan harapan politik mulai bergerak menuju realitas di tengah dinamika sosial yang dihadapi masyarakat.

Dalam pengantarnya, buku ini menegaskan bahwa refleksi dilakukan secara terbuka dan melibatkan beragam perspektif. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa jarak antara “asa” (harapan) dan “rasa” (pengalaman nyata masyarakat) tidak statis, melainkan terus bergerak—kadang mendekat, namun juga berpotensi menjauh jika tidak dikelola secara tepat.

Buku ini juga memuat evaluasi terhadap program prioritas, termasuk quick wins dan tujuh pilar pembangunan, yang disajikan secara populer dan berbasis kondisi empiris di lapangan.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki menekankan bahwa buku ini tidak sekadar menjadi dokumentasi kinerja pemerintah, tetapi merupakan ruang refleksi bersama antara negara dan warga negara.

“Buku ini menjadi pertemuan antara negara dan masyarakat untuk bersama-sama memahami dan merasakan apa yang telah dikerjakan,” kata Melki.

Ia menambahkan bahwa pembangunan harus berakar pada identitas, budaya, dan realitas sosial masyarakat. Kesadaran akan “akar dan bumi” dinilai penting agar arah kebijakan tidak terlepas dari konteks lokal.

Menurutnya, pembangunan yang berkelanjutan memerlukan tiga fondasi utama, yakni perencanaan yang matang, pelaksanaan yang konsisten, dan evaluasi yang berkelanjutan.

Lebih jauh, buku ini juga menyoroti upaya pemerintah dalam membangun ekosistem pembangunan yang bertujuan memuliakan rakyat. Hal tersebut diwujudkan melalui penguatan ekonomi kerakyatan, pengembangan sektor-sektor pokok, serta ekonomi biru yang berbasis potensi kelautan.

Selain itu, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui reformasi birokrasi dan digitalisasi pemerintahan, serta penguatan sektor pendidikan dan kesehatan.

Gubernur Melki mengakui bahwa ekosistem yang dibangun masih membutuhkan waktu dan energi yang besar. Namun, ia menilai langkah awal yang ditempuh telah menunjukkan arah yang positif.

Diskusi publik yang menyertai peluncuran buku berlangsung secara terbuka dan interaktif. Forum ini menghadirkan berbagai pandangan, baik yang bersifat optimistis, pesimistis, maupun kritis terhadap jalannya pemerintahan.

Editor buku, Rudi Rohi, menilai bahwa refleksi yang dihimpun dalam buku ini menunjukkan adanya pergerakan menuju realitas, meskipun belum sepenuhnya menjawab seluruh harapan masyarakat.

“Refleksi ini memperlihatkan bahwa arah sudah terbentuk, tetapi tetap membutuhkan konsistensi dan penguatan implementasi ke depan,” ujarnya.

Ia juga menekankan bahwa pembaca memiliki ruang interpretasi dalam memaknai isi buku sebagai bagian dari proses refleksi bersama.

Peluncuran buku ini tidak hanya menjadi momentum evaluasi, tetapi juga ajakan untuk membangun budaya literasi di tengah masyarakat.

Melalui forum ini, pemerintah dan masyarakat diharapkan dapat terus membangun dialog yang sehat, terbuka, dan berkelanjutan dalam merumuskan arah pembangunan daerah.

Ke depan, tantangan pembangunan di NTT dinilai memerlukan pendekatan yang kolaboratif dan adaptif dengan melibatkan seluruh elemen masyarakat. Budaya refleksi juga diharapkan menjadi bagian penting dalam mengevaluasi kebijakan sekaligus menjadikan kritik sebagai energi perbaikan.

Dengan demikian, buku Asa dan Rasa tidak hanya menjadi catatan perjalanan, tetapi juga cermin bersama dalam menilai dan mengarahkan masa depan pembangunan Nusa Tenggara Timur.YH

Popular Articles